
Five years later..
Maria masih mencintai Alfy?
Masih, Maria masih sangat mencintai Alfy dari dulu dan tidak berubah sedikitpun.
Apa yang Maria rasakan setelah telah berpisah dengan Alfy?
Bahagia!
Maria merasa bahagia? Karena apa?
**Karena tidak ada dendam dalam hati Maria untuk Alfy maupun Yunna.
Hanya dengan mengikhlaskan semuanya dan percaya pada Tuhan, sebab Tuhan akan memberikannya kebahagian lewat orang lain.**
'Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.'
Itu adalah kata mutiara yang cocok untuk Maria.
Rionalfi Az-zael, laki-laki tampan yang Tuhan berikan untuk hidup Maria Noan Ollyfi. Yang selalu menatap Maria dengan tatapan cinta, seakan setiap mata mereka bertemu pria itu menyampakai kata cinta pada Maria. Maria berharap pria itu akan selalu mencintainya, setidaknya sampai dia tidak ada di dunia ini.
Tuhan mempertemukan mereka di negara paman gingseng, saat Maria pergi dengan hati yang masih dipenuhi nama Alfy.
Seolah Tuhan mengirimkan kembaran Alfy pada Maria, dengan tulang hidung yang sama, tulang wajah yang sama, warna mata yang sama, warna rambut yang sama, senyum dan tertawa yang sama.
Maria mengelus wajah Rionalfi. Bahkan saat tidur saja laki-laki di hadapannya ini masih terlihat sangat tampan, apa lagi ketika membuka mata dan memperlihatkan mata beningnya. Semua orang akan langasung jatuh cinta.
"Rion... buka matamu!"
Laki-laki yang masih tidur bergulung selimut itu hanya bergumam tidak jelas tanpa mau membuka matanya.
Maria tersenyum melihat sikap menggemaskannya. Maria menyisir rambut Rionalfi yang acak-acakan, karena tidurnya.
"Rion.. ini sudah pagi."
Kebiasaan buruk Rionalfi, tidak bisa dibangunkan sebelum ada hal yang akan membuatnya bangun sendiri.
"Rion! Aku akan menghukummu, kalau kau tidak segera bangun dari tidurmu! Kau akan terlambat, sayang."
Maria berdiri meninggalkan Rionalfi, mengingat kompornya masih menyala. Maria memotong wortel dan memasukan pada rebusan kaldu ayam yang sudah mendidih.
Maria terkaget saat ada tangan yang memeluk kakinya. "Mom.. ini hali minggu, tidak bisakah aku tidul lebih lama?"
Maria berbalik dan menyamakan tingginya Rionalfi. Maria kembali merapihkan rambut anak laki-lakinya dan tersenyum saat melihat Rionalfi masih setia memejamkan matanya.
"Mana ada hari ini hari minggu, Rion. Hari ini sudah hari senin, setelah pulang sekolah kita akan bertemu Grenpapa mu."
Rionalfi langsung membuka matanya. "Benalkah, mom?"
Maria mangaggukkan kepalanya. Melihat mommynya mengagguk Rionalfi mengangkat tangannya dan berloncat-loncat. Sambil menyerukan kata 'yes..'
Lihat! Bagaimana Maria tidak bahagia, saat Tuhan memberikannya Rionalfi yang selalu memenuhi harinya dengan tingkah konyol anak itu.
"Pergi mandi! Mom akan membuatkanmu sop ayam."
Rionalfi menghentikan loncatannya. Berlari memeluk dan mencium kedua pipi Maria. "I love you, mom." Kemudian Rionalfi kembali ke kamarnya dan melakukan ritual paginya.
Setelah dua bulan berpisah dengan Alfy, Maria baru mengetahui bahwa dirinya sedang hamil Rionalfi. Dalam masa ngidamnya, Maria membawa dirinya mengeliling dunia menghabiskan uang ayahnya yang untung saja tidak akan habis itu.
Dengan mengelilingi dunia itu, Maria jadi tidak memikirkan Alfy yang sudah hidup bahagia dengan Yunna yang sedang mengandung juga.
Tidak ada kata iri dalam diri Maria, karena hanya dengan memiliki Rionalfi Maria sudah sangat bahagia. Maria sudah tidak ingin egois lagi, Tuhan sudah begitu baik dengan memberinya putra setampan Rionalfi karena itu Maria akan sekuat tenaga menjaga Rionalfi. Maria juga akan memberikan apapun pada Rionalfi selama dia masih bisa meujutkannya.
Mengenang masa lalu membuat Maria tidak ingat masakannya, sampai suara membangunkan Maria dari lamunannya.
"Maria! Air sop mu akan habis!"
Buru-buru Maria mematikan kompornya, saat sudah mati ia berbelik menatap pria yang selama ini membantunya mengurus Rionalfi.
"Baiklah aku akan langsung mematikannya, lain kali." kata pria itu sambil mengelus bekas pukulan Maria.
Tangan Maria terasa seperti karet yang menjepret di kulitnya. Dia jadi memikirkan apa yang Maria makan sampai kekuatanya seperti kerbau.
"kenapa kau belum berangkat kerja?" Tanya Maria.
Pria itu sudah rapih dengan pakaian kerjanya, tapi masih ada disini.
"hari ini aku yang akan mengantar Rion. Bukankah kau harus pergi ke rumah sakit? Hari ini kau pertama koas kan?"
Maria menatap aneh pria di depannya. Pasti ada sesuatu yang membuat pria itu mau mengantar Rion ke sekolah, dia paling anti mengantar Rion ke sekolah karena semua ibu-ibu yang menunggu anak-anak mereka akan dengan senang hati menggodanya.
"Aku hanya ingin membatumu sedikit." Pria itu berjalan mendekati meja makan, mengambil dua lembar roti gandum, dia memakannya tanpa selai.
"bagaimana dengan ibu-ibu rempong itu?" tanya Maria, sambil memberi susu pada pria itu.
"ibu-ibu rempong? Kau tidak sadar diri? kau juga termasuk."
Mendengar perkataannya yang senenak jidat, Maria sudah siap melayangkan tangannya yang akan menghencurkan style rambut rapihnya. Tapi bersyukur masih ada malaikat kecil yang menolongnya dengan suara imutnya.
"Om Rian!"
Maria beralih melihat putranya yang sudah rapih dengan seragam polisinya. Senyum dibibir Rion hilang saat melihat tangan Maria yang mengarah ke Rian, dia belari ke depan Rian sambil merentangkan tangannya.
"Mommy! Mommy ingin pukul Om Rian? Pukul Rion dulu."
Maria melihat putranya tidak percaya, dia jongkok menyamakan tinggi Rion. "Sayang, om kamu itu meledek mommy 'ibu-ibu rempong'" adu Maria.
"emang mommy bukan ibu-ibu?"
Maria menjambak rambutnya sendiri, dia salah bicara seperti itu pada Rion. Rion tidak membantunya sama sekali, malahan perkataan putranya membuat Rian tertawa keras sambil memegangi perutnya.
Maria mengambil roti menjejalkannya ke mulut Rian, membuat pria itu tersedak.
sekarang saatnya Rian mengantar Rion sekolah. Di depan pintu Maria mengulurkan tangannya, Rion mencium punggung tangannya. "belajar yang pintar ya, abang." Maria mengelus rambut Rion.
"aku belum punya adik, mom. Jadi mom tidak boleh memanggilku abang." Rion menatap garang Maria.
"di panggil abang tidak harus punya adik, sayang."
"tetap saja aku tidak mau di panggil abang." Rion melipat tangannya diatas dadanya.
Maria berdecak tidak percaya. Padahal dia yang mengandung Rion selama sembilan bulan, tapi tidak ada sifatnya yang turun pada Rion.
"oke, belajar yang pintar anaknya mommy." Maria lebih memilih mengalah pada Rion dari pada nanti anaknya itu tidak ingin bicara dua hari padanya.
Seperti waktu Rion memaksa untuk mesuk TK lebih dulu, padahal umurnya belum cukup untuk masuk TK Maria sedikit mendebat alhasil yang didapatnya Rion tidak berbicara padanya selama dua hari.
"Malam ini kau jangan lupa beremu Jennie, Rian. Kau sudah berjanji padaku."
Sampai sekarang berumur kepala tiga, Rian masih belum ingin menikah. Pria itu tidak sadar apa? kalau dia sudah tua.
"iyaaaa." Jawab Rian malas.
Rian membukakan pintu mobilnya untuk Rion. Rion melambai ke arahnya dan Maria membalas lambaian Rion, lalu putranya masuk ke dalam mobil Rian.
Maria menatap mobil Rian yang menjauhi rumahnya, dia sangat bersyukur memiliki Rian yang sudah sangat banyak membantunya. Rian masih bekerja sebagai sekertaris Alfy, tapi dia tidak memberi tahukan apapun tentang Maria dan Rion pada Alfy sedikitpun.
Maria dengar dari Rian, Alfy dan Yunna sudah mempunyai anak itu tandanya Alfy bahagia dengan hidupnya yang sekarang dan Maria sangat besyukur mendengar itu. Walaupun dia masih belum bisa melupakan Alfy sepenuhnya.
Mungkin inilah kenapa Tuhan mengizinkan pria memilik istri lebih dari satu, karena bisa lebih dari satu permpuan yang mencintai satu laki-laki.
Ig Author : @dalaeliani
Jangan lupa mampir guys.. dan kasih aku jempol kalian ya..🤪