About My Pain

About My Pain
Chapter Twenty Seven



"Baiklah ayah, kalau begitu aku pergi dulu dan ingat! Jika ayah mau menikah bilang pada ku jangan menikah diam-diam."



Maria dengan lancangnya memperingatkan ayahnya, sungguh anak yang sangat berani.



Mr. Ollyfi yang sudah duduk di kursi kebesarannya mendengus saat mendengar peringatan Maria. Dia memang sudah tidak punya niat untuk menikah lagi, dia hanya ingin terus membayar kesalahan pada istrinya sepanjang sisa hidupnya.



"Haiss.. kau ini Maria. Aku sudah bilang, aku tidak akan menikah lagi. Lagi pula mana ada wanita yang ingin menikah dengan orang tua sepertiku ini."



"Ayah.. kau masih cukup tampan."



Maria berjalan mendekati ayahnya, duduk di meja dan memeluk ayahnya. Kalau saja ada yang tiba-tiba masuk dan melihat, mungkin akan ada ke salah pahaman.



"Kalau aku bukan anak ayah, aku mau menikah dengan ayah." Lanjut Maria.



Mr. Ollyfi melerai pelukan putrinya. "Tapi sayangnya kau anak ku." Mr. Ollyfi mencubit ke dua pipi tembamnya Maria.



"Sakit, ayah. Bagaimana dengan mantan sekertaris mu? Aku dengar dia masih belum menikah sampai sekarang. Dia pasti sangat menyukai ayah tampanku ini, sampai-sampai dia belum menikah hingga saat ini."



"Tidak, kau salah Maria. Sekarang dia sudah mempunyai putri yang sama cantiknya denganmu."



"Benarkah? Apa dia adikku?"



Maria sedikit terkejut mendengar pernyataan ayahnya. Setahunya wanita itu masih belum menikah.


Apa dia salah informasi? Sepertinya tidak, karena Maria mendengar dari orang terpercayanya.



"Apa-apaan kau ini Maria, mana mungkin aku menghamili anak orang tanpa beranggungjawaban dan membiarkannya menikah dengan orang lain."



"Jadi?"



"Dia sudah menikah dengan salah satu pengusaha dan mempunyai putri berumur 5 tahun." jawab ayahnya tanpa ragu. Maria senang kaerena perempun itu tidak lgi menjadi orang yang erarti untuk ayahnya.



"Ayah tidak sakit hati? Bagaimana Ju__"



Ledekan yang ingin di utarakan Maria terhenti dengan ayahya yang sudah lebih dulu peka akan perkataannya.



"Sudahlah Maria, dia hanya masa lalu. Kamu bilang kamu mau pergi. Pergilah! Ayah sudah bosn melihat wajahmu."



Berhasil. Maria berhasil meledeki ayahnya dan membuatnya kesal setengah mati.



"Aku pergi sekarang," Maria bangkit dari duduknya di meja, kembali berjalan mendekati pintu keluar. "Tapi ayah. Ayah mau aku mencarikan wanita untukmu?"



"Berhentilah mengodaku Maria!"



Maria langsung lari terbirit-birit memasuk lift.



Suara getar memenuhi lift, dengan cepat ia mengambil handphonenya dari tas kecil menggantung di bahu kanannya.



Seseorang menelponya, tidak ada ID hanya nomor yang tidak di kenal. Mengkin ada sesuatu hal penting, membuat Maria terpaksa mengangkatnya.



"Hallo. Ini siapa?"



'Hallo, Maria. Kau masih ingat suaraku, bukan?' Seorang di sebrang itu malah kembali bertanya.



"Yah, tentu saja Fanny. Ada apa? Tapi bagaimana bisa kau mendapat nomor telponku? Aku rasa aku belum memberikan nomorku yang baru."



'Apa itu penting? Oh, bagaimana kita pergi nonton bioskop? Aku sudah lama sekali tidak pergi ke tampat itu.'



"Ayuk. Bagaimana kita ajak Yogi?" Usul Maria antusias.



Sudah lama sekali mereka berkumpul saperti dulu.



'Yogi? Bukankah dia di Amerika?'



"Dia sudah di Indonesia. Aku yang akan mengajaknya dan menyuruhnya ke sana lebih dulu, sekarang kau menjemputku di perusahaan ayahku. Bagaimana?"



'Kau tidak bawa mobil?'



"Tidak."



'Oke, aku akan jalan ke sana sekarang.'



"Terimaksih, guardian angel yang telah sudi menjemput putri mahkota yang sangat cantik ini."



'Ya ya, terserah kau saja.' Fanny langsung memutuskan panggilannya.




Pikiran yang ada di kepalanya lini tidak lagi memutar, kesedihan sudah tergantikan dengan kebahagiaan. Tidak ada lagi nama Alfy yang memenuhi otak Maria, hanya ada bertapa menyenangkannya nanti saat berkumpul degan ke dua sahabatnya.



●°●



Maria dan Fanny dengan semangat melambaikan tangan kanan mereka di udara kepada pria tinggi berpakaian casual.



Sedangkan Yogi mengendus kesal, dia sudah menunggu empat puluh sembilan menit. Kakinya sudah pegal, belum lagi wajah tampan yang membuatnya menjadi pusat perhatian dan topik pembicaraan orang banyak. Kalau bukan karena ke dua sahabat karibnya itu, Yogi tidak mau melakukannya.



Tiga tiket sudah ada di tangannya. Yogi pikir setelah panjang mengantri dia tidak akan menunggu lagi, tapi pada kenyataannya tidak dia tetap saja menunggu.



"Hai, Mr. Yukka. How are you?"



Fanny memberikan sapaan tepuk kepal kepada Yogi dan pria itu membalasnya dengan lemas.



"Ehh.. loyo banget si, bro." Maria menonjok bahu Yogi.



"Tauk nih." Fanny menyetujui ucapan Maria.



"Kalian tau ga, ku sudah menunggu kalian berapa lama?"



"Enggak," jawab Maria dan Fanny bersamaan dan tak lupa dengan gelengan kepala mereka.



"Hahaha." Ke dua wanita itu tertawa bersama karena jawaban mereka yang sama.



Yogi memutarkan matanya, berjalan meninggalkan ke dua wanita aneh itu menuju studio menonton mereka. Tapi belum Yogi memberikan tiketnya pada penjaga bioskop, tangannya lebih dulu ditarik oleh Fanny.



"Ehh.. cebol, kita belum beli popcorn sama minumnya."



"Enak aja lo ngatain gue cebol. Lo ga ngaca sekarang siapa yang cebol?" Sahut Yogi tidak terima.



Dulu sewaktu SMA Yogi tidak setinggi sekarang, sebenarnya tidak bisa dikatakan pendek karena dulu Fanny saja yang cepat tinggi.



"Ih.. kalian malah berantem si, nanti jodoh loh. Lagian Fanny popcorn sama minuman di sini itu mahal." Sahut Maria memisahkan dua insan yang sedang berdebat itu.



"Kaya orang susah aja deh, Mir. Kamu ga inget CEO di depan kita ini bahkan bisa beli satu gedung biskop ini."



"..." Maria diam membenarkan perkataan Fanny.



"..." dan Yogi diam karena tidak bisa berkata-kata.



"Mana?" Fanny mengulurkan tangan mulusnya pada Yogi.



Kening Yogi mengkerut. "Mana apanya?" Yogi tidak mengerti apa yang di minta Fanny.



"Duit kamu lah, sayang." Fanny tidak menyangka temannya sebodoh ini.



"Kau pikir, aku ini bank mu?"



"Kamu kan CEO, jadi uangmu pasti menumpuk di bank. Dari pada berdebu," Fanny masih keukeh ingin meminta uang Yogi.



"Nggak, kamu juga CEO di restoran kamu." Bantah Yogi.



Seperti itu sampai semua orang sudah memperhatikan Mereka.



"Kalian ini, seperti orang susah saja." Sahut Maria. Dia sangat malas melihat tom and jerry ini yang tidak pernah berubah, selalu ada topik untuk berantem.



"Ya sudah, kalau begitu kau yang beli." Balas Yogi dan Fanny bersamaan membuat Maria tersentak kaget, dia tidak salab tapi dia yang kena semprot.



Mau tidak mau, suka tidak suka Maria bejalan mendekati tempat penjual popcorn beserta ***** bengeknya.



'Dasar CEO pelit.'



'Masa bodo,'



'Jomblo akut.'



'Cebol sejati.'



'Bodoh international'



'Sampah masyarakat'



Dam masih banyak lagi kitukan kutukan yang di dengar Maria dengan jarak yang lumayan jauh. Maria bingung apa yang harus di lakukannya agar ke dua makhluk itu berhenti berantem. Paling tidak mereka tidak berantem di tempat umum seperti ini, sungguh memalukan tingkat dewa.