
Saat sedang bekerja Rian mendapat telepon dari Maria. Wanita itu memintanya menjemput Rion, tiba-tiba saja ada kecelakaan beruntun yang membuat Maria tidak bisa meninggalkan rumah sakit. Karena itu dengan izin pulang lebih dulu dari Alfy, disinilah Rian di dalam mobil, di depan sekolah Rion.
Sudah lima belas menit Rian menunggu, akan tetapi dia enggan keluar dari mobil. Apa lagi ibu-ibu rempong yang dimaksud Maria tadi pagi sudah membentuk pasukan perang yang siap mengancurkan setiap bagian tubuh Rian. Pantas saja perasaan menjadi tidak enak sejak Maria mengakhiri penggilannya.
Rian mengacak rambutnya, dia sudah tidak perduli pada penampilannya. "Aishh! Kenapa mereka berkumpul di depan kelasnya Rion."
Rian ingin menunggu Rion di dapam mobil, tapi Rion bikanlah orang yang tidak sabaran jadi, dia akan tetap menunggu di kelasnya.
"Shit!" Rian merutuk salah satu sifat bagus milik Rion yang diajarkan Maria.
Lagi pula, sedang apa ibu-ibu rempong belum pada pulan anak-anak mereka sudah berada di genggaman, apa lagi yang mereka tunggu?
"Tuhan, selamatkan hidupku." Rian mengambil nafas dalam-dalam, kemudian keluar dari mobil.
Baru beberapa Rian melangkah sudah menjadi perhatian. Ibu-ibu disana tersenyum sangat lebar menyambut kedatangan Rian. Rian membalas senyuman ibu-ibu untuk kesopanan, mungkin karena kesopanannya inilah yang menjadikan ibi-ibu senang menggoda Rian.
"Om-nya Rion." Salah satu ibu-ibu, berebaju biru mendekati Rian dan langsung melingkari tangannnya di tangan Rian dengan agresif.
"Baru pulang kerja, ya?" Tanya ibu-ibu itu.
"Iya, bu." Jawab Rian singkat.
Rian tidak akan lagi melakukan kesalahan lamanya yang membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Dulu Rian melakukan itu dan 2 jamnya terbuang sia-sia untuk permbicaran yang tidak penting sama sekali.
'Apa wanita bisa secentil ini setelah menikah?' Tanya Rian dalam hati.
Bayangan istrinya kelak yang menyelendot pada pria lain sangat mengerikan, tapi sepertinya tidak karena Maria tidak mencerminkan itu. Mungkinkah karena Maria masih sangat mencintai Alfy di dalam hatinya? Sangat malangnya Maria dipertemukan dan ditakdirkan mencintai pria seperti Alfy. Seandainya dulu__
Lamunan Rian tentang Maria hilang saat ibu-ibu berbaju merak itu mencubit hidung mancung Rian. "Mikirin apa, sih. Om-nya Rion?"
Uhgh... itu menjadi incident menjijikan karena ibu-ibu rempong yang melakukannya, di tambah suara yang dibuat-buat. Rian siap muntah sekarang!
"Om__"
"Rian?" Sebuah suara menyelamatkan Rian dari grepean dan elusan ibu berbaju merah.
'Thank's God.' Rian sangat bersyukur.
"Sedang apa kau disini?"
Rian berbalik melihat siapa penyelamatnya. Rian berbalik dan mendapati penyelematnya adalah Alfy. Mereka berdua saling menatap bingung.
'ada urusan apa Alfy sini?' Tanya Rian dalam hatinya.
"Wah... ada temennya om tampan." Seruan salah ibu-ibu yang sibuk memperhatikan ibu berbaju merah menghancurkan Rian, membuat semua kawanannya mencari siapa yang dimaksud.
dalam sekali kedipan mata semua ibu-ibu sudah mengerubungi Alfy, Rian hanya menatap kasihan pada Alfy. Sepertinya Rian harus mengerjakan pekerjaan Alfy selama 2 hari karena dia yakin, sepulang dari sini Alfy tidak lagi bisa bangun dari kasur.
kenapa? Lihat saja! Semua ibu-ibu sudah mencubiti hampir seluruh tubuh Alfy atau memukuli Alfy gemas.
"Mamih! Ayo pulang!" Seorang anak laki-laki menarik ibunya dari kerumunan, tentu saja ada guratan kesal di wajah anaknya.
"Ibu! ayo, pulang! Aku mau nonton TAYO!"
"Pulang!"
"Pulang, bunda!" Disusul oleh anak-anak lain yang juga menarik ibu mereka.
"Bentar, sayang. Bunda mau_" Mencoba menahan anaknya, tapi mereka tidak bisa.
"pulang!" Ada satu pengelakan langsung dibantah mentah-mentah oleh anaknya. Akhirnya semua ibu-ibu menyerah, membawa anak mereka pulang, dan meninggalkan Alfy.
Alfy selamat dengan keadaan penampilan yang hancur, wajahnya pucat dan dasi sudah tidak lagi terpasang rapih.
"Hump..." Tuan membekap mulutnya sendiri, menahan keras tawanya.
"Kau senang?!" Tanya Alfy sambil merapihkan rambutnya. "Kenapa kau tidak membantuku?" Alfy melirik Rian.
"Hahaha... kapan lagi melihatmu tidak bisa berkutik." Rian menjadi teringat saat masa-masa sekolah, Alfy memang paling banyak dikerubungi wanita, tapi semua wanita itu malah dibuat tidak bisa berkutik.
Alfy mendengus kesal mendengar perkataan Rian. "Sedang apa kau disini?"
Rian mengelus kulit leher belakangnya, memikirkan apa yang akn dikatakannya jangan sampai dia mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan. "Aku menjemput ponakanku. Kau sendiri sedang apa disini?"
"Yunna meminta Rasya untuk pindah sekolah dan disini sekolah barunya Rasya." Jawab Alfy.
Dari banyak sekolah kenapa Yunna memilih memindahkan Rasya ke sekolah yang sama dengan Rion? Dan sekolah ini tidak sebagus sekolah Rasya yang lama.
Rian memijat kepalnya yang tiba-tiba sakit kalau begini caranya, Maria harus berhati-hati saat menjemput dan mengantar Rion. Parahnya lagi kalau Maria tidak mau mengantar-jemput Rion karena banyak peluang Maria akan bertemu Alfy atau Yunna.
Apakah Rian harus menusulkan Rion pendah sekolah pada Maria? Sepertinya tidak semudah itu, sekolah Rion sekarang berada di posisi yang paling tepat, tidak jauh dari rumah mereka, tidak jauh dari rumah sakit Maria, dan tidak jaih dari kantor Rian.
"Tunggu!" Suara Alfy mengancurkan semua hal yang mulai membuat sarang di otak Rian. "Keponakan dari mana? Kau tidak punya kakak atau adik."
Rian yang bodoh atau Alfy yang terlalu banyak berpikir? Kenapa juga masalah 'keponakan' menjadi pikiran Alfy?
Rian memang tidak ounya saudara alias anak tunngal, tapi tidak salah menganggap Rion ponakan karena Rion anak dari sahabatnya. Begitu juga Rasya, Rian menganggap Rasya keponakannya.
"Memang harus punya kakak atau adik dulu kalau ingin punya ponakan? Aku menganggap Rasya ponakanku dan diia anaknya temanku juga." Semoga dengan jawaban begitu tidak membuat Alfy kembali bertanya, tapi tidak bisa...
"Teman siapa? Apa aku kenal? Kalau dia temanmu berarti dia juga temanku. Siapa?"
Rian ingin sekali menjambak rambut Alfy yang tiba-tiba menjadi banyak tanya.
"Siapa pun itu kau tidak kenal karena kau belum pernah bertemu dengannya. Sudah, jangan banyak bertanya! Pertanyaanmu membuat cubitan ibu-ibu rempong tadi malah berdenyut."
"Tapi__"
"PAPAH!"
"Om Rian!"
Dua teriakan berbeda dan dari dua orang yang berbeda menghantikan pertanyaan yang akan kembali keluar fari mulut Alfy, Rian bersyukur akan itu.
Dua anak kecil berpegangan tangan dan berlari mendekati mereka, siapa lagi kalau bukan Rion dan Rasya.
Alfy terpaku pada wajah anak kecil yang bergandengan dengan anaknya, wajah anak itu berwajah manis sekaligus tampan yang terasa tidak asing di matanya.
Alfy berjongkok, melebarkan tangan untuk menangkap Rasya dan Rian melakukan hal yang sama untuk menangkap Rion. Ada rasa iba didalam hati Rian, seharusnya Rion juga masuk ke dalam pelukannya Alfy.
"Kok om Rian yang jemput Rion? Mommy mana?" Rion lebih dulu mengeluarkan suaranya membuat pikiran mengasihaninya hilang.
"Mommymu sedang ada urusan dirumah sakit." Jawab Rian sembil mengelus rambut hitam Rion.
"Papah! Kenalin, ini temen baru aku. Namanya Rion, temen sebangku Rasya." Rasya memeperkenalkan Rion pada Alfy.
Dalam hati Rian berkata, 'terimakasih, boy. Sudah memperkenalakan saudaramu pada ayahmu.'.
"Hai, papahnya Rasya. Aku Rion, anaknya Mommy Mhumph!" Rian membekap mulut Rion agar tidak melanjuti perkataannya yang tidak salah lagi akan menyebut nama Maria.
"Senang berkenalan denganmu, Rion. Lain kali main ke rumah Rasya ya?"
Rion mengangguki pertannyaa Alfy.
"Iya. Di rumahku banyak sekali mainan, Rion pasti suka." Usul Rasya yang semakin membuat anggukan kepala Rion bersemangat.
Apakah Alfy akan senang, mengetahui Rion putranya juga? Atau dia malah akan marah dan mengambil Rion dari Maria? Apa Maria bersedia mengenalkan Rion pada Alfy si ayah kandungnya? Hanya Tuhan yang tahu semua jawaban dari pertanyaan itu.
Makasih banyak suport aku dengan kasih aku koinnya. lopp you
BTW aku suka banget baca komenan dari kalian gemesss..
maap kalo Alfy kejahatan🤭