
Alfy menatapku tetapat di mataku, wajah datarnya berubah menjadi sendu saat dia mengetakan tentang perempuan di cintainya yang bernama Yunna.
Kenapa aku di takdirkan berada di tengah-tengah dua orang yang saling mencintai, dua orang yang saling membutuhkan, dua orang yang saling melengkapi, dua orang yang di takdirkan untuk bersama.
Tapi ini juga takdirku, aku harus mempertahankan takdirku bukan?
"Aku tahu wanita itu adalah Yunna." ku balas menatap mata Alfy. Mata yang paling aku sukai, mata yang paling indah di bandingkan mata-mata indah lainnya dan karena pemilik mata itu adalah Alfy.
"Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku menyukai sisimu yang tulus mencintai seperti itu." Aku akan mempertahankan kamu Alfy.
"Aku yakin tidak mudah untuk melupakannya, tapi aku akan menunggu. Jika aku tetap menunggu maka kesempatan untukku akan datang nanti. Kamu juga akan mencintaiku seperti itu." ya. Suatu saat nanti kamu akan mencintai aku, sepeti kamu mencintai Yunna. Aku percaya itu.
"Maria." aku menegang, ini pertama kali Alfy memanggil namaku, dengan wajah memohon. Memohon untuk melepaskannya, Ini juga pertama kali dia menperlihatkan wajahnya yang lain, kepadaku.
Suara dan wajahnya memohonnya, membuat rasa sakit di jantung. Dia memohon untuk seorang wanita dan wanita itu bukan aku, istrinya melainkan Yunna.
"Bagiku ini sudah cukup. Menurutku ini adalah investasi yang berhaga, jadi aku tidak akan melepaskanmu."
Alfy bertekuk lutut di depanku.
"Alfy." aku terkejut dengan apa yang dilakukannya sekarang. Dia berlutut di depanku, memohon bukan dengan perkataan. Melainkan, memohon dengan bukti bahwa di benar-benar memohon.
Jangan Alfy! Jangan memohon seperti ini. Kamu tidak boleh memohon untuk Yunna. Kamu milikku dan akan selalu menjadi milikku, bukan milik yang lain.
"Maafkan aku dan tolong lepaskan aku," stop! Berhenti memohon alfy, kakiku lemas mendengar ucapannya.
Situasi paling sulit adalah ketika saat aku harus memilih pergi agar dia bahagia atau mempertahankan dia yang selalu ingin pergi dariku.
"Tidak mau! Dengar baik-baik! Aku dan kamu, kita sudah berjanji untuk saling mencintai.
Tidak ada hal yang perlu aku maafkan. Karena itu, meskipun kamu memohon padaku untuk memaafkan dan melepasmu. Itu tidak ada gunanya."
tes ...
Air mata yangku tahan sejak tadi, lolos begitu saja dan di susul oleh air mata-air mata yang lain. Aku tidak bisa menghentikan air mata yang keluar tanpa izin ini, dia harus di hukum karena keluar sembarangan.
Ku balik tubuhku, sehingga aku membelakangi Alfy yang berlutut dan aku tidak ingin Alfy melihat air mataku yabg terbuang sia-sia.
Ku tutup mulutku agar tidak mengeluarkan iasakan tangis yang pasti akan di dengar oleh Alfy dan aku berharap hujan turun saat ini juga, untuk menutupi air mata yang turun dari mataku. Kalau tidak Alfy akan tahu bahwa aku adalah wanita lemah yang beruntung menjadi istrinya.
Aku harus pergi dari hadapannya, sekarang juga. Ku kuatkan kakiku dan berjalan pergi meninggalkan Alfy yang masih dalam ke keadaan bertekuk lutut.
Melangkah tanpa behenti untuk pergi dari rumah besar milik papah Alfy. Mamah terus memanggilku, tapi aku menghitaukannya. Kalau aku memilih berhenti, mamah akan melihat bekas air mataku dan aku malu untuk mempelihatkan kelemahanku kepada mamah.
Saat ini aku hanya ingin sendiri, tanpa seorangpun di sampingku. Aku sudah terbisa dengan ke adaan seperti ini, tapi jujur ini lebih menyakitkan di bandingkan mengetahui mamih sudah meninggal dunia.
Kalau tahu semenyakitkan ini untuk mencintai, aku lebih memilih untuk tidak mencintai siapapun. Tapi ini sudah menjadi pilihanku untuk mencintai jadi mau tidak mau aku harus menerima rasa sakitnya.
'Mamih ... kenapa aku harus menjadi seperti mamih, yang mencintai tapi tidak di cintai. Kalau seperti ini jadinya aku akan menolak untuk menikah dengan Alfy. Aku tidak tahu harus bersandar kepada siapa lagi selain mamih' keluhku dalam hati.
'Kau harus kembali pada papihmu, Maria' suara itu mencul, ide yang sangat buruk.
Tidak mungkin aku kembali pada papih, papih adalah orang terakhir yang aku mintai untuk membantuku.
●°●
tak ada kisah tentang cinta
namun ku coba menerima, hatiku membuka
siap untuk terluka
cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar
dari pahitnya cinta
namun ku pilih begini, biar ku terima
sakit demi jalani cinta (cinta)
cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
jatuhkan hatiku kepadamu sehingga (sehingga) hidupku (hidupku) pun berarti
cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
hanya kamu yang bisa (...)
bisa membuatku rela (rela menjalani segalanya)
rela menangis karenamu (ku rela ku rela ...)
Lagu dari Tangga berjudul Cinta Tak Mungkin Berhenti, memenuhi mobil yang ku kendarai.
Lagu ini memperkeruh suasana hatiku, membuat aku ingin menagis mendengar lagu ini.
Langsungku matikan tip di mobilku, mobil yangku kendarai ini mobil pertama yangku beli dari uangku sendiri. Sebelum aku menikah dengan Alfy, aku selalu berjalan-jalan sendirian dengan mobil ini, seperti sekarang.
Dua hari sudah berlalu, aku kembali ke apartemenku. Apartemenku memang tidak besar tapi cukup membuatku nyaman saat menangis merenungi kesedihanku.
Seharusnya aku tidak menjauhi Alfy, Alfy pasti sangat senanh melihatku terpuruk seperti ini. Aku tidak akan mengnidarinya lagi dan saat ini aku di jalan menuju rumah besarnya.
Aku tidak perduli bagaimana nanti dia memintaku untuk melepaskannya lagi, aku akan mempertahankan rumah tanggaku dengan Alfy.
Karena yang seharusnya yang pergi bukan Aku ataupun Alfy tapi wanita itu, Yunna.
Mobilku masuk ke dalam garasi mobil. Terlihat banyak mobil mewah milik Alfy yang terparkir dengan sangat rapihnya. Mobilku tidak ada bandingannya dengan mobil mewah milik Alfy.

Mobil kerjanya sedang terparkir dengan cantiknya. Dia tidak pergi ke kantor? Berarti dia ada di rumah.
Pak Retno muncul dari pintu dengan ember di tanganya.
"Pak Retno, Alfy enggak kerja?" Tanyaku pada pak Retno.
"Saya tidak tahu nyonya." jawab pak Retno sambil nunduk melihat ke arah kakinya.
Ferarri red milik Alfy tidak ada di tempatnya, tidak biasanya Alfy ke kantor naik Ferarrinya. Kamana Alfy pergi? Kenapa hanya aku yang terpuruk dengan keadaan ini? Kenapa tidak ada efeknya sama sekali saat aku pergi dengan air mata yang membasahi pipiku?
Sangat susah membuka hati seorang Alfy, bagaimana bisa Yunna dengan mudahnya masuk begitu saja ke dalam hati Alfy. Apa kalau aku bertemu dengan alfy lebih dulu, Alfy akan memilihku?
Alfy mencintaiku, menyayanggiku itu semua hal tidak mungkin terjadi. Tapi ke tidak mingkinan itu, aku sangat berharap itu terjadi dalam hidupku.