
Maria membaluri seluruh tubuhnya dengan bodylotion. Berendam di laut hampir satu jam penuh, membuat kulitnya kering. Dan dalam keadaan 'baik-baik' saja Alfy tidak menyukai Maria, apa lagi kalau kulitnya kering dan hitam. Huuh... Maria tidak bisa membayangkannya.
Tapi tidak masalah, kulit keringnya terbayarkan dengan perlakuan Alfy yang manis. Mengingat tentang Alfy. Setelah masuk ke dalam kamarnya, Alfy belum juga keluar dari kamarnya. Maria yakin kulit Alfy sama keringnya seperti Maria, jadi Maria berniat untuk memberikan lotion nya pada Alfy. Tidak mungkinkan pria macho seperti Alfy membawa bodylotion kemanapun.
Baru saja Maria mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Alfy, tapi pintu kayu itu sudah lebih dulu terbuka dan memperlihatkan tubuh Alfy yang hanya tertutup celana santai pilihannya. Maria cepat-cepat menutup mata dengan tangannya.
'Akh... sial! Pemandangan yang sangat indah.' Rutuk Maria dalam hati.
Bagaimanapun juga melihat kotak-kotak di perut Alfy pemandangan yang belum biasa Maria lihat.
"Ada apa?"
Huft...
Maria membuang bafas beratnya, karena Alfy sudah kembali menjadi ice man. Seandainya Maria tidak mencintai Alfy, dia ingin sekali mengerauk wajah tampannya.
"Aku yakin kulitmu kering, pakai ini!" Di sodorkan bodylotion yang hampir jatuh saat melihat roti sobek milik Alfy. Tanpa menjauhkan tangan dari wajahnya kalau dia melakukannya dalam kurun waktu lime detik Maria pasti jatuh pinsan, memang sedikit lebay, tapi begitulah Maria.
"Hmmm..."
Alfy tidak menolak dan menerima botol lotion yang Maria berikan. Sebenarnya Alfy sudah berniat pergi ke kamar Maria untuk meminta lotion, tapi entah takdir atau bukan, Maria sudah lebih dulu memberinya lotion.
Alfy memperhatikan Maria yang berjalan menjauhinya dan keningnya berkerut melihat Maria sudah rapih dengan bajunya. "Kau mau kemana?"
Merasa di tanya Maria berbalik. "Aku? Aku mau mencoba minuman yang sangat terkenal. Kau mau ikut?" Alfy akan kesepian di Vila, jadi Maria berharap pria itu ikut bersamanya.
"Tidak." Selalu, tanpa pikir panjang Alfy selalu menolak Maria.
'Pria ini, aku ingin sekali membunuhnya.' Teriak Maria dalam hati. Dia pun tanpa pikir panjang langasung pergi meninggalkan suami berengseknya, tanpa berkata apapun.
"Ahh... kalau kau tiba-tiba berubah pikiran, kau bisa pergi ke restaurant dipesimpangan jalan."
Alfy menatap punggung Maria yang menjauh, kemudian hilang dimakan pintu utama Vila.
Sesampainya Maria di restaruant yang memiliki mini bar. Maria duduk di salah satu kursi bar dan memesan minuman yang dikatakannya terkenal. Apa lagi kalau bukan fermentasian jus anggur. Maria tidak berani memilih munuman yang kandungan alkoholnya lebih tinggi, dia takut saking mabuknya kecelakan lalu meninggal.
Pada awalnya Maria hanya asal bicara saja bilang ingin merasakan minuman terkenal, padahal niat awalnya hanya untuk makan. Tapi saat di perjalanan otak Maria dipenuhi dengan pikiran, bagaimana hubungannya dengan Alfy setelah hari ini, jadilah dia setuju membeli wine.
Dua gelas kristal wine sudah Maria habiskan dan kini kepalanya sudah mulai merasakan pusing, tapi pikiran tentang hubungannya dengan Alfy belum juga hilang dari otaknya, jadilah dia melanjutkan meminum winenya sampai benar-benar melupakan Alfy dan Yunna.
"Alfy, kau datang?"
"Ya, aku datang." Pria yang mengaku Alfy itu membalikan tubuh Maria menghadapnya.
Walau matanya buram, Maria tahu bahwa pria yang dihadapannya saat ini bukan Alfynya.
Pria asing itu menahan bahu Maria yang ingin menjauh, tapi pria asing itu melah mendekati wajahnya ke wajah Maria. Maria menghindar, tapi tangan pria itu lebih dulu narik tengkuknya sehingga kepala Maria tidak bisa bergerak.
Bibir laknat milik pria asinh itu menyentuh bibir Maria. Dengan sisa kekuatannya, Maria mendorong pria itu agar menjauh, tapi kekuatan Maria saat ini tidak bisa dibandingan dengan kekuatan pria itu.
"Lephh... ash..."
Sekarang Maria sudah merasa dirinya sangat kotor. Dia wanita bersuami, tapi bibirnya bisa disentuh oleh pria lain. Sungguh menjijikan.
Pria berengsek itu meremas dada Maria, tanpa perduli Maria yang terus meringis kesakitan. Air hangat jatuh dari mata Maria dan diikuti oleah air mata lainnya.
Dalam hatinya, Maria terus memanggil nama Alfy, berhatap pria itu akan datang menyelamatkannya.
Alfy melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki restaurant. Rasa khawatir berakar di dalam hatinya, saat ke dua anak buahnya memberikan laporan apa yang dilakukan Maria.
Mata Alfy melebar, rahangnya mengeras, dan kedua tangannya terkepal keras sampai menunjukan buku-buku jarinya. Mendapati Maria dicium paksa oleh pria asing.
Dengan cepat Alfy mendekati Maria, diikuti dua orang yang mengikuti Maria. Alfy membawa pria asing itu menjauh dari Maria. Kedua pengawal Alfy cepat-cpat menakap tubuh Maria yang akan jatuh ke lantai.
Alfy mendapati wajah pria yang sama dengan pria yang menabrak Maria di pantai. Sekarang Alfy tahu, motif apa yang bajingan ini gunakan.
Tangan kerkapal Alfy berayun membuat karya nyata di wajah pria itu. Level emosi yang tinggi, mengambil alih semua kontrol tubuh Alfy.
Berani-beraninya pria ini menyentuh hal yang miliknya. Apa pria bodoh itu tidak tahu kalau Alfy adalah suaminya? Semua orang mengetahui apa hunbungan Maria dan Alfy, tapi kenapa pria itu masih berani mendekati Maria.
Alfy menghantikan pukulannya saat mendengar rintihan Maria, memanggil namanya untuk segera membawanya pergi. Kalau tidak Maria ingat kondisi Maria, Alfy akan membuh pria yang terkapar lemah dengan luka di setiap sudut wajahnya.
Alfy mengambil alih tubuh Maria dari pengawalnya, membawa Maria masuk ke dalam gendongan ala bridal style. "Urus dia!" Mata tajamnya menusuk setiapa mata yang melihatnya dan matanya seolah singa yang melarang siapapun untuk tidak mendekati betinanya.
Tidak sedikit orang yang berbisik-bisik dengan teman sebelahnya, berbisik tentang Alfy atau pun Maria. Alfy tidak memperdulikan apapun yang akan terjadi setelah ini, dia hanya memperdulikan nasib malang Marianya.