
Alfy menaruh tubuh Maria di atas kasur dengan sangat perlahan. Dia takut Maria terbangun, lalu menangis dan kembali meraungkan bahwa dirinya kotor.
Melihat tangan Maria yang menyilang di atas dadanya seolah sedang memeluk dirinya sendiri. Dia ingin menggantikan tangan itu untuk memeluk tubuh rapuh Maria.
Tangan Alfy bergerak menghapus jejak air mata di pipi Maria. Dia tidak menyangkal hal ini akan terjadi, hal yang pastinya akan merubah diri Maria ataupun dirinya sendiri.
Alfy mulai menyalahkan keputusannya menolak ikut menemani Maria ke restaurant. Seharusnya dia sadar sebagai suami harus bisa menjaga istrinya dengan cara apapun, bukan malah menyuruh dua orang untuk mengikuti Maria.
Alfy tahu, wanita di hadapannya ini pasti merasa sangat terluka. Luka lama yang Alfy buat belum sembuh, sekarang ditambah luka yang baru.
Maria membuka mata dan memperlihatkan mata sayunya. "Kau butuh sesuatu?" Tanya Alfy dengan sangat lembut takut akan kembali menyakiti Maria, sambil membantu Maria yang ingin bangun dari tidurnya.
Maria manatap dalam mata Alfy, air matanya kembali jatuh. Inilah petunjuk dari Tuhan memang tidak menakdirkannya bersama Alfy. Dia menyukuri setidaknya Alfy datang menyelamatkannya, tapi tetap saja rasa jijik paada dirinya sendiri membuat Matia menunjukan wajahnya dihadapan Alfy.
Takdir Tuhan memang kejam. Sekarang sudah tidak ada lagi bayangan harapan hidup indah bersama siapapun. Mungkin setelah ini dia akan hidup sendiri di pulau terpencil.
'Mom, maafkan aku. Sekarang aku bukan lagi yang baik, aku wanita yang menjijikan. Aku semakin tidak pantas menjadi istri Alfy, bukan begitu mom? Aku ingin menemui mu, mom.'
Alfy duduk dipingir kasur, sebalah Maria. Tangannya kembali bergerak untuk menhapus air mata Maria yang turun lagi. Dia tidak tahan melihat Maria menangis, ada rasa sakit dihatinya dan itu membuatnya sangat tersiksa, seakan-akan membunuh Alfy secara perlahan.
Belum sampai tangannya menyentuh wajah Maria, terhenti karena mendengar perkataan wanita itu.
"jangan sentuh aku, Alfy. Sekarang aku wanita yang kotor dan sangat menjijikan. Aku sudah membuat diriku sendiri disentuh pria lain. Maaf. Maafkan aku,"
Maria mengusap kencang bibirnya, dia merasa sudah mencium oleh sesuatu yang sangat menjijikan, lebih dari kotoran hewan. Dan matanya tak henti mengeluarkan air mata.
"aku kotor, aku menjijikan."
Alfy tidak bisa diam melihat Maria yang semakin lama semakin nyakiti dirinya sendiri, dia mendekati Maria dan membawa istrinya masuk kedalam pelukannya.
"AKU MENJIJIKAN. JANGAN PEGANG AKU!" Maria memberontak Alfy, memukul semua bagian tubuh Alfy yang tergapai tangannya. "Hiks... hiks... kanapa? Ini sangat menjijikan. Ini salah aku kan, Alfy? Aku terlalu murahan sampai orang berani menciumku, sesukanya?"
"dengar! Kau tidak kotor, kau tidak menjijikan. Semua itu tidak ada padamu. Tenanglah," Alfy mengusap lembut punggung Maria. Alfy tidak tahu bagaimana harus berbuat. Melihat Maria histeris membuatnya hilang akal.
Setelah beberapa saat dan Maria sudah mulai tenang mengandalikan dirinya. Alfy sidikit menjauhi tubuh Maria agar bisa melihat mata Maria. Mata Alfy mulai menyalami mata Maria. Hatinya bergetar dan dunia seakan berhenti, melihat pantuan dirinya di mata Maria.
Bagaiman bisa? Padahal dia belum pernah melihat pantulan dirinya dimata Yunana. Apa karena mata Maria terlalu gelap dari mata Yunna?
"aku menjijikan Alfy."
Alfy menggelang tidak setuju. "tidak! Aku akan mengahapuskanya." Dia mendekati wajah Maria, mendekati bibir Maria lebih tepatnya. Rasa hangan menyeruak dalan tubuh Alfy saat menyentuh bibir hangat Maria.
Alfy membuktikan Maria tidak menjijikan dengan terus memperdalam ciuamnya. Yang awalnya hanya pautan lembut menjadi ciuman menuntut dari Alfy, saat Maria ikut menerima ciumannya..
Lagi dan lagi, Maria menjatuhkan air matanya. Alfy dapat merasakan air hangat itu ikut menyentuh pipinya. Maria berhasil membagi rasa sakitnya pada Alfy.
Lama berciuman membuat gairah mengambil alih tubuh dan kewarasan mereka. Ciuman Alfy turun ke leher jenjanga Maria, memberikan pertanda marah disana. Sedangkan tangan Algy membuka setiap kancing yang mengunci kain itu. Setelah baju itu terlepas, Alfy membuang kain itu kesembarang tempat. Begitu pula dengan setiap kain yang menutupi tubuh Maria, sampai tubuh polos Maria terlihat begitu indah dimata Alfy.
Lenguhan, desahan, geraman dan semua suara-suara aneh terus keluar dari mulut Maria, ketika setap bagian tubuh Alfy menyantuhnya. Alfy dan Maria tidak lagi inngat separti apa hubungan mereka, kejadian-kejaidian pahit sudah tidak lagi Maria pikirkan. Semua ini karena nafsu yang mengendalikan mareka.
Remasan tangan Maria pada seprai, serta air mata terjatuh diujung mata Maria, begitu Alfy berhasil menggabungka tubuh Mereka.
Kupu-kupu diperut Maria berterbangan, sedangkan Allfy merasakan sesuatu yang kosong dalam dirinya mulai terisi. Sekarang hanya tuhan yang tahu apa yang akan terjadi setelah malam pernyatuan Alfy dan Maria.