About My Pain

About My Pain
Chapter Fifty Two



Maria seorang model yang sekarang menjadi dokter selalu berhasil merebut perhatian orang-orang disekitarnya.


Senyum di bibir tidak pernah hilang saat melihat pasien atau siapapun yang menyapanya sepanjang koridor rumah sakit.


Dulu semua orang berpikir Maria adalah wanita yang sempurna, tapi sekarang sudah menjadi rahasia umum bahwa Maria bukanlah wanita yang sempurna. Yah, Maria yang tidak bisa mendapatkan hati Alfy selama pernikannya adalah kecacatan yang Maria miliki.


Lihat! Tuhan sangat adil bukan? Tuhan memberikan kelebihan dan kekurangan pada hambanya.


Apa kalian berpikir Alfy manusia sempurna? Dia kaya, tampan, bisa mendapatkan cintanya yang sangat cantik. Bukankah hal itu yang bisa membuat semua orang sempurna?


Tidak. Alfy juga bukan orang yang sempurna, sekarang hal yang dia pikir sempurna itu malah menjadi cacat. Mendapatkan Yunna bukan lagi hal yang sempurna, malah dia merasa kehilangan kesempurnaannya, yaitu Maria.


Yunna melahirkan seorang putra untuk Alfy, setidaknya itu sedikit menambal bolongnya kesempurnaan milik Alfy.


Alfy menatap keramaian kota dibalik kaca besar di ruang kerjanya.


Hampa terasa menyelimuti dada. Entah kenapa perasaan itu yang selalu mengisi harinya selama lima tahun terakhir. Sampai sekarang, Alfy masih memikirkan apa yang salah dengan dirinya. Seharusnya bukan hampa dan sepi seperti ini.


Beribu-ribu pertanyaan memasuki otaknya. Maria? Apa wanita itu baik-baik saja? Apa Maria merasakan ke hampaan yang Alfy rasakan? Atau Maria sudah bahagia dengan pria lain? Cinta itu... apakah cinta itu masih ada di hati Maria? Bolehkan, Alfy kembali meminta hati itu? Hati yang pernah Alfy goreskan luka.


Maria Nuan Ollyfi dulu di nama belakangnya terdapat nama Alfy, tapi itu dulu.


"Kamu sudah makan siang, Alfy?"


Sebuah tangan melingkari pinggang Alfy dari belakang. Alfy tidak lagi perlu untuk melihat siapa pemilik tangan dan suara itu. Hampir separuh hidupnya, Alfy lalui bersamanya. Tapi perbedaannya tidak ada lagi rasa gugup yang membuat detak jantungnya berdetak cepat dan bunga-bunga di dalam perutnya seakan melayu, tidak seperti saat pertama kali Alfy mencium kening Maria.


Apakah Alfy terlihat sangat jahat untuk Yunna sekarang? Bukankah seharusnya Alfy tidak merasakan hal ini? Perasaan yang sudah menjadi terlarang.


Alfy berbalik dan menggengam tangan wanita yang melahirkan putranya. Mata mereka bertemu. "Dimana Rasya?" Tidak berlama-lama mereka tatapan, mata Alfy mengelilingi ruang kerjanya mencari dirinya versi kecil.


Yunna menangkup wajah Alfy membuat tatapan mereka kembali bertemu. "Kamu lupa? Hari ini, hati pertama Rasya disekolah barunya." Jawab Yunna.


Tangan Alfy beranjak melingkari pinggang Yunna. "Ah, iya. Aku hanya ingat dia masih kecil." Senyuman manis tercipta di bibir Alfy dan Yunna masih bisa merasakan bunga bermekaran di perutnya.


Masih dengan menangkup pipi Alfy, Yunna bertanya. "Alfy apa kau menyesal menikah dengaku?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Alfy tidak tahu Yunna bisa berpikiran seperti itu. Apa selama ini Alfy melakukan sesuatu yang membuat Yunna berpikiran seperti itu?


Alfy sudah berusaha untuk tidak merubah sikapnya pada Yunna, sedikitpun. Tapi Yunna yang bisa merasakan hati Alfy sudah tidak ada lagi untuknya.


Yunna memberi kertas kecil bertuliskan alamat. "Datangi Maria dan bujuk dia kembali padamu! Aku tidak bisa melihatmu selalu murung."


"Aku tidak mau, Yunna." Tolak Alfy.


"Kamu akan menyesalinya, Alfy. Emam tahun berlalu, kamu tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Maria. Kau baik-baik saja, tapi belum tentu Maria baik-baik saja. She have a baby." Jelas Yunna.


Baby? Banyak pertanyaan langsung menyerbu pikiran Alfy. Jantungnya berdetak lebih lambat yang menimbulkan rasa sakit. Alfy ingin melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa itu, tapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Alfy sudah merasa benar-benar jauh dari Maria. Seperti bintang dilangit, susah digapai.


Alfy menelan ludah. "Kalau Maria sudah menikah itu bukan hal yang aneh, Sayang." Alfy berhasil mengontrol perasaannya dengan baik, membawa Yunna kembali ke dalam pelukannya.


Yunna menggeleng, mendorong tubuh Alfy. "Bukan. Bukan itu maksudku Alfy. Maybe she have your baby!"


'Tidak mungkin.' Bisik Alfy salam hati.


Alfy mencari suatu ekpresi dari wajah Yunna, tapi dia tidak berhasil mendapatkannya membuat pikiran Alfy melayang pada kejadian enam tahun lalu, di malam Alfy menampar Maria didepan semua orang.


*Meskipun Alfy menarik Maria ke tempat yang lebih sepi, tapi tetap menjadi perhatian semua orang di ruangan.


"Pernikahanmu." Maria memberanikan diri melihat ke mata Alfy. "Aku sudah bilang sama Mamah. Aku sudah menceritakan semua apa yang terjadi pada kita dan Mamah bisa mengerti. Sekarang, Mamah mengizinkanmu menikah dengan__"


Plakk...


Perkataan Maria terhenti, begitu tangan besar Alfy yang pernah dipergunakan mengelus tangannya, sakarang tangan itu dengan kerasnya menabrak pipi kirinya.


Maria menyentuh pipinya yang memenas karena tamparan Alfy. Air mata? Sudah menggenang di matanya tinggal jatuh, namun Maria masih mampu menahannya.


"Kenapa Alfy? Apa salahku? Aku hanya ingin melihat bahagia." Ujar Maria.


"KAU PIKIR, KAU SIAPA? MEMBUAT ACAR PERNIKAHAN UNTUKKU?" Alfy langsung hanyut dalam emosinya yang mendidih, berteriak dan suaranya memenuhi seluruh ruangan. Semua orang terdiam, tidak ada yang berani membuat suara karena teriakan Alfy. Apalagi Maria sebagai objek kemarahan Alfy.


Tidak seharusnya Maria melukai harga dirinya dengan membuat pernikahan, untuk Alfy ini adalah sebuah penghinaan besar.


"Alfy... tidak bisakah kita menjadi teman? Aku melakukan ini untukmu, sebagai teman." Jawab Maria dengan suara yang semakin melemah, dia tidak lagi berani melihat ke wajah Alfy.


Alfy tertawa hambar. "Teman? Aku tidak mau berteman DENGANMU!" Alfy kembali berteriak, kemudian membalikan tubuhnya berjalan meninggalkan Maria. Hingga beberapa suara menyerukan nama Maria menghentikan langkah besarnya.


"MARIA!"


Teriakan terakhir Alfy sudah berhasil membuat reaksi menyakitkan pada jantung Maria dan wanita itu tidak lagi bisa menahan rasa sakit pada jantungnya, ditambah kepalanya juga sakit.


Alfy berbalik dan mendapati Maria tergulai tidak sadarkan diri di lantai. Alfy menelan ludahnya dengan susah. Mendekati Maria untuk membawanya, tapi Alfy kalah cepat dengan Dane.


Dane menggendong tubuh Maria meninggalkan ballroom.


Tubuh Alfy tidak lagi bisa bergerak. Suara bisik-bisik di sekitar tidak bisa mengentikan Alfy yang mulai berkutat dengan pikiran-pikirannya. Apa dia sudah sangat keterlaluan pada Maria? Hingga membuat Maria pingsan. Gambaran obat dalam tas Maria, melintas di kepala Alfy. Apa karena itu?*