
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Sudah hampir satu tahun Maria mengikat Alfy dengan tali pernikahan dan sekarang sudah saatnya untuk Alfy bebas dari tali itu. Semua ini terjadi karena Maria yang gagal mendapatkan hatinya Alfy.
Satu jam kedepan, Alfy bukan lagi suami Maria. Bagaimana perasaan Maria? Dia pun tidak tahu. Dia hanya merasakan dunianya menjadi warna putih dan hitam. Tidak ada warna merah yang menandakan kemarahan, tidak ada warna biru yang menenagkan, tidak ada lagi warna kuning yang menyenangkan, tidak ada.
Bukankah dunia berputar? Tapi, Maria merasa dunia hanya diam di tempatnya. Tidak pernah membiarkan dirinya berada di atas bagian bumi dan Maria tahu ini bukan lagi tentang takdir, tapi ini sudah seperti hukum alam untuknya.
Maria sudah duduk di sebelah Alma, pengecaranya. Dari awal masuk ke dalam ruang sidang, Maria hanya mendengarkan apa yang orang-orang berpengalaman dalam sidang, berbicara. Maria tidak mengerti dan juga tidak perduli. Dia hanya menunduk memilin jarinya atau sesekali melihat Alfy.
Alfy sudah duduk di sebelah pria yang sudah tidak asing di mata Maria. Pria yang hampir setiap ke kantor Alfy, Maria melihatnya. Ternyata pria itu adalah pengecaranya Alfy.
Maria ingin sekali menangis, tapi air matanya tertahan begitu melihat salah satu bangku saksi ada ayahnya yang setia menunggunya, yang setia menerima putrinya kembali menjadi tanggung jawabnya.
Sedangkan mama dan papa Alfy tidak ada di ruang persidangan. Maria tidak tahu mereka tidak mau melihat atau malah Alfy yang tidak memberitahukan mereka.
"Pengecar istri, silahkan berbicara." Hakim mempersilahkan Alma berbicara.
Alma berdiri dari duduknya dan pengecara Alfy yang tadi berbicara kembali duduk. Alma membicarakan semua isi tentang rangkumannya tanpa melirik sedikitpun, seolah Alma sudah menghapalnya di luar kepala.
Debaran kencang dijantung Maria tidak juga berhenti, debaran yang membuat kedua tangan Maria basah. Berbeda dengan Alfy yang terlihat sangat-sangat tenang.
"Setelah gugatan cerai hari ini, jika Maria mengandung, hak asuh seratus persen milik Maria."
Perkataan Alma membuat semua orang di ruang sidang tegang. Apa lagi Alfy, nafasnya tercakat dan tubuhnya mati rasa beberapa detik. Pengecara Alfy pun tidak menyangkan Alma akan berbicara seperti itu.
"Ap.. ap.. apa yang kau katakan?" Alfy tidak terima dengan apa yang Alma katakan.
Alma melirik tajam Alfy. "Apa ada yang salah? Memang, sekarang Maria tidak hamil, tapi siapa yang tahu satu bulan kedepan? Apa lagi kalian sudah berhubungan intim." Jawab Alma sedikit sarkis.
Semua orang mengagguk setuju dengan perkataan Alma.
Alfy melirik pengecaranya, mengisyaratkan untuk melakukan sesuatu yang membantunya. Tapi pengecara Alfy hanya menggeleng pasrah dan Alfy mengeraskan rahangnya.
Tok.. tok.. tok..
Tes
Tiga ketukan palu kayu yang menandakan Alfy dan Maria resmi bercerai, dua tetes air mata berhasil menjebol dari pertahan Maria.
Detik ini dia kembali menjadi Maria yang dulu, tapi yang jelas sekarang dia sudah tidak ada lagi harapan memiliki Alfy seperti dulu.
'Buang semua harapan! Dan jangan lagi mengikuti nafsu mu, Maria!' Itulah semua arti dari setiap perkataan yang terus berputar dikepala Maria.
'Sekarang jadilah teman yang baik dan lupakan semua dendam.' Kata lain yang bisa ditemukan Maria dalam otaknya. Setidaknya dia masih bisa menjadi teman yang baik.
Tiga ketukan palu kedua, menandakan persidangan selesai. Semua orang mulai meninggalkan ruang persidangan, tapi Maria masih terduduk dengan pandangan kosong.
"Mari kita bicara sebentar." Suara menyadarkan Maria dari lamunannya dan membuatnya sadar hanya ada mereka berdua yang tersisa di ruang sidang.
Maria berdiri dari duduknya. Menampilkan fake smile nya. Ingat! Teman yang baik.
"Terimakasih sudah menepati janjimu." Perkataan itu sangat menohok hati Maria, tapi sebisa mungkin Maria tidak menghilangkan senyumnya.
"Itu memang sudah seharusnya."
Alfy membawa tubuh Maria masuk ke dalam pelukannya. 'Sial!' Perlakuan Alfy berhasil menunpuk uapan air dimatanya. Jangan lagi Alfy! Jangan lagi memberi Maria harapan. Sudah terlalu banyak luka yang Maria dapatkan.
"Kamu berhak menjadi lebih bahagia. Aku harap..." jangan katakan itu Alfy! "Kamu menemukan seseorang yang lebih mencintaimu dari dirimu sendiri. Maaf karena orang itu bukan aku."
Tes
Pekataan Alfy berhasil mejebol semua pertahan Maria. Bukan hanya dua tetes, tapi banyak sampai bisa membuat baju kemeja Alfy basah. Iskan kecil mulai terdengar dan nafas yang tersendat-sendat.
Alfy mengeratkan pelukannya. Mereka sama-sama tidak mengeluarkan suara, sampai sebuah tangan menarik baju, membuat pelukan Alfy terlepas.
Plak!
Sebuah tamparan keras langsung mendarat dipipi Alfy, sedangkan Maria memekik kaget dan menutup mulutnya.
Rene yang entah datang darimana lagsung nempar Alfy. "Apa-apaan ini, Alfy?" Rene memukul tubuh Alfy bertubi-tubi, berharap Alfy akam sadar dengan apa yang sudah dilakukan putranya itu salah.
Pipi Rene sudah basah dengan air mata, Maria menangkap tangan Rene dan langsung memeluknya. Beharap amarah Rene bisa bekurang. "Sudah, mah.."
Rene membalas pelukan Maria dengan erat. Wanita tua itu menangis dipelukan Maria, sambil terus mengatakan maaf. Maria tidak meneteskan air mata lagi, karena itu hanya semakin memperburuk suasana hati Rene.
Maria melihat papa Alfy di pintu ruang sidang, bersama ayahnya. Maria sebisa mungkin memberikan senyuman terbaiknya pada mantan papa mertua.
Alfy hanya terdiam, mungkin sedang memikirkan sesuatu. "Mungkin Maria memang bukan jodoh Alfy, mah. Sekarang sudah terbukti kalau Yunna memang jodoh Alfy, mah. Jadi jangan lagi memaksa Alfy dengan orang lain ya mah?"
"Maria baik-baik saja." Lanjutnya.
Rene melepaskan pelukan Maria, membuat jarak. "Sayang... mamah yakin kamu bakal dapet seseorang yang mencintai kamu dan mamah juga yakin setelah dua tahun Alfy akan menyesali perbuatannya." Rene mengelus lembut rambu Maria.
Maria mengagguk dan mempelihatkan senyuman manisnya. "Iya mah! Alfy bakal menyesal kerena melepas Maria! Hahaha." Maria tertawa kecil untuk mengusir suasana yang tidak enak.
"Maria dan Alfy berteman sekarang, mah. Iya kan, Alfy?" Alfy tersadar dari lamunannya, membenarkan perkataan Maria.
"Ayo kita pergi dari sini, mah. Suasana di ruangan ini sangat tidak menyenangkan." Ujar Maria mengajak Rene pergi.
Semua orang tahu apa arti dari maksud 'tidak menyenangkan' untuk Maria.
Ig Author : @dalaeliani
Jangan lupa mampir guys..