
"Bagaimana rasa tubuhmu? Apa terasa lebih baik?" Senyuman terpampang jelas Maria berikan kepada pasien di hadapanya. Hari dokter Theo memberikan tugas pemeriksaan harian beberapa pasien pada Maria.
Maria senang sekali melakukan kontak langsung dengan pasien, rasanya mood Maria kembali ketika mereka mengatakan ada kemajuan dari hari kemarin atau beberapa orang menyadari dirinya mantan model dan banyak hal baik yang mereka bicarakan tentang aku yang masih jadi model.
"Terasa lebih ringan, cantik." Senyum Maria semakin lebar ketika wanita lanjut usia di depannya menjawab pertanyaannya sambil memuji dan mucawil dagu lancipnya.
"Istirahatlah yang banyak nenek, minggu depan dokter Theo akan memulangkanmu kalau istirahatmu sudah cukup." Nenek itu menjawab Maria dengan anggukan.
Maria pindah memeriksa pasien di sebelah nenek tadi, tapi suara ribut di luar lebih menarik perhatiannya, sehingga Maria memilih memeriksa keadaan di luar lebih dahulu untuk mengamankan para pasien dari keributan ini.
"Lepas! Lepaskan tanganku brengsek!"
Mata Maria terbuka lebar mendapati Alfy yang kedua tangannya di tahan oleh dua pria berpakaian hitam. "Ada apa ini?" Maria tidak meninggikan suaranya karena ingat banyak pasien disini.
"Tuan ini memaksa menemui anda, padahal dokter Theo sudah melarangnya." Jelas salah satu sekuriti.
Maria memijat ujung hidung yang tiba-tiba sakit. Kenapa pria-pria itu sangat kekanakan.
"Theo tidak berhak melarangku menemui Maria, lepas!" Alfy mengehentakan keras tangannya, sehingga tangannya terlepas penjaan dia sekuriti pengganggu.
"Kamu lupa ini rumah sakit? Disini banyak pasien, kenapa kamu malah berbuat keributan?" Tanya Maria pada Alfy.
"Aku hanya ingin bicara denganmu, tapi mereka menghalangiku. Kamu bilang aku bisa bicara kapanpun denganmu." Alfy benar-benar membuat Maria ingin mwnguburnya hidup-hidup.
"Lepaskan dia, pak! Biar saya bicara dengannya." Dua sekuriti itu pergi.
"Ikut aku!" Maria menarik tangan Alfy lorong sepi yang tidak akan mengganggu siapapun, bahkan yang jalan disinipun jarang.
Setelah sampai Maria melepaskan genggamannya dan Alfy merasa kehilangan akan kehangantan tangan Maria.
"Setelah bercerai, kenapa kau banyak sekali ingin bicara?" Tanya Maria kritis, ia tidak suka dengan apa yang Alfy lakukan tadi. Dimana moral sebagai orang terhormatnya? Yang Maria lihat itu bukan Alfy sama sekali, Alfy yang Maria kenal adalah pria dingin dengan tingat keegoisan dan harga diri yang tinggi. Membuat keributan adalah hal yang paling dihindarinya.
Alfy sedikit bingung dengan perubahan sifat Maria, ini pertama kalinya Alfy melihat sifat Maria yang tidak bersahabat. "Kamu benar akan menikah dengan dokter kampungan itu? Maria kamu cinta sama aku, bagai_"
"Sudah tidak. Aku tidak mencintaimu, cinta untukmu sudah habis termakan luka dan waktu. Aku sudah melupakanmu." Sela Maria.
Alfy menyudutkan Maria ke dinding. Wajah mereka menjadi dekat sekali. "Sudah melupakanku? Baiklah, terserah apa katamu. Tapi seharusnya kau mencari pria yang lebih dariku bukan pria yang mengotori tangannya dengan darah."
Deg.. deg.. deg..
"I..itu bukan urusanmu. Dengan siapa aku berhubungan, kau tidak punya hak men_" Maria meronta, mendorong tubuh Alfy agar menjauh, tapi Alfy mencium bibir Maria.
Plak
Setelah beberapa detik Maria tersadar apa yang Alfy lakukan mendaratkan keras telapak tangannya di pipi Alfy. "Kau melupakan setatusmu, Alfy. Apa sekarang kamu menyesal sudah melepasku?" Darah Maria mendidih emosi
Alfy diam memegangi pipinya yang memerah, tidak menjawab pertanyaan Maria. Menyesal! Alfy sangat menyesal melepaskan Maria. Di saat Alfy baru tahu Maria sudah berhasil mengambil setengah hatinya, ia sudah melepas Maria membawa pergi hatinya.
Enam tahun berlalu, Maria berhasil mendapat sarjana kedokteran. Sedangkan Alfy, seperti berjalan di tempat. Sehingga di setiap beberapa detik di satu jamnya, Alfy selalu memikirkan Maria. Apa yang sedang wanita itu lakukan? Apa sudah makan? Apa mata Maria masih terjaga di tengah malam, seperti Alfy yang sedang memikirkannya? Dan pertanyaan semakin banyak memenuhi otaknya kalau tidak ada seseorang yang membangunkan Alfy dari lamunannya. Alfy tidak bisa mendengar Maria hidup berjalan lancar tanpanya, mendengar Maria bahagia tanpa Alfy, membuat hati Alfy sakit karena itu Alfy tidak lagi mau mencari tahu tentang Maria.
Peranan yang dulu miliknya akan di miliki pria lain. Tidak bisa! Alfy tidak bisa membiarkan hal itu terjadi karena dari dulu Alfy adalah orang yang egois, semua keinginannya selalu terpenuhi. Termasuk mendapatkan Maria kembali.
"Kalau aku menyesal, apa kamu akan kembali padaku?" Alfy menatap mata indah Maria dengan rindu yang meminta untuk memeluk tubuh wanita itu.
"Tidak." Maria membalikan tubuhnya, berjalan meninggalkan Alfy. Ada
"Kenapa? Apa salahku?"
"Kau memilih berlari meninggalkanku yang terseok karena luka. Sekarang aku menemukan cinta yang baru, jadi jangan pernah ganggu hidupku dengan menunjukan batang hidungmu di depan mataku." Maria berbalik meninggalkan Alfy dan air mata sudah membasahi pipi lembutnya. Lagi-lagi Alfy melukai hati lembut Maria.
"TIDAK MARIA! KEMBALI PADAKU ATAU AKU AKAN MENGAMBIL RION DARIMU!"
●°●
Di ruangan kerjanya, Alfy terlihat berantakan. Bukan. Sangat berantakan. Sudah dua jam, Alfy mendekam di kantornya ditemani botol-botol minuman keras. Ia sedang berusaha menghilangkan nama Maria, wajah Maria, suara Maria, dan rasa sentuhan Maria dari dalam pikirannya.
Alfy tidak bisa mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Seharusnya Alfy bisa terima apapun yang Maria lakukan karena ia bukan lagi suaminya, tapi rasa tidak ikhlas sangat mengganjal di dadanya.
Apa dulu Maria merasakan seperti ini saat melihat dirinya dengan Yunna? Ya Tuhan, berapa kali Maria merasakan hal seperti ini? Kenapa wanita itu sangat kuat menahan rasa sakit ini?
Mengambil Rion darinya? Jangan melucu! Bahkan Alfy tidak berani menyentuh ujung rambut putranya. Putra yang tumbuh tanpa sepengetahuannya. Seharusnya dulu ia tidak menghentikan untuk Rian melaporkan semua hal tentang Maria, Alfy pasti bisa lebih cepat mengetahui keberadaan Rion.
Masa hamil, bagaimana bisa Maria bisa melewati masa hamil tanpa seorangpun di sisinya? Bagaimana Maria memenuhi seluruh kebutuhan Rion saat akan dilahirkan? Saharusnya Alfy disana, menenangkan Rion yang menendang perut Maria dengan elusan lembut atau ciuman, membeli apa yang Maria idamkan, membawakan apa yang Maria butuhkan, menggenggam tangan Maria saat bertaruh nyawa melahirkan Rion. Seharusnya Alfy disana, mengucapkan 'Terimakasih, sayang. Sudah mempertaruhkan nyawa untuk anak kita. Anak kita adalah tanda cinta kita sampai mati dan aku hanya pria beruntung yang bisa mendapatkanmu.'
Ya Tuhan, Alfy sangat menginginkan Maria kembali padanya. Apa yang harus Alfy lakukan agar semua luka Maria sembuh dan kembali padanya? Alfy ingin bahagia bersama Maria. Karma kembali padanya, sekarang Tuhan sedang menghukumnya, menghukum dirinya yang membutakan mata dan hatinya untuk melihat luka yang ia buat sendiri. Menyia-nyiakan wanita sesempurna Maria.
Maria, maafkan aku. Maafkan aku. Aku mohon, maafkan aku. Aku tahu maaf tidak cukup mengobati lukamu, jadi beri tahu aku bagaimana agar aku bisa memyembuhkan luka dihatimu tanpa bekas. Tapi aku mohon, jangan meminta aku meninggalkanmu karena aku tidak bisa.