About My Pain

About My Pain
Chapter Fourty Five



Suara telpon seseorang menghentikan keheningan di studio dan anehnya semua orang menatap Maria, penasaran. Maria tidak bisa menahan keningnya agar tidak berkerut. 'Kenapa mereka menatapku seperti itu?' Tanyanya dalam hati.


"Maria! Maria!" Kini suara pembawa acara yang membuatnya mengalihkan pandanganya dari para penonton. "Handphone mu, berbunyi."


Awalnya Maria tidak mengeri, lalu dia mengutuk dirinya sendiri yang kelewatan bodoh, sampai tidak menyadari dari tadi handphone nya lah yang berbunyi.


"O..oh.." dengan ceoat Mraia mengambil handphone dalam tas kecilnya. Dia berniat langsung mematikan panggilan itu, tapi melihat ID dilayar, Maria mengurungkan niatnya.


Telpon itu dari Alfy. Dia sedikit tidak percaya. Maria pikir Alfy tidak memiliki nomor telponnya karena tidak pernah calon mantan suaminya itu menelponnya.


"Maaf, Alfy menelpon." Izin Maria pada pak produser yang langsung diangguki. Maria berniat bangun dari duduknya, tapi kepala produser itu menggeleng, mengisyaratkan Maria agar tidak pergi dari tempatnya.


Apa pria itu secara tidak langsung menyuruh Maria menerima panggilan Alfy di sini? Di depan semua orang? Di depan kamera live? Apa dia benar-benar sudah gila? Apa produser itu sedang mencari mati? Pria hampir tua itu tidak tahu saja bagaimana kalau Alfy sudah marah.


Sepertinya pak produser itu mulai mengibarkan bendera berperang. Lihat saja senyum licik sudah kembali.


'Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Mati saja lah kau pak produser.' Maria menerima panggilan telpon Alfy.


"Hallo..."


"..." tidak ada sahutan dari Alfy. Sepertinya handphonenya tidak sengaja menyentuh panggilan ke handphonenya.


"Alfy...?" Panggil Maria dan Alft berusahja sadar dari lamunannya.


"Ap..apa yang kau lakukan di sana? Cepat pergi!"


"Maaf Alfy. Awalnya aku pikir waeancara ini hanya ingin menanyakan alasanku berhenti dari dunia hiburan, tapi ternyata tidak." Adu Maria .


Entah itu akan berpengaruh pada Alfy atau tidak, yang jelas itu sangat berpengaruh pada pak produser. Pria berambut botak di tengah itu mulai menegang dan wajahnya memucat. Maria juga yakin saat ini tangannya sudah basah.


Andai Maria bisa tertawa sekarang, dia pasti akan berhenti kalau perutnya sudah sakit. Bagaimana tidak, pria tua yang angkuh itu baru mulai takut setelah macan mununjukan gigi taringnya. 'Jahat sekali kau, Maria.'


"Maaf!" Lagi Maria meminta maaf pada Alfy lagi, takut pria itu tidak mrndengar kata maafnya.


"Pergi dari sana. Sekarang!" Maria menjauhkan handphone dari telinganya. Alfy berteriak di kata 'sekarang' dan semua penonton meringis melihatnya.


Maria sangat tahu. Sekarang Alfy sedang manaham amarahnya, tapi dia tidak bisa main pergi saja dari sini, bagaimana pun juga dia harus memiliki rasa profesional. Lagi pula dia tidak ingin mencoreng nama baiknya, setidaknya setelah dia mendapatkan pengganti Alfy.


"Apa? Kau mau menjemputku? Tidak usah. Aku yang akan menjelaskan pada mereka. Jangan khawatir, sayang. Kau lebih baik kembali bekerja. Byeee.." Maria ingin cepat menghentikan panggilan Alfy, diabtidak tahu harus bagaimna lagi selalin menghindari Alfy.


"Maria, jangan main-main!" Dengar Alfy sudah mengeluarkan ancamannya, Maria harus cepat.


"Love you tooo..." Maria mematikan telpon Alfy lebih dulu dan menghela nafas leganya. Alfy pasti sedang menyupahi Maria dan mengabsen hewan di kebun binatang.


Maria juga melihat produser acara yang membuang nafas leganya, tanganya pun sudah mengelus dadanya. Maria memberi isyarat pada produser, seperti 'berterimakasihlah padaku, pak produser.!' Dan pria itu langsung mencari pandangan lain.


Jangan berharap berlebihan, kalau kau tidak memilik kekuasaan besar!


Dan jangan melakukan hal bodoh tanpa pikir, kalau kau tidak memilik! kekuasaan!


●°●


Maria menatap wanita cantik berpakaian formal di hadapnnya. Bukan hanya sekedar cantik, ayahnya mengatakan wanita itu sangat pintar dan berpengalaman membela kliennya di dalam ruang sidang.


"Perkenalkan. Nama ku, Alma Hunter." Pengecara pilihan ayahnya mengulurkan tangannya dengan senyuman di bibirnya.


Setelah pulang dari wawancara supir ayahnya membawa Maria kesalah satu gedung firma hukum terbesar di Indonesia dan memberikan satu kartu nama. Supir itu bilang, itu perintah ayahnya, jadi Maria hanya mengikuti perintah ayahnya.


"Maria Nuan Yoan, tapi sebentar lagi kembalu Ollyfi." Jawab Maria sedikit membuat candaan agar tidak terlalu canggung. Karena Maria bisa melihat wanita bernama Alma itu sangat kaku.


Alam mempersilahkan Maria duduk di sofa yang sudah tersedia di dalam ruangannya. Maria mengangguk dan duduk di salah hadapan Alma.


"Jadi bisa kau jelaskan hubunganmu dengan suamimu?" Super to the poin. Tidak ada ada basa basi. Langsung ke inti.


'Wanita membosankan.' Itu yang bisa Maria dapatkan saat pertama kali berbicara dengan  Alma.


Walaupun begitu mulutnya langsung menceritakan semua yang terjadi padanya, tanpa berbohong. Maria merasa seperti di hipnoptis.


Tanpa sadar air mata sudah menetes. Perasaan sedikit lega menyebar ke seluruh dadanya. Beban terberatnya lepas begitu saja.


Seharusnya seperti ini. Seharusnya dati dulu Maria punya teman yang bisa mendengarkan semua cerita san keluhan di hatinya.


"Cukup! Saya mengerti." Alam menggengam tangan Maria. Memberikan kekuatan pada Maria dari genggaman itu.


Mari menghapus jejak air matanya. Seharusnya dia sudah tidak menangis lagi. Bodoh. Pria di dunia ini bukan hanya Alfy.


Tiba-tiba saja ada seseorang masuk ke dalam ruangan Alma. Pria bertubuh tinggi, juga tampan. Pakaiannyapun tidak kalah formal dari Alma.


"Alma__" dan perkataan pria itu terhenti mendapati orang lain di ruangan Alma.


Maria  menelan selivanya. Dia malu sekali pria itu melihatnya sedang menangis.


"Apa yang kau lakukan? Keluar!" Usir  Alma pada pria itu.


"Aku mau bicara sesuatu," pria itu sebrsikukuh tidak ingin keluar dari ruangan Alma.


"Almer, keluar! Atau aku akan membunuhmu!" Ancam Alma, tapi pria bernama Almer itu tidak ingin keluar dan malam duduk di sebelah Alma mengulurkan tangannya pada Maria.


Maria mengerutkan keningnya, tidak mengerti. Alma mengerti kebingungan Maria, langsung mecubit tangan pria itu dan sekarang mereka mulai berdebat.


Maria memperhetikan mereka berdua. Yang ingin bercerai dia, tapi kenapa kedua orang itu yang berantem?


Ada hubungan apa sebenarnya kedua orang ini? Mereka berdua terlihat serasi, walaupun sedang berdebat.


Akhirnya Maria bangun dari duduknya, ingin pergi. Bukan kesal, dia hanya ingin membiatkan mereka menyelesaikan perdebatan mereka.


"Tunggu!" Suara Alma menghentikan langkah Maria. "Apa kau sudah berhubungan intim dengannya?" Tanya Alma.


Maria menatap kedua orang itu yang menunggu jawabannya, pipi Maria terasa panah di tanya seperti itu, bagaimanapun juga hubungan intim masih terasa asing untuknya. Ia mengangguk dengan gugup, lalu berdiri dari duduknya.


"Sudah. Lebih baik kalian selesaikan perdebatan kalian, aku akan pulang lebih dulu. Bukankah sudah selesai pembicaraan kita Alma?" Maria berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ya..yah.." jawab Alma. Maria tersenyum dan kemudia meninggalkan kedua orang itu yang melanjutkan perdebatannya.


Maria tersenyum dan merasa mereka sangat so sweet dengan segala perdebatan mereka. Sungguh pasangannya yang menyenangkan.



Ig author : @dalaeliani


Jangan lupa mampir gaes🤭