
"Mommy!" Rion berlompat-lompatan menyambut kedatangan Maria, saking excitednya sampai Maria menyipitkan matanya, terheran akan kecerian Rion yang berlebih hari ini.
Maria meyakini waktu memasaknya malam ini akan terganggu dengan ocehan cadel Rion, menceritakan apa yang sudah di laluinya di sekolah. Meski begitu Rion berhasil menyiram rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya.
Maria berjongkok, menarik Rion masuk ke dalam pelukannya. "Hai, little boy!"
"Hai, mom."
Bahkan panggilan little boy dari Maria sudah tidak tembus merusak mood Rion, padahal biasanya selalu ada penolakan dari mulut kecilnya. Seperti, 'aku bukan anak kecil,' atau 'angan anggap aku anak kecil, mom!'. Maria hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala saat mendengar alasan Rion tidak ingin dipanggil anak kecil lagi. 'Karena aku akan menjaga mommy. Bagaimana bisa anak kecil menjaga mommy!'.
Rion melepas pelukan Maria, kemudian menarik wanita yang melahirkannya ke dalam rumah. Mendudukan Maria di salah satu sofa yang tersedia di ruang tamu, Maria hanya bisa pasrah kalau seperti ini.
Rian memperhatikan ibu dan anak itu dengan senyuman kecil.
"Mommy, aku punya teman baru."
"Aha?!"
"Namanya Rasya, mom! Dia anak yang baik, dia bahkan memberlikan aku sedikit makan siangnya." Sambil mendengarkan ocehan Rion, Maria memperhatikan perubahan wajah dan pergerakan bibir Rion yang terkadang memajukan bibirnya. Sangat lucu. Bibir yang sangat mirip bibir Alfy.
"Dia_"
"Mommy akan mendengarkan cerita mu sambil masak, oke?" Maria menghentikan cerita Rion dan langsung diberi tatapan tajam oleh pemilik cerita. "Lihat! Om Rian sudah lapar. Kamu juga lapar, kamu mau makan apa malam ini, sayang?" Maria menunjuk Rian.
Ternyata Riam cukup baik untuk di ajak berkompromi. Lihat saja, Rian sudah mengelus-elus perut dengan wajah memelas pada Rion. Membuat Rion tidak tega dan mulai bernajak turun dari pankuan ibunya.
Senyuman manis terbit di wajah Maria. "Ayo, sayang." Maria membawa Rion ke dapur.
Maria mulai mengeluarkan beberapa bahan makan dari lemari pendingin, mencuci bahan makan, memotong sayuran, dan mulai menggabungkan bahan-bahan dengan bumbunya. Sambil mendengarkan cerita Rion tentang teman barunya dan sesekali menyahuti cerita Rion.
"Rasya bilang punya mainan banyak dirumahnya, dia mau menajakku kerumahnya."
"Oh, iya?"
"Iya. Rasya bilang, ayahnya selalu membelikannya mainan. Kalau ayahnya tidak pulang lama karena bekerja, ayahnya akan membawakannya mainan baru. Mulai dari lego, miniatur pesawat, tebakan air, robot avenger, dan masih banyak lagi.
Rasya juga bilang, kalau hari libur ayahnya akan membawanya ke taman hiburan. Rasya sudah banyak menaiki wahana bersama ayahnya dan mereka akan pulang saat sudah petang dengan banyak mainan baru."
"Bagaimana dengan ibunya?" Tanya Maria, mencoba mengalihkan pembicaraan Rion dari ayahnya Rasya.
Entah mengapa ada rasa sakit di hati Maria saat mendengar Rion membicarakan pria penting dalam sebuah keluarga karena secara tidak langsung Rion menunjukkan betapa dia menginginkan seorang ayah yang membelikannya mainan atau pergi ke taman hiburan.
Selama ini Rion tidak pernah menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan ayahnya, tapi setelah mendengar cerita Rion hari ini Maria menyadari ketertarikan Rion pada ayah temannya karena dia belum pernah merasakan kehadiran seorang ayah.
Maria tidak tahu harus menjawab apa saat Rion menanyakan tentang ayahnya karena cepat atau lambat Maria yakin Rion akan menanyakan ayahnya.
"Ibunya? Rasya bilang, ibunya selalu memasakan masakan yang enak, seperti mommy." Jawab Rion.
"Lalu?" Maria masih belum puas akan jawaban Rion.
"Ibunya melakukan apa yang Mommy lakukan." Jawab Rion malas.
"Tentu boleh, sayang. Asal dengan satu syarat, jangan merepotkan siapapun." Rion bukan anak yang mudah berteman. Maria jadi penasaran dengan anak bernama Rasya, anak itu pesti memiliki sesuatu yang membuat Rion mau berteman dengannya.
Selesai memasak Maria menaruh hasil masakannya di atas meja, kemudia pergi meninggalak Rian dan Rion yang sedang makan untuk membersihkan dirinya.
●°●
Maria mengelus rambut hitam Rion yang mulai mengantuk. Ya, Rion sudah enam tahun, Maria masih membiarkan tidur bersamanya. Rion sudah memiliki kamar sendiri, tapi bagi Maria saat-saat inilah yang paling penting untuk mendengarkan ocehan Rion karena biasanya ada hal yang belum Rion bicarakan dengan Maria.
"Mommy," panggil Rion pada Maria masih dengan mata terpejam.
"Yes?"
"Bagaimana mommy, hari ini?" Rion terdengar lebih dewasa dari anak biasanya.
Itu adalah pertanyaan yang selalu Maria tanyakan pasa Rion, setiap malam. Tapi hari ini Rion lebih dulu menanyakan pada Maria.
"Mommy, sangat senang hari ini karena little boy-nya moomy terlihat sangat luar biasa baik." Jawab Maria dengan senyum dibibirnya.
Maria selalu mencurahkan perasaannya agar Rion juga tidak segan mencurahkan perasaannya pada Maria. Di mata Maria, Rion terlihat sangat baik, tapi Maria sangat tahu di dalam hati Rion sangat kesepian.
"Bagaimana dengan little boy-nya mommy?"
Mata Rion tebuka dan menatap Maria. "Senang dan sedih."
Maria mengerutkan keningnya. "Sedih? Kenapa sedihnya? Padahal mommy lihat hari ini Rion sangata happy."
"Rion merasa iri dengan Rasya."
Air mata jatuh dari mata Rion membuat air mata lain jatuh dari mata Maria.
"Kenapa Rion iri sama Rasya?"
"Awalnya Rion tidak mau berteman dengan Rasya seperti yang lainnya, karena itu akan membuat Rion iri dengan mereka. Saat mereka bisa menceritakan tentang ayahnya, Rion tidak bisa. Mommy, apa Rion punya ayah?"
Maria mengigit bibir dalamnya, menahan isak tangis yang tidak boleh keluar didepan Rion. Meskipun begitu air mata tidak berhenti mengalir membasahi pipinya.
Maria tidak menyangka hari ini adalah hari dimana Rion mulai menanyakan tentang ayahnya dan Maria masih belum memiliki jawaban yang tepat. Tapi suka tidak suka, sakit tidak sakit, Maria harus menjawab pertanyaan Rion.
"Rion punya ayah." Jawab Maria. "Tapi__"
Rion menyela perkataan Maria. "Tapi ayah Rion lagi kerja jauh? Apa ayah Rion akan kembali dengan banyak mainan? Kenapa ayahnya Rion tidak seperti ayahnya Rasya yang selalu ada? Apa pekerjaan ayahnya Rion? Dimana ayahnya Rion? Seperti apa ayahnya Rion? Kenapa mommy tidak pernah cerita tentang ayahnya Rion? Apa ayahnya Rion orang jahat?"
Rion bangun dari tidurnya dan pergi meninggalkan Maria.
Semua pertanyaan Rion seakan memiliki jarum transparan yang menusuk jantung Maria. Rasa sakit ini lebih sakit dari biasanya.
Maria tidak tahu harus menyalahakan siapa, apa pada dirinya sendiri? Pada Alfy? Pada Yunna? Pada dirinya sendiri adalah jawaban yang tepat bagi Maria. Bukan begitu?