
Maria sudah menyuruh Rion dan Rasya pindah bermain di kamar Rion, karena tahu tidak lama lagi akan ada suasana mencengkram. Seperti sekarang.
Mr. Ollyfi menatap bergantian tiga pria dewasa yang terduduk di sofa panjang. Dalam pikirannya berkecamuk, ia tidak ingin ada pria yang kambali menyakiti putrinya dan dirinya sendiri adalah gambaran pria itu. Sebagai ayah Mr. Ollyfi ingin memprotek Maria dengan tidak membiarkan pria mendekatinya, tapi tidak semua pria sama sepertinya, dan tetap saja Maria membutuhkan pria untuk menjaganya dan Rion.
Mr. Ollyfi akan memberikan semua pilihan pada Maria. Tentu saja pria selain Alfy, Ia tidak akan membiarkan Maria terjebak pada lubang yang sama.
"Jadi ada apa kamu datang ke rumah putri saya?" Mata Mr. Ollyfi membesar melihat dokter Theo.
Theo membasahkan bibirnya yang tiba-tiba kering. "Sebenarnya, saya mau ajak Maria dan Rion keluar om."
"Emang kamu udah janjian? Kalo Maria gak mau dimana?"
"Untuk jawabannya, saya tidak akan tahu kalau tidak kesini, om." Jawab Theo melihat ke arah Maria yang diam.
"Pulang sana, kalian semua." Mr. Ollyfi menahan emosi yang terus menyala dalam hatinya saat melihat Alfy. Ia ingin mengusir Alfy, tetapi rasanya tidak sopan dan kekanakan hanya menyuruh Alfy yang pergi, jadi Mr. Ollyfi memilih mengusir semua.
"Saya juga, om?" Rian menunjuk dirinya. Alfy dan Theo memberikan tatapan tajam pada Rian, hingga mendapat jawaban dari Mr. Ollyfi.
"Iya, kamu juga. Malahan kamu yang harus pergi duluan. Katanya kamu punya cewek, ajak malam mingguan sana."
"Kan ceweknya ada disini, om." Mr. Ollyfi bergerak memberi Rian peringatan akan menjitak kepalanya dengan keras kalau masih bicara.
Alfy dan Theo kembali menatap tajam Rian dan seolah dalam tatapan menyampaikan kalimat 'mati! Mati! Mati'.
"Hahaha. Enggaklah, om. Rian masih misikin kalo di bandingin sama mantan suaminya Maria dan masih bodoh kalo di bandingin sama dokter Theo." Jenaka Rian. "Tapi kalo di izinin, Rian bisa kok lanjut kuliah dan buat perusahaan sendiri."
Guyonan Rian berhasil membuat rahang Rian mengeras, sedangkan Theo berhasil mengontrol wajahnya terlihat tidak termakan ucapan Rian. Maria menggelengkan kepalanya, ucapan Rian semakin kacau.
"Alah kamu ini_"
"Saya juga, om." Theo memotong ucapan ayahnya Maria.
Maria menggeleng memperingatan Theo untuk tidak melanjutkan bicaranya. "Saya mau, om izinin saya dekat sama Maria." Tapi Theo hanya melihat Maria dan tidak mengindahkan perkataannya.
"Kamu gak asal bicara kaya Rian, kan?"
"Saya serius om. Maria juga pernah ngajak saya menikah." Dagu Maria jatuh dan matanya membesar. Seketika kepalanya terasa pening, ia tidak menyangka Theo akan mengatakan hal yang jelas-jelas Maria sudah mengatakan itu hanyalah candaan.
Tidak jauh berbeda dengan terkejutan Maria, tiga pria lain di ruang tamu juga tidak kalah terkejutnya. Wanita yang dikatakan Theo seperti bukan Maria yang dikenal mereka.
Mr. Ollyfi, Alfy, dan Rian mengalihkan pendangan pada Maria, menunggu penjelasan dari kata-kata yang dikatakan Theo.
"Sepertinya dokter Theo berhalusinasi. Maria tidak mungkin mengatakan itu." Alfy tidak percaya dengan apa yang Theo katakan, memberikan tatapan membunuh.
Maria menelan selivanya dengan susah. "Do..dokter Theo saya sudah bilang itu hanya bercanda." Elak Maria.
"Kamu benar mengatakannya, meskipun hanya sebuah candaan, tapi saya menganggap itu bukan sebuah bercandaan." Theo tidak memgurangi sawah seriusnya sama sekali.
Mr. Ollyfi memberikan tatapan bertanya pada putrinya. Maria hanya mengangkat dan dengan tatapan berisyarat meminta pertolongan untuk menghentikan pembicaraan ini.
"Oke. Lebih baik kalian pergi dulu hari ini dan Theo kalau kamu benar mau serius, beri Maria waktu untuk memikirkannya.
"Kamu gak berhak ikut campur masalah Theo dan Maria, Alfy. Kalau kamu menyesal, kamu pantas menerimanya. Kesalahan yang sudah kamu perbuat tidak akan hilang sekalipun kamu sudah berubah. Bawa putramu pulang!" Final Mr. Ollyfi, ia akan marah jika Alfy kembali membuat alasan.
Tapi untunganya Alfy mengerti, berdiri dari duduknya, dan perjalan ke kamar Rion sambil memikirkan ucapan ayahnya Maria. Memag tidak ada kesempatan untuknya.
Alfy menatap wajah Rion dari sela pintu. Malu! Alfy sangat malu menunjukan wajahnya di depan Rion. Ia ingin mengatakan 'aku adalah ayahmu', tapi jawaban apa yang bisa Alfy jawab kalau Rion menannyakan kemana saja ia salama ini? Atau pertanyaan-pertanyaan lebih sulit lainnya, mengingat Rion jauh lebih dewasa dari anak umur biasanya.
Alfy membuka lebar pintu kamar Rion, kedua anak laki-laki yang memiliki hubungan dari itu mengalihkan pandangan mereka dari mainan di depan mereka.
"Rasya ini sudah sore. Mamah pasti nungguin Rasya pulang."
"Papah," Rasya berlari ke dalam dekapan Alfy dan Rion hanya melihat dari jauh.
"Pipi papah basah." Rasya menghapus jejak air mata Alfy yang keluar tanpa sadanya.
"Oh, tadi ada debu masuk ke mata papah. Pulang, yuk." Ajak Alfy.
"Rion nanti kita main lagi ya..." Rion menjawab Rasya dengan anggukan.
Alfy mendekati Rion, membawa ke dalam dekapannya. Dalam hatinya Alfy berdoa agar Rion selalu bahagia dan berdoa agar Tuhan selalu menjaga putranya. 'Rion, gantikan papah untuk menjaga bunda, karena cuma Rion sekarang yang bisa menjaga bunda. Papah minta maaf karena hanya bisa menyakiti bunda kamu.' Ujar Alfy dalam hati. Sebenarnya masih banyak kata-kata yang ingin ia sampaikan pada Rion, tapi kalau begitu banyak sekali waktu terbuang dan Mr. Ollyfi akan semakin marah padanya. Atau bisa jadi melarang Alfy menemui Rion, seperti waktu itu melarangnya menemui Maria.
"Kapan-kapan main ke rumah om lagi ya, Rion." Alfy mengelus rambut Rion yang membuat rasa hangat menyebar ke suluruh tubuhnya.
"Iya."
Alfy menggenggam tangan Rasya dan Rion untuk ikut keluar kamar. Di ruang tamu Rian dan Theo sudah tidak ada ditempatnya.
"Bunda Rion, Rasya pulang dulu ya..." Rasya mengulurkan tangan dan maria menyambut tangan Rasya tanpa berpikir.
"Grandpa Rion, Rasya pulang dulu..." Rasya juga melalukan hal yang sama pada Mr. Ollyfi.
Mr. Ollyfi, Maria, dan Rion mengantar ke pergian Rasya dan Alfy hingga ke luar rumah.
"Hati-hati, sayang." Maria mengelus rambut Rasya.
"Bunda Rion, bilang hati-hatinya sama papah dong, kan papah yang nyetir."
Maria tersenyum dengan jawaban Rasya. Seperti kata Rasya, Maria beralih pada Alfy. "Alfy, hati-hati nyetirnya."
"Iya." Jawab Alfy singkat. Ia tidak ingin banyak bicara pada Maria yang mungkin akan membatalkan niatnya mengikhlaskan mereka. Alfy membawa Rasya ke mobil dan pergi dari halaman rumah Maria, tanpa menoleh ke belakang.
"Ayo masuk, Maria." Mr. Ollyfi menggandeng tangan Rion dan masuk lebih dulu.
Mobil Alfy hilang dari pandangan matanya dan timbul rasa sesuatu yang tidak enak dalam hati Maria.
__
jangan lupa like, komen, dan votenya😉