About My Pain

About My Pain
Chapter Sixty Six



"Alfy, kita pulang duluan." Pamit Maria.


Waktu liburan Maria dan Rion sudah habis. Sedangkan Alfy masih belum menyelesaikan pekerjaannya disini. Jadi mereka tidak bisa pulang ke Indonesia bersama.


Semalam Rion meminta tambahan waktu liburannya, tapi Rion sudah rerlalu lama ijin tidak sekolah. Maria tidak ingin Rion meninggalkan sekolah terlalu lama.


Kalau di ingat-ingat sedikit lucu, Maria mengajak Rion liburan untuk menghindari Alfy sementara, tapi Tuhan malah membaut mereka berlibur bersama. Memang manusia tidak bisa tahu dan mengubah rencana Tuhan.


"Mudah-mudahan pekerjaanmu lancar dan jangan lupa untuk sering mengubungi rumah! Mereka pasti khawatir dengan keadaanmu."


Selama ini Maria tidak pernah melihat Alfy menghubungi rumahnya. Maria jadi merasa bersalah pada Yunna dan Rasya. Mereka tahunya Alfy kesini untuk kerja bukan untuk liburan bersama Maria dan Rion.


Tangan Rion terulur pada Alfy. Alfy dengan sedikit bingung memberikan tangannya, menyambut uluran Rion. Tanpa Alfy sangka Rion mencium punggung tangan nya. Rasa hangat menyebar melalui aliran darah dari jantung keseluruh tubuhnya.


"Rion pulang duluan, om. Jaga diri ya. Nanti kalau om udah pulang Rion dan Rasya ke Dufan, ya?"


Alfy tersenyum senang. Alfy sangat setuju, jadi ia menangguk menjawab Rion.


"Dah, om." Rion lambaikan tangan pada Alfy, kemudian menggandeng tangan Maria. Maria dan Rion berbalik, berjalan meninggalkan Alfy.


Dalam perjalanan ke kabin pesawat, Rion tidak berbicara. Saat Maria bertanya, Rion hanya menangguk dan menggengkan kepalanya. Sepertinya Rion masih belum mau meninggalkan Korea.


"Pasang sabuk pengamanmu!" Ujar Maria sambil memasang sabuk pengamannya. "Bisa?" Maria melirik Rion yang mengangguk.


"Kita masih bisa kaya ginikan, mom?" Rion menatap Maria sedih.


Benar saja apa yang Maria perkirakan. Kediaman Rion adalah karena putranya masih ingin liburan.


"Of course, baby boy." Maria mencubit pelan pipi Rion. "Mau keliling dunia pun, bisa. Uang grandpapa masih banyak."


Ucapan Maria berhasil mengembalikan tawa dan senyum Rion.


_


"Mommy." Rion berlari ke dalam pelukan Maria.


Hari ini masih ada sisa cuti Maria, jadi ada kesempatan mengantar-jemput Rion tanpa harus meminta tolong pada Rian.


By the way ada berita baru, Rian meminta dipertemukan kembali dengan wanita terakhir yang Maria kenalkan padanya. Sepertinya akan ada hal baik terdengar dari Rian.


Maria lepaskan pelukannya. Meraup wajah Rion. Mencium kening putra kacilnya.


"No better then days ago." Rion menjawab Maria dengan wajah cemberut.


Maria tertawa. Kemana Rion yang dulu minta sekolah padahal umurnya belum cukup?


"Why?" Maria mengacak rambut Rion.


"School is boring."


"No matter what you say, but school is important fo everyone. You can't protect mommy if you don't have education." Jelas Maria.


"Okey. I'll hanging on." Rion memeluk leher Maria.


Maria melihat Rasya berdiri dibelakang Rion. Dengan senyumannya. Bagaimana bisa Maria tidak menyukai Rasya yang memiliki senyuman manis, sekalipun keberadaannya hasil dari luka yang ia dapatkan.


"Hai, Rasya." Maria menyapa Rasya dan Rion langsung melepaskan pelukannya.


Bediri dari jongkok, Maria menggenggam tangan Rion mendekati Rasya. "Hai, bunda Rion." Rasya menyapa dengan memeluk Maria sebentar.


"Kamu belum dijemput?" Rasya menjawab Maria dengan gelengan kepala.


Mata Maria bergerak kesekitar sekolah mencari kebenaran jawaban Rasya. Sekolah sudah hampir kosong, tidak ada keberadaan Yunna atau pak Retno.


"Mau main ke rumah Rion?" Ajaknya. Maria tidak tega meninggalkan Rasya sendiri.


"Mau!" Rasya menjawab dengan sorakan senang.


"Let's go."


Maria menggenggam tangan Rasya disebelah kiri dan Rion disebelah kanan. Menyebrang jalan menuju mobil Maria terparkir. Maria membuka pintu belakang untuk Rion dan Rasya.


Dalam perjalanan pulang, Maria menyempatkan menelpon rumah Alfy untuk memberi tahu Rasya ada bersamanya. Maria kira Yunna yabg akan mengangkatnya, tapi ternyata bu Mia yang mengangkat.


"Bu Mia, Yunna ada?" Suara bu Mia memenuhi mobil karena handphone Marai tersambung secara automatis pada audio mobil.


"Yunna sedang tidak ada di rumah, Ria."


"Gak tau, Ya. Ibu pergi sendiri gak dianterin pak Retno."


"Siapa yang jemput Rasya?"


"Astagfirullah! Ibu lupa kasih tau, pak Retno buat jemput Rasya." Maria tertawa, Rasya dan Rion pun ikut tertawa mendengar bu Mia terak dari telpon. "Bentar, Ya. Ibu mau kasih tau pak Retno dulu buat jemput_"


"Gak usah, bu." Maria cepat mengintrusi sebelum bu Mia meninggalkan telpon. "Rasya ada sama, Ria. Kalau Yunna sudah pulang tolong sampaikan. Nanti Ria antar Rasya pulang."


"Alhamdulillah, Ria. Ibu hampir jantungan. Nanti ibu sampaikan." Tawa Rion dan Rasya semakin kencang dibelakang.


Maria menyudahi telponnya.


"Rasya suka makan apa?" Melirik Rasya dari kaca spion dalam.


"Origini."


"Origini?" Kening Maria berkerut.


"Onigiri, mom." Rion membenarkan ucapan Rasya. Dan Maria baru mengerti.


"Emh," Rasya mengangguk. "Origini buatan bunda Rion enak." Rasya mengancungkan jempol.


"Onigiri!" Rion kembali membenarkan Rasya.


"Iya, origini."


"O,"


"O,"


"Ni,"


"Ni,"


"Gi,"


"Gi,"


"Ri,"


"Ri,"


"Onigiri."


"Origini."


Rion tidak lagi bisa berkata-kata. Padahal tadi ia sudah mengejekan untuk Rasya, tapi Rasya tetap salah mengatakannya.


Maria tertawa menonton kelakukan Rion dan Rasya. Rasya memang salah, tapi Maria bisa memaklumi itu karena sampai sekarang pun orang dewasa masih sulit mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.


Panjang jalan Maria berkonsentrasi pada jalanan sambil mendengar celotehan-celoteh Rion dan Rasya.


"Sampai," Maria membukakan pintu untuk kedua putranya. Ya, mulai sekarang Maria menganggap Rasya putranya juga karena memiliki darah yang sama dengan Rion.


Rion dan Rasya mulai mengeluarkan mainan yang Rion miliki. Maria juga mulai memasak makanan kesukaan Rion yang juga makanan kesukaan Rasya.


Rumah Maria yang terdengar lebih ramai dari biasanya. Terdengar lebih hidup.


Senyum Maria tidak redup sampai makanan siap. Maria memanggil Rasya dan Rion untuk makam dulu, meskipun sedikit susah menghentikan mereka dari mainan sementara.


Maria mengelap bibir Rion dan Rasya dari remahan makanan di sskeliling mulut mereka.


"Aku suka sama bunda Rion." Kata Rasya sambil meyentuh pipi Maria dengan telunjuknya.


"Bunda juga suka sama Rasya." Maria ikut menyentuh pipi Rasya dengan telunjuknya.


Menatap wajah Rasya, dalam hati Maria terus memikirkan, bagaimana bisa dia melukai hati malaikat seperti Rasya dengan rasa dari masa lalu. Bukankah itu tandanya Maria tidak ada bedanyanya?


Alfy. Aku tahu kamu memiliki niat yang baik, tapi aku dan Rion sudah terbiasa dengan nasib buruk ini. Aku telah berjanji, aku telah belajar dari masa lalu. Aku sudah lelah. Tidak ada lagi yang akan berubah, jadi biarkan aku berhenti berharap, biarkan aku berhenti berjuang, bairkan aku menyerah, biarkan aku pergi. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya, tidak bisa menghentikan kaki ini yang terus terjelembab.


_____


Jangan Lupa komen, like, share, vote, dan kasih aku tip (jika kalian berkenan) 😅