About My Pain

About My Pain
Chapter Thirty Six



Kerutan terlihat sangat jelas di dahi Alfy, saat taxi yang di tumpanginya dan Maria masuk ke dalam lingkungan bandara. Sedangkan Maria di sebelahnya tidak perduli dengan ekspresi bingung yang Alfy berikan.



"kenapa kita ke bandara?"



Alfy tidak bisa menahan rasa penasarannya, jadi dia bertanya pada Maria. Ini sangat aneh menurutnya karena perjanjian yang Maria janjikan hanya satu hari, tapi kenapa wanita itu menyajaknya naik pesawat. Kemana mereka akan pergi?



"tempat yang menjadikan tujuanku harus menggunakan pesawat. Ada masalah? Kau ingin membatalkan perjanjiannya?" kalau seperti itu aku akan dengan senang hati menerimanya. lanjut Maria dalam hati.



Deg!



Jantung Alfy berhenti berdetak saat dirasa ada tangan yang menggengam tangannya. Alfy melihat dan tangan Maria yang terlihat menggengam tangannya.



"tenang saja! Aku tidak akan menculikmu dan tidak akan melanggar janjiku." Kamudian Maria melepaskan genggamannya karena menggenggam tangan Alfy membuat jantungnya berlari cepat.



Alfy merasakan ada yang hilang saat tangan Maria pergi dari atas tangannya. Jujur, Alfy ingin sekali membalas genggaman hangat Maria. Tapi gengsi tidak bisa hilang dari dirinya, jika Alfy tidak memiliki rasa gengsi Alfy bisa melakukan apapun. Bahkan lebih dari sekedar menggem tangan.



Alfy bukan tidak tertarik pada Maria. Melihat wajah dan tubuhnya yang jauh dari kata biasa saja. Tapi Alfy selalu teringat akan janji yang dia katakan pada Yunna lebih dulu. Bahwa dia akan selalu ada di samping Yunna dan menjaganya, selalu.



Andai Tuhan lebih dulu mempertemukannya dengan Maria lebih dulu, akan dengan mudah Alfy jatuh cinta pada Maria. Pertama Maria orang yang baik, cantik, sabar, pekerja keras, di tambahi Maria yang dicintai. Terbukti hampir dua pertiga rakyat Indonesia menyukai Maria, tapi lagi-lagi itu hanya andaian karena pada kenyataanya Tuhan lebih dulu mempertemukan Alfy dengan Yunna, bukan Maria.



"Tidak. Hanya saja aku tidak membawa baju gantiku."



Tangan Maria bergerak menangkup wajah Alfy. Tidak perduli pria itu akan marah atau tidak. "Tenang saja aku sudah membawakannya untukmu." Maria langsung melepaskan tangan dari wajah Alfy, setelah satu detik mata mereka bertemu.



"Lagi pula kau memiliki bayak uang untuk membeli pakaian baru." Lanjut Maria, sambil memilin ujung bajunya. Dia takut salah bicara atau bertintak yang akan membuat Alfy marah.



Tapi tidak. Alfy tidak marah atau menunjukkan rasa tidak suka pada perkataan dan perlakuan Maria. Hari ini adalah harinya, jadi sebisa mungkin Alfy akan menahan amarah dan emosinya agar tidak keluar hari ini.



Pilinan tangan Maria berhenti saat tidak mendapatkan sesuatu yang sangat dihindarinya. Dia sangat bersyukur Alfy hanya diam saja dan kembali fokus pada pemandangan di luar.



Mata Alfy terpejam, rasa kantuk menyerangnya begitu saja. Dia baru ingat, semalam dia tidur jam 3 pagi untuk memberekan pekerjaannya hari ini. Dia tidak mau menumpuk pekerjaannya. Sebisa mungkin dia akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.



Tangan Maria yang menyentuh wajahnya membangunkan dari tidur ayamnya Alfy. "Alfy... bangun! Kita sudah sampai di bandara." Di tambah suara Maria membuatnya membuka mata.



Alfy melihat wajah Maria yang begitu dekat dengan wajahnya, membuat detak jantungnya berdetak cepat. Dengan cepat Alfy membawa kepalanya dari bahu Maria. Dia sungguh tidak menyadari bagaimana dirinya bisa tidur di bahu Maria, seingatnya dia hanya tidur bersender di kursinya.



Wajah panik Alfy membuat Maria ikut panik. "Ada apa? Apa kau mimpi sesuatu?" Maria mencoba mendekati Alfy, tapi berhenti saat tangan Alfy menghentikannya.



"Tidak. Aku tidak bermimpi apapun." Jawab Alfy santai. Tapi jawaban itu tidak menghilangkan kerutan di kening Maria.



"Kau serius? Kau tidak memimpikan pesawat yang akan kita naiki jatuhkan?" Maria meremas tali tasnya dan pikiran Maria berkeloaran kemana-mana. Maria takut akan ada sesuatu yang terjadi nanti kepada mereka.




Apa? Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu. Akhhh.. sial.. Alfy mengentikan kekehan kecilnya.



"Tidak aku tidak bermimpi apapun. Ayo! Sebelum kita terlambat." Alfy membuka pintu taxi, tapi tangan Maria menariknya untuk keluar dari mobil.



"Ada apa lagi?" Alfy kembali duduk dan melihat Maria.



"Sepertinya lebih baik kita pulang lagi. Aku takut Alfy." Mata Maria berlinang.



Alfy menatap tidak percaya pada Maria. Sudah cukup lama perjalanan dari Jakarta ke Tanggarang, tapi hanya dengan rasa takut Maria ingin membatalkan ke pergiannya. Luar biasa. Alfy tahu sekarang Maria adalah tipe wanita yang mudah sekali parno.



Entah dorongan dari mana, Alfy menggerakan tabgannya mengelus rambut Maria. "Tenanglah, itu tidak akan terjadi."



Elusan tangan Alfy membuat hati Maria yang gundah kembali tenang. Dari dulu hingga sekarang apapun yang ada pada Alfy sangat berpengaruh untuk Maria. Dia mengangguk kemudian keluar dari taxi menikuti Alfy.



Alfy membayar argo dan menunggu supir taxi mengeluarkan koper kecil yang sudah Maria siapkan.



Melihat Maria yang masih terdiam di bedirinya, Alfy menarik tangan Maria membawanya ke dalam bandara. Tak lupa dengan koper kecil di tangan yang tidak di gunakan.



Langkah Alfy terhenti saat batu saja memasuki bandara dan itu mau tidak mau membuat Maria berhenti.



Alfy berbalik menghadap Maria. "Ada apa?" Tanya Maria.



Alfy mengambil barang yang ada di saku dalam jaketnya. Kemudian memakaikan sunglasses pada Maria. Hidung kecil Maria tenggelam di antara sunglasses milik Alfy yang besar.



Dan itu membuat Maria tercengang dengan perlakuan Alfy. Sangat mengejutkan Alfy bisa bersikap sangat manis padanya. Kalau saja sungalasses ini tidak ada, pasti Alfy bisa melihat rona merah di kedua pipinya.



"Banyak orang yang akan mengenalmu." Jawab Alfy. Kemudian kembali berbalik dan menarik tangan Maria mendekati terminal tujuan mereka.



'Alfy... sungguh... aku masih sangat ingin merasakan ini, rasa bunga bermekaran di perutku. Seperti inikah yang di rasakan Yunna setiap saat bersamamu? Dia wanita yang sangat beruntung Alfy.



Aku ingin sekali merasakan hal ini setiap harinya, tapi aku menyadari hal itu hanya akan membuatmu sakit.



Aku harap setelah semua ini selesai kau akan bahagia bersamanya. Bahagia dalam satu keluarga, bahagia dengan putra-putri kalian.



Jangan pernah hidup tidak bahagia, karena itu akan sangat membuatku menyesal karena sudah melepasmu.



Bahagiamu adalah bahagiaku, lukamu adalah lukaku. Tapi bahagiaku bukan bahagiamu dan Lukaku bukan lukamu.



Terima kasih, Alfy. Sudah memberikan ku kesempatan untuk merasakan rasa indah ini. Rasa indah yang sudah pasti tidak akan bisa aku lupakan karena aku memcintaimu, Alfy Zael Yoan.'