About My Pain

About My Pain
Chapter Thirty Seven



Alfy menatap punggung Maria yang sedang berbicara dengan pemilik boat. Alfy tidak ingin tahu apa yang Maria bicarakan dengan pria berumur itu, yang jelas Alfy ingin sekali sampai dan meluruskan punggungnya.



Walaupun dia hanya menaiki pesawat dua jam, tapi entah kenapa perjalanan ini lebih melelahkan di banding pergi ke Amerika. Mungkin karena hanya ada keheningan di antara keduanya.



Yah, selama dua jam peneebangan Alfy dan Maria sama-sama tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Entah Maria yang takut salah bicara atau Alfy yang tidak ingin membuat Maria keras kepala karena dia mengajak Maria bicara lebih dulu.



"Ayo, Alfy!" Teriakan Maria membuat Alfy tersadar dari lamunannya.



Alfy melihat Maria audah berada di atas boat putih. Lihat! Bahkan Alfy tidak tahu kapan Maria naik ke atas boat itu. Dia langsung ikut naik ke atas boat kalau tidak dia akan tertinggal sendiri karena begitu Maria memanggilnya pengendara boat sudah menyalakan mesin.



Boat membawa Maria dan Alfy ke salah satu pulau indah di Indonesia.



"WELCOME IN NIKOI ISLANDDDDD..."



Maria berlari di pinggiran pantai. Kaki putih tanpa alas menginjak pasir pantai yang lembut dan rentangan tangannya.



Tanpa Maria sadari Alfy berdiri kaku di tempatnya, mendengar pulau yang sedang diinjaknya saat ini. Nama pulaunya bukan lagi terdengar sedikit asing, tapi Alfy sangat tahu pulau Nikoi.



"Alfy! Kenapa kau melamun?"



Alfy merasa seperti kembali bisa bernafas setelah tenggelam di lautan masa lalu, di dalam pikirannya. Dan itu karena Maria yang tanpa ia sadari sudah berada di depannya sambil melambaikan tangan lentiknya.



"Ada apa? Sudah tidak asing lagi mendengar nama Nikoi?"



Tidak menunggu jawaban Alfy, Maria berjalan pelan meninggali pria itu.



Tapi Alfy tidak menjawab pertanyaan Maria dan malah mengikuti berjalan perlahan di belakang Maria, seolah seorang bodyguard sedang menjaga bossnya. Alfy menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mukut Maria.



"Yunna, sangat beruntung."



"Kenapa kau membawa nama Yunna?"



"Karena dia memang orang yang beruntung." Maria melihat Alfy sebentar, kemudian kembali melihat pasir.



Sedangkan Alfy memperhatikan jejak kaki Maria di pasir dengan keritan di keningnya. Kenapa Maria selalu bilang Yunna orang yang beruntung? Seharusnya Alfy yang merasa beruntung karena mendapatkan Yunna di kehidupannya.



"Aku tahu," Maria berhenti dan berbalik melihat Alfy. Alfy juga menghentikan langkahnya, menunggu Maria kembali bicara.



"Kau membelikan pulau ini atas nama Yunna, bukan?"



Tubuh Alfy membeku. Seluruh tubuhnya susah untuk gerakan, bahkan untuk mengedipkan matanya saja susah. Di otaknya bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia tanyakan.




Maria membalikan tubuhnya. Berjalan tiga langkah, kemudian berhenti lagi tanpa berbalik. "Surat itu, aku melihatnya. Saat membersihkan kamar mu."



Lancang sekali!


Alfy melangkah mendekati Maria, dia ingin sekali meneriaki Maria. Tapi langkahnya terhenti saat Maria merangkak naik ke atas tubuhnya, secara refleks Alfy menangkap tubuh Maria dan untung saja Alfy berhasil menahan berat badan Maria kalau tidak mereka berdua pasti sudah jatuh.



"Aaaaaa..." teriak Maria dalam gendongan Alfy. Kepalanya terkubur kepala dan bahu Alfy, kakinya terus bergoyang seperti anak kecil.



"Ada apa?" Alfy baru sadar dari kekagetannya.



"Alfy, tolong aku."



Alfy merasakan kulit lehernya basah, bukan karena jilatan dari mulut Maria melainkan air mata.



"Alfy. Tolong usir Mr. Jack, itu." Maria menunjuk hewan yang di maksudkannya.



Hewan berwarna hitam melingkar di dekat asal Maria berdiri.



"Hahaha.." Alfy tertawa melihat reaksi Maria hanya karena melihat kaki seribu.



"Kenapa kau malah tertawa?" Maria sebal melihat Alfy yang hanya menertawakannya tanpa melakukan apa-apa agar hewan mengerikan itu menjauh.



Alfy mencoba menghentikan tawanya dengan susah payah. Semua orang tahu kaki seribu hewan yang tidak berbahaya, tapi Maria menanggapi hewan iti dengan sengat luar biasa membuat Alfy tidak bisa menahan tawanya.



"Itu hanya kaki seribu,"



"Aku tahu. Cepat usir atau injak saja sekalian." Maria tidak ada niat untuk turun dari gendongan Alfy, untuknya semua hewan yang panjang itu menjijikan.



"Ya sudah, turun dulu." Alfy mencoba melapaskan tangan Maria yang melingkari lehernya, tapi bukannya di lepas Maria malah semakin menguatkan lingkaran tangannya.



"Aku tidak mau! Sebelum kau, mengusirnya."



Alfy mengalah kemudian mendekati hewan hitam itu ingin memindahkan hewan itu dengan tangannya sendiri.



"JANGAN PAKE TANGAN, PAKE KAKI AJA!!!" Maria berteriak tepat di sebelah telinga Alfy, samapai membhat Alfy meringis.



Alfy menendang hewan itu hingga sangat jauh. "Sudah. Sekarang turun!"



"Tidak! Kalau ada satu Mr. Jeck, sudah pasti ada kawannya. Aku takut." Tolak Maria dengan nada suara merintih, entah kenapa itu sangat berpengaruh untuk Alfy. Senyuman muncul di bibirnya.



"Tapi aku senang bisa melihatmu tertawa karena ku, jadi aku akan turun." Maria turun dari tubuh Alfy dan senyuman yang baru saja muncul karena tingkah kekanakan Maria dengan cepat menghilang.