About My Pain

About My Pain
Chapter Sixty Four



Mata Alfy terbuka melihat sagala penjuru ruangan hingga nyawanya terkumpul dan mulai merasakan tubuhnya pegal-pegal.


Pikiran Alfy terbang ke dalam kejadian tadi malam, membuat garis bibir Alfy melengkung membentuk sebuah senyuman.


Karena Alfy sedikit memaksa menginap, akhirnya Maria memberi ijinnya tidur di sofa yang panjangnya tidak lebih dari panjang tubuhnya, meskipun membuat tubuh pegal dan sakit, tapi rasanya terbayar dengan berada di dekat Maria. Dengan satu syarat, Alft harus sudah pergi sebelum Rion bangun atau putranya akan bertanya-tanya keberadaan Alfy disini.


Shit! Alfy langsung bangun dari tidurnya mendapati suara pintu yang akan terbuka. Pergi atau Maria akan membunuhnya. Alfy memungut semua barang-barangnya di meja, rasa deg-degannya seperti akan ketahuan sedang selingkuh.


Alfy meraih hendle pintu, tapi suara serak khas bangun tidur menghentikannya.


"Om, masih disini?"


Alfy menelan ludahnya susah, kemudian berbalik dengan senyuman terpaksanya. "Hmm." Keberanian Alfy menciut di depan Rion yang sedang mengucek-ucek matanya.


Senyum terpaksa Alfy perlahan luntur, setelah berhasil  Tunggu! Masih disini? Jadi Rion tahu Alfy ada disini sejak tadi malam? Bagaimana putranya bisa tahu? Tidak mungkin Maria memberi tahu Rion kalau wanita itu menyuruhnya pergi sebelum Rion bangun.


Maria keluar dari kamar. Tubuhnya berhenti bergerak melihat Alfy masih ada di dalam unitnya. Mata Maria mengisyaratkan pertanyaan kenapa pria itu masih disini. Tapi di jawab Alfy dengan naikan bahu.


Maria membuang nafas berat, mengetahui kebiasaan telat bangun Alfy. Apa yang Rion pikirkan? Dan apa yang harus Maria katakan tentang keberadaan Alfy.


Alfy melipat kakinya menyerupai tinggi Rion. "Om ingin mengajak Rion dan mommy jalan-jalan. Rion, mau?"


Bagus Alfy lebih dulu memberi topik pembicaraan, tapi kenapa harus mengajak jalan-jalan? Pria itu meluangkan waktunya untuk bekerja. Tadi malam sebelum tidur Maria memastikan ucapan Alfy pada Rian dan memberikan sedikit omelan pada Rian karena tidak mengatakan Alfy ada di sini juga.


"Apa Rasya juga ada disini?"


"Tidak ada, hanya kita bertiga."


"Seperti keluarga bahagia?"


Pertanyaan Rion menohok hati Alfy karena terdengar seperti putranya tidak pernah merasakan keluarga bahagia.


Keheningan menyelimuti mereka bertiga, Rion yang menunggu jawaban dari Alfy, Alfy yang tidak tahu mau bicara apa, jadilah Maria yang memecahkan keheningan diantara mereka dengan mengalihkan pembicaraa.


"Alfy kamukan harus kerja, sekarang udah jam 6.30." Maria berjalan mendekati Alfy, membalikkan tubuh pria itu, dan mendongnya keluar.


"Mau." Alfy dan Maria berbalik melihat Rion, "aku mau jalan-jalan sama om."


Huft! Maria benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir Rion, sangat rumit. Maria tidak yakin ini ide yang baik atau tidak, tapi berhubung Rion yang memintanya Maria ingin mewujudkannya. Setidaknya Maria ingin Rion memiliki kenangan yang menyenangan bersama ayahnya, sehingga suatu saat putranya mengerti bagaimana hubungan mereka, Rion tidak terlalu tidak menyukai Alfy.


Maria melirik wajah Alfy yang kaku perlahan mencair bersama ukiran senyum di bibirnya.


"Tapi bagaimana kerjaanmu?"


"Aku akan menundanya untuk besok." Alfy berjalan mendekati Rion, menggendong Rion. "Kalau begitu kita siap-siap, ayo kita mandi bersama Rion." Alfy membawa Rion masuk ke dalam kamar.


"Enggak. Rion gak mau mandi bareng, om."


"Sekali saja,"


"Enggak mau, malu."


Suara perdebatan ayah dan anak terdengar hingga keluar kamar membuat perut Maria berbunga-bunga. Senyumnya pun tidak tahan untuk tidak terbentuk. Maria harap ini bukan terakhir kalinya melihat Rion dan Alfy bersama. Semoga saja.


Lotte World -taman hiburan yang menjadi pilihan mereka. Selain masih di dalam kota Seoul, banyak sekali tempat menarik untuk di datangi dan di abadikan.


Sesampainya disini Rion tidak sedikit pun melepaskan tangan Alfy. Mereka asik bermain dan berbicara berdua. Hingga terkadang Alfy dan Rion melupakan Maria yang tertinggal jauh dibelakang mereka. Ada rasa sebal sekaligus lucu diabaikan seperti ini, tapi mengingat hal seperti ini jarang terjadi atau mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. Akhirnya Maria akan mengalah.


Sebagai seorang ibu, Maria menyadari perbedaan raut bahagia Rion saat berbincang dengan Alfy. Rian yang hadir sejak Rion kecil, kalah oleh Alfy. Rion bisa tertawa sangat lebar, membuat pipinya terdorong menutup mata. Mungkin itu yang dinamakan ikatan tali batin antara ayah dan anak.


Pemandangan seperti ini, Maria seperti melihat mimpinya di masa lalu. Pergi ke taman hiburan bersama keluarga kecilnya. Mimpi kecilnya menjadi kenyataan.


Maria ingin membuat sebuah pengakuan. Rasa cinta pada Alfy masih memenuhi seluruh relung hati Maria. Luka dari sayatan Alfy pun masih menganga lebar. Maria ingin egois. Pergi jauh dari Alfy. Melarang Alfy menemui Rion. Mengharapkan Alfy merasakan luka yang setidaknya membuat Alfy tidak lagi bisa menangis.


Akan tetapi sebaik apapun mengumpati bangkai, suatu saat akan tetap tercium. Cepat atau lambat, Rion akan mengetahui siapa ayah kandungnya. Dan di saat itu tiba Maria tidak ingin Rion membenci Alfy.


Rion melihat Maria menangis setelah Rion menanyakan tentang ayah kandungnya dan itu adalah satu kesalahan Maria yang secara tidak langsung menanamkan rasa tidak suka Rion pada ayahnya.


Maria tidak ingin Rion sampai membenci Alfy. Karena itu, katakan saja, saat ini Maria sedang memperkenalkan bagaimana sosok ayah yang Rion terus tanyakan. Nanti ketika Rion tahu Alfy adalah ayahnya, setidaknya Rion memiliki kenangan indah yang membuatnya berpikir dan mengerti kenapa hal seperti ini terjadi.


"BABY BOY, JAHAT! MASA MOMMY DITINGGALIN." Maria berteriak kencang, memarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.


Alfy dan Rion berbalik, keduanya hanya mentertawakan Maria. Maria berlari kecil menyusul.


"Mommy sih, jalannya lama. Kaya keong." Rion menggenggam tangan Maria.


"Rion mommy udah bilang, jangan bawa-bawa keong. Mommy punya kenangan buruk sama hewan yang namanya keong." Maria menjewer pelan telinga Rion.


Kenangan buruknya adalah ketika masa orientasi mahasiswa kedokteran yang di ambil Maria setelah Rion lahir, para senior yang umurnya jelas dibawah Maria selalu meneriaki peserta MOMK 'Keong', bahkan suara dan nada teriaknya masih terngiang-ngiang di telingan Maria.


Membicarakan hal ini Maria sedikit ingin membanggakan diri, tidak sedikit senior mendekati Maria. Tapi dengan bangga Maria mengatakan sudah punya anak dan secara otomatis mereka menjauhi Maria.


"Emang kenapa?" Alfy membungkuk agar lebih dekat dengan Rion.


"Waktu mommy kuliah di katain keong, om. Katanya karena mommy lelet. Hahaha." Rion tertawa sambil menunjuk Maria.


Dasar anak kirang ajar! Senang sekali meledeki mommyanya. Tawa Rion sama kencangnya seperti saat pertamakali dengar cerita ini dari Rian.


Alfy menutup mulutnya, menahan tawa.


Bugh!


Maria memukul bahu Alfy. "Jangan ikut ketawa!"


"Hahahaha." Maria yang marah, malah semakin membuat Alfy tidak kuat menaha tawanya.


Pengunjung Lotte Word melihat betapa bahagianya mereka tertawa. Seperti gambaran keluarga bahagia.


______________


Note: jangan lupa komen, like, dan vote ya... 😍