
Dalam mobil, Alfy dan Yunna hanya terdiam tidak ada yang ingin dan mencoba membuka pembicaraan. Keduanya sibuk hanya dengan pikirannya masing-masing.
Pikiran Yunna sedang berkecimplung dengan bagaimana seandainya dia menjadi Maria. Seberapa rasa sakit yang Yunna rasakan kalau menjadi Maria, istri yang tidak di inginkan, istri yang tidak di anggap, istri yang di benci dan suami malah memilih bersama wanita lain.
Entah dia akan bisa tegar Maria atau tidak, kalau seandainya dia yang menjadi Maria. Berbeda dari semua orang yang melihat air mata jatuh dari mata Maria, tapi Yunna bisa melihatnya. Meskipun suaranya tidak bergetar sama sekali, tapi air mata itu Maria tetap tidak bisa menutupinya dari Yunna.
Yunna salut dengan banyaknya kesabaran yang Maria miliki. Maria tidak pantas di sebut wanita, karena dia bahkan lebih kuat seorang laki-laki.
Rasa bersalah kini terus menghantui Yunna. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa karena cinta yang di milikinya untuk Alfy sama besar seperti cinta milik Maria.
"Kau sedang memikirkan apa?" Alfy menggengam tangan Yunna yang mendingin.
Alfy sudah tidak tahan dengan kecanggungan ini. Hanya karena seorang Maria seharusnya tidak ada pengaruhnya untuk hubungannya dengan Yunna. Wanita itu hanya salah satu rintangan dari tuhan untuk menguji seberapa kuatnya hubungan Alfy dengan Yunna.
"Aku tidak memikirkan apapun Alfy." Jawab Yunna dan melepaskan genggaman tangan Alfy.
"Jangan berbohong, Yunna."
Yunna terdiam memikirkan apa yang akan di katakannya pada Alfy. Alfy selalu tahu saat dirinya sedang berbohing. "Alfy."
"Hmmm."
"Bagaimana seandainya karma terjadi pada kita?" Yunna memilin ujung dress yang pakainya.
"Maksudmu?" Alfy melihat Yunna, kemudian kembali pada jalan.
"Kau tahu, kita sudah sangat menyakiti perasaan Maria dengan hubungan kita. Tuhan pasti akan membalas kita," Genangan air di mata Yunna siap jatuh, tapi dengan lihainya dia membuat air mata itu menyurut di matanya.
"Apa yang sedang kau bicarakan ini, Yunna. Dia hanya rintangan yang Tuhan berikan untuk hubungan kita."
"Apa tidak sebaliknya? Aku adalah yang rintangan di hungan kalian. Bagaimana jika yang sebenarnya Maria jodohmu dan bukan aku."
Takut terjadi apa-apa Alfy meminggirkan mobilnya.
"Jangan bicara seperti itu, Yunna. Kamu, jodohku dan aku, jodohmu. Kalau kamu bukan Jodohku, untuk apa Tuhan mengirimmu ke kehidupanku."
Air mata yang sedari tadi di tahan Yunna kini jebol. Dia tidak bisa lagi menahan uap air matanya. Yunna sangat takut takdir Tuhan yang akan membuatnya jauh dari Alfy.
Alfy memeluk Yunna dengan kasih sayang saat dia melihat air mata membasahi wajah cantik seorang yang di cintainya.
"Aku takut takdir Tuhan, Alfy. Aku tidak mau kamu mengalami karma yang bahkan lebih menyakitkan dari apa yang di rasakan Maria."
Dalam hati Alfy juga mulai bertanya-tanya, apa benar semua yang di katakan Yunna. Alfy menolak pikiran yang membuatnya semakin bingung dengan takdir Tuhan, dia hanya akan terus bersama Yunna. Itulah janjinya.
Alfy masih tetap pada pendiriannya. Jikalau Yunna memang bukan tadirnya, dia yang akan menjadikan Yunna sebagai takdirnya. Untuk saat yang lalu, untuk saat yang sekarang, dan untuk saat yang akan datang.
●°●
'Ya Tuhan. Kalau seandainya Alfy memang jodohku, tolong parmudah aku untuk mengambil hatinya dan kalau Alfy memang bukan jodohku, tolong jauhkan lah dariku.'
Seperti itu doa yang selalu mengantar Maria saat mencoba menutup matanya sebelum cahaya matahari kembali menerangi bumi.
Doa yang sama, yang selalu menemani Maria dalam kamar saat dua minggu Alfy tidak kembali ke rumah.
Sejak terakhir Maria melihat Alfy di pesta ulang tahun Sonia, dia tidak lagi melihat Alfy. Bukan keinginan Maria tidak melihat Alfy, hanya saja Maria yang tidak tahu dimana keberadaan Alfy.
Sudah dua minggu Maria tidak mendengar kabar Alfy. Semenjak hari itu, Alfy bagai di ketenggelamkan di bumi.
Ryan. Kenapa Maria tidak kepikiran untuk menanyakan keadaan Alfy pada Ryan.
Maria mengambil handphone nya, mencari kontak Ryan dan mendial nomor Ryan. Tak lama Ryan mengangkat telponnya.
"Hallo, Ryan."
'Hallo. Ada apa, Maria?'
"Bagaimana keadaan Alfy?"
'Dia baik-baik saja.'
Baik-baik saja? Padahal di sini Maria sama sekali tidak baik-baik saja.
"Dia masuk kerja, hari ini?"
'Ya.' Rasa lega menenangkan hati Maria.
"Baiklah. Aku akan ke sana, tapi tolong jangan bilang-bilang Alfy."
'Yah, akan ku tunggu kau Ms. Yoan.'
"See you."
'See you.'