
Setelah sampai di Korea, Maria dan Rion memilih mengabiskan satu harinya untuk istirahat di hotel.
Hari ini seolah cuaca mendukung mereka pergi ke namsan tower. Maria ingin mencari gembok yang pernah ia pasang, walaupun kemungkinan gemboknya sudah dipindahkan karena sudah lebih dari enam tahun berlalu.
Akhir tahun seperti ini, di Korea memasuki musim dingin. Maria sudah siap dengan pakaian hangatnya, menunggu Rion yang merasa sudah dewasa untuk mempersiapkan dirinya sendiri.
"Little boy, are you ready?" Tanya Maria mulai bosan menunggu.
Muncul Rion dengan pakaian hangat menyelimuti tubuhnya dari balik pintu kamar sambil memajukan bibirnya yang bisa dikategorikan sedang dalam perasaan sebal, mungkin. "Mommy, dimana topiku?"
Ya, Maria menemukan alasan dibalik wajah sebal putranya. Maria meyakini Rion berhasil mengacak-acak koper kecilnya atau bahkan milik Maria juga, mencari topi yang putranya maksud.
"Topi?" Rion mengangguk. " Topi yang mana?" Maria malah memutar balikan pertanyaan dan itu semakin membuat Rion sebal.
"Topi yang putih, mom. Topi kesukaan Rion." Jawab Rion wajahnya memelas.
Maria sekuat tenaga menahan tawa melihat wajah Rion yang sangat menggemaskan. "Di dalam kopermu, tidak ada?"
"Tidak ada, mom."
"Mana Mommy tahu?" Maria mengangkat bahunya.
"Jadi Mommy tidak memasukan topiku ke dalam koper?"
Jari Maria menyentuh dagu dan melihat ke arah langit-langit agar terlihat seperti sedang berpikir. "Ada seseorang yang melarang Mommy mendekati kopernya, dia bilang bisa berkemas untuk keperluan dirinya sendiri."
"Oh my God, mom." Rion menghentakan kaki, lalu duduk di lantai dengah kaki berselonjor.
Oh Tuhan. Dimata Maria, rajukan putranya terlihat sangat menggemaskan lebih dari apapun. Maria mendekati Rion, menyamakan tinggi Rion. Tangannya langsung bergerak mengelus rambut tebal Rion. "Kita beli yang baru, oke?" Ujar Maria, mencoba mengobati kekecewaan Rion.
"Topi itu kesayangan Rion, Mom."
"Anggap saja topi yang sekarang di beli, topi pengganti." Usul Maria.
"Gak bisa, Mom. Tidak ada yang bisa mengganti topi Rion."
Kali ini Maria terdiam berpikir bagaimana cara menjelaskannya pada Rion. Tapi kekeraskepalaan Rion tentang sasuatu yang disukai mengingatkan Maria pada Alfy. Maria menggelengkan kepalanya untuk mengambalikan kewarasannya.
"Maaf, hanya untuk liburan ini, Rion pergi tanpa topi kesayangan Rion. Lain kali, Mommy akan selalu periksa topi Rion. Maafkan, Mommy." Entah kenapa Maria jadi sedikit terbawa suasana.
Rion bangun dari duduknya, tangannya bergerak menyentuh pipi kanan dan pipi kiri Maria. "Kenapa jadi mom yang sedih? Aku yang salah, mom. Aku yang tidak mengecek barangku dengan benar. Jangan minta maaf padaku."
"Oh Tuhan, little boy mommy sudah besar." Maria menarik Rion masuk ke dalam pelukannya, tangan kanan Maria bergerak menepuk-nempuk pantat Rion.
"Mom, sudah aku bilang, jangan panggil aku Little boy! Aku sudah tidak kecil lagi."
"Kamu masih bisa dipanggil little boy, Rion. Kamu masih kecil, umur Rion belum lebih dari sepuluh tahun." Rion memajukan bibirnya. "Sekarang mommy tanya, apa Rion udah punya pacar?"
"Punya pacar bukan berarti udah dewasa, mom. Kata om Rian, tanda orang dewasa itu bisa mengerti mana yang baik dan mana yang buruk."
"Jadi atau enggak nih, jalan-jalannya?" Maria tidak bisa membalas perkataan Rion, jadi Maria mengalihkan pembicaran.
"Jadi dong, mom." Jawab Rion.
Maria berdiri dari jongkoknya, kemudia menggegam tangan Rion. "Let's go!"
_
Setelah seharian penuh Maria dan Rion mengelilingi kota Seoul, akhirnya Maria bisa meluruskan punggungnya di atas kasur.
Hari ini Maria tidak memikirkan masalahnya sama sekali, meskipun pertanyaan-pertanyaan Rion yang sulit Maria jawab mengiringi perjalan mereka.
Dalam satu hari Maria menghabiskan gajinya sebulan, tapi tidak perlu khawatir, Maria adalah putri tunggal -kesayangan Mr. Ollify. Maria jadi merindukan ayahnya. Saat mengatakan ingin berlibur ke Korea, ayah Maria ingin ikut, tapi pekerjaan tidak bisa ditinggal begitu saja membuat ayah Maria mengurungkan niatnya.
Maria sudah memastikan Rion tidur dengan nyamannya, sekarang giliran Maria. Mata Maria terpejam, tapi baru kesadarannyan akan mengilang bunyi bel mengembalikan kesadaran Maria.
Maria langsung bangkit dari tidurnya, membuka pintu hotel guna menghentikan tamunya memencet bel yang akan membangunkan Rion.
"Bagaimana bisa kau ada disini? Kau mengikutiku?"
Maria terkejut melihat siapa tamu tidak diundangnya. Otaknya tidak lagi bisa berflukulasi menentukan alasan yang tepat mantan suaminya bisa sampai didepan pintu kamar hotelnya.
Alfy terdiam menatap wajah wanita yang terus dirindukannya. Ini adalah suatu kebetulan, bukan Alfy membuntuti Maria, karena rindu Alfy tidak akan membuang peluangnya bertemu Maria.
"Aku ada kerjaan disini, untuk beberapa hari." Jawab Alfy.
"Kau tidak berbohong?" Dalam hati Maria yang terdalam, berharap Alfy berbohong.
Alfy merasa Maria berbeda, wujudnya memang sama, tapi ada sasuatu yang berbeda. Alfy tidak tahu apa itu, yang jelas Alfy ingin Maria seperti dulu.
Alfy tidak tahan untuk tidak memeluk tubuh Maria, Alfy menarik tubuh Maria masuk ke dalam pelukannya, menghirup wangi parfum bercampur harum tubuh Maria, sebanyak-banyaknya, dan membuat Alfy merasa sedikit berhafas lebih lega.
Baru tersadar dari keterjutannya, Maria mendorong dada Alfy menjauh, "Alfy, lepas!" tapi Alfy tidak membiarkan itu terjadi.
"Aku merindukanmu. Rindu ini menyakitkan," Maria diam membiarkan Alfy melanjutkan bicaranya, "aku tahu lukamu lebih menyakitkan. Aku tidak mengerti dengan perasaanku. Aku mencintai Yunna, tapi aku merasa kehilanganmu. Aku ingin bersamamu. Aku ingin menjadi ayah Rion."
Maria diam hingga pelukan Alfy mengendur, ia segera mendorong tubuh Alfy memberi jarak. Maria melihat mata indah Alfy yang terlihat sangat sayu. Kemana Alfy yang dulu Maria kenal? Alfy yang seperti ini, pertama kali Maria melihatnya. Pria itu selalu menatap penuh percaya diri.
Maria menelan seliva dengan berat, menarik nafas panjang, kemudian membuangnya. Maria sudah cukup mendengarkan Alfy, sekarang Maria yang akan bicara.
"Alfy apa kamu tidak merasa seperti ini lebih baik? Rion yang mengetahui kamu ayahnya hanya akan membuatnya terluka, begitupun dengan Rasya. Tolong, jangan sakiti hati Rion. Aku mohon, jangan membuat semakin banyak hati yang terluka. Kalaupun hal ini memang harus diungkapkan, pastikan! Rion dan Rasya sudah bisa mengerti dengan keadaan kita yang lalu.
Kamu ingin aku tidak menikah dengan Theo? Aku tidak akan menikah dengannya. Tapi jangan ganggu masa kecil Rion dengan hal rumit ini, dia sudah terlalu banyak berpikir yang seharusnya belum menjadi pikirannya. Aku tahu kamu adalah orang yang baik dan aku akan selalu menceritakan hal baik tentangmu pada Rion. Kapanpun Rion tahu kamu ayahnya, aku yakin kamu selalu bisa mengambil hatinya. Sekarang bukan waktu yang tepat. Aku mohon.
Kalau aku bisa, aku ingin kembali padamu, bahagia bersamamu, aku tidak ingin kau merasakan luka, tapi batasan yang memisahkan kita semakin tebal, bukan lagi Yunna, sekarang ada Rion dan Rasya kita harus jaga hatinya. Tidak setiap rasa cinta harus saling memiliki, Tuhan menunjukannya pada kita meskipun sekarang kau juga mencintaiku."