About My Pain

About My Pain
Chapter Twenty Nine



Suasana ribut, serta banyak orang berlalu-lalang tidak mampu membuat Maria lepas pandangan dari pasangan yang sedang berdansa.



Maria memang tidak mendekati Alfy dan menunjukan bahwa dirinya ada di ruangan ini, dia hanya diam tidak berbuat apapun.



Seperti ini lah yang harusnya di lakukan Maria sajak awal pernikahannya bersama Alfy, tidak mendekati pria itu, tidak menyentuhnya dan membiarkan pria itu bahagia dengan pilihannya. Atau mungkin seharusnya dia menolak perjodohan tolol itu.



Yah, sekarang Maria benar-benar menyadari bahwa menerima perjodohan itu adalah salah. Berniat ingin bersama dan bahagia, tapi malah membuat Alfy serta dirinya sendiri menderita.



Ke egoisan Maria terus saja bertambah. Seharusnya dia sudah merasa cukup dengan mempunyai nama Alfy di belakang namanya, serta semua orang sudah memandangnya nyonya Yoan. Tapi kenapa dia malab ingin mempunyai hati Alfy yang sudah jelas dan semua orang tahu hanya Yunna yang memiliknya.



Maria mendekati Sonia yang sedang dansa dengan Patrik, bukan ingin menggangu dia hanya ingin bicara sebentar pada Sonia.



Setelah iti Patrik mengalah membiarkan dirinya berbicara dengan Sonia. Meninggalkan ke dua wanita itu dan mendekati Yogi yang sedang duduk dengan sahabat-sahabatnya yang lain.



"Sonia. Boleh aku meminjam panggung mu?" Maria membisiki Sonia agar tidak terdengat oleh yang lain.



"Panggung? Untuk apa Maria?"



"Aku hanya ingin bernyanyi di atas panggung." Jawab Maria.



Sonia menyugingkan senyuman lebarnya.


"Tentu saja boleh, lagi pula aku sudah lama tidak mendengar nyanyian mu. Aku yang akan memanikan piano untuk mu."



"Terimakasih, Sonia."



Ke dua wanita itu berjalan mendekati panggung yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk grand piano hitam, gitar, biola, dan saksofon. Yah, di perkirakan 8 orang bisa ada di atas sana.



Sonia sudah stanby di kursi yang sudah di sediakan untuk pemain piano dan Maria membenarkan tinggi stand microphone agar sesuai dengan tingginya.



Saat Maria sudah siap dengan mic nya, Sonia memulai memainkam piano dengan otomatis musik yang mengiringi dansa berhenti dan semua orang kini fokus melihat panggung.



Begitu juga Alfy dan Yunna. Mereka sedikit terkejut melihat Maria ada di atas panggung.



Aku tau ku takkan bisa


Menjadi seperti yg engkau minta


Namun selama nafas berhembus


Aku kan mencoba



Aku tau dia yg bisa


Menjadi seperti yg engkau minta


Namun selama aku bernyawa


Aku kan mencoba menjadi seperti yg kau minta




Setiap pasang mata mencari mata Maria mereka ingin melihat kepedihan dari mata Maria, tapi tidak bisa Maria membuat stand microphone nya lebih pendek sehingga Maria harus menundukan kepalanya.



Maria sengaja melakukan itu, dia tidak ingin orang melihat air mata yang membasahi pipinya, dia tidak ingin orang melihat bibirnya bergetar kerah menahan air mata agar tidak lagi jatuh.



Setelah selesai dengan satu lagu penuh tanpa menunggu Sonia, Maria langsung turun dari panggung dan langsung memasuki kamar salah satu bilik kamar mandi.



Maria tidak ingin menjadi wanita lemah, tapi tuhan lah yang mencipkan dirinya menjadi wanita lemah. Seperti terlah melakukan banyak dosa di kehidupannya yang dulu, di kehidupannya yang sakarang dia merasa tuhan membayar hutang dosanya dengan membuatnya menderita seperti ini. Tuhan memang sangat adil, bukan begitu?



●°●



"Maria. Are you oke?"



Suara yang baru di telinganya, tapi Maria tahu pemilik suara ini. Sara.



Sara mengikuti Yogi yang mengejar Maria setelah wanita itu menyelesaikan lagunya. Yogi tidak sanggup masuk ke dalam kamar mandi, kecilnya isakan tangis Maria saja sudah membuat hatinya sakit apa lagi jika dia masuk ke dalam. Jadi Sara lah yang masuk ke dalam kamar mandi.



Yogi tidak ingin Maria tersakiti, tapi wanita itu lah yang memilih pilihan untuk menyakiti hatinya. Yogi tidak bisa menyalahkan Alfy karena Yogi juga pernah merasakan cinta yang teramat seperti Alfy.



Semua pilihan ada di tangan Maria. Hanya Maria yang bisa memilih pilihannya sendiri entah itu yang membuatnya bahagia atau malah sebaliknya.



Maria menghapus jejak air mata di pipinya. "I'm fine."



"Maria kamu tidak harus terus menahannya." Tangan Sara bertumpu pada pintu bilik kamar mandi. "Kalau itu memamg tidak bisa kau miliki, biarkan itu lepas sebab itu hanya akan membuatmu semakin terluka. Aku yakin, pasti Tuhan sedang mengirim orang yang tetap untukmu dan orang itu lah yang akan membuatmu bahagia."



"..."



Maria terdiam, Maria mencerna semua perkataan.



Beberapa waktu berlalu, setelah di rasa tenang hatinya Maria keluar dari bilik kamar mandi. Maria mendapati Sara dengan mata bengkak dan bekas air mata di pipinya.



"Kau menangis, Sara?"



Sara menggeleng "tidak. Aku hanya kelilipan" ujar Sara sambil mengelap bekas air mata.



Maria tahu sekali Sara menangis. Mana mungkin pipinya bisa banjir seperti itu, kalau Sara hanya kelilipan. Alasan.



"Kau tidak cantik menangis, Sara."



"Kau juga." Balas Sara.



Lalu ke duanya tertawa, entah karena apa yang panting mereka bisa menghilangkan pikiran-pikiran buruk dengan tertawa lebar.