
Maria terlihat tidak kosen pada pekerjaannya, kata-kata Alfy sangat mengganggunya. Maria takut Alfy benar-benar akan mengambil Rion darinya, meskipun hukum sudah mengklim Rion miliknya tetap saja sifat egois Alfy yang membuat Maria takut, Alfy bukan orang yang mudah menyarah begitu saja.
Rasanya Maria ingin mengajukan cuti dan berlibur menenangkan diri bersama Rion atau itu lebih cocok dikatakan melarikan diri? Tidak masalah, Maria ingin beristirahat dari permasalahan sebentar , sambil mencari jalan keluarnya.
"Rion," Maria memanggil Rion yang sedang sibuk dengan buku bergambarnya. "Gimana kalau kita pergi berlibur?" Tanya Maria.
Rion menatap Maria dengab mengerutkan keningnya, tiba-tiba sekali ibunya mengajak berlibur. "Tidak bisa, mom. Ini bukan musim libur, aku harus sekolah." Jawab Rion sambil kembali fokus pada bukunya.
Rion benara ini bukan musim liburan, tapi Maria sedang benar-bebar muak dengan semuanya. Dalam pikiran Maria melarikan diri adalah yang terbaik. Alfy sudah benar-benar tidak bisa dikendalikan di tambah Theo yang semakin membuat kepala Maria mau pecah.
"Hanya sebentar, mommy akan meminta izin pada gurumu." Maria terus membujuk Rion.
Seperti orang dewasa Rion menarik nafas dan membuangnya, manututup buku spesies dinisaurusnya. "Mom, apa grandpapa tahu kalau mommy mengajak aku tidak masuk sekolah?"
Tentu saja papanya Maria belum tahu, kalau pria tua itu tahu sudah habis Maria di tangan papanya. "Ayolah, kita ke Jepang atau...Korea?"
Hati Rion sedikit terusik saat Maria mentebutkan negara Korea, Maria sangat tahu Rion ingin pergi ke negara dimana untuk pertama kalinya mereka bertemu, saat itu Maria sendirian dan tiba-tiba pingsan setelah memasangkan gembok cinta di Namsan tower, orang-orang di sekitar Maria menelpon ambulan, setelah Maria sadar di rumah sakit dokter mengatakan Maria sedang hamil.
Setelah mendengar cerita bagaimana pertemuan mereka berdua, Rion sangat ingin pergi ke Korea, bahkan Maria tahu Rion sedikit-sedikit belajar bahasa Korea dari animasi di televisi.
Rion berpikir keras, memikirkan alasan-alasan untuk menyetujui rencana mommynya. Di lihat akhir-akhir ini wajah mommynya sedikit berubah, mungkin karena Rion yang bertanya-tanya tentang papa.
"Korea, call!" Rion memeberikan ibu jari yang ke atas di depan wajah maria.
Maria terdiam. Call? Siapa yang harus hubungi. Maria mengambil tangan Rion, dengan wajah bingung Maria bertenya. "call? Siapa yang harus mommy hubungi?"
Rion memutarkan matanya, "Call itu bahasa gaul korea, mom. Artinya setuju."
Senyum lima jari terbentuk dibibir Maria, tangannya mengacak-acak rambut Rion. Maria mengangkat tubuh Rion, lalu berputar-putar. "Yey, Korea! Yey,"
"Yey.. yey.. Korea!" Sorak Rion.
Bahagia. Hanya seperti ini saja Maria sudah sangat bahagia. Dulu ia berpikir tidak akan bahagia tanpa Alfy, tapi kenyataannya Maria bahagia hanya dengan Rion.
Bagaimana dengan Rion? Apa Rion bahagia hanya dengannya? Apa Maria bisa selalu membuat Rion bahagia? Maria ingin sekali memikirkan kebahagian Rion itu, nanti. Tapi sekali lagi, bahagianya Rion adalah kebutuhan Maria yang tidak bisa di nanti-nanti.
Tunggu! D I L E M A. Kenapa Maria harus merasa dilema? Bukankah harusnya berusaha dulu sebelum dapat hasil? Maria harus berusaha membuat Rion bahagia dulu, baru tahu apa Rion bahagia atau tidak.
●°●
"Rian. Besok, aku dan Rion akan pergi ke Korea. Bisa kau anatarkan aku ke bandara?"
Setelah menelpon Rian, Maria mengutuk dirinya yang lagi-lagi membuat pria itu repot. Padahalkan sekarang Rian sudah memiliki kekasih dan seharusnya Maria tidak memotong waktu pasangan muda itu untuk berduaan kalau sampai kebablasan Maria ikut untung karena dapat ponakan baru. Oh, Tuhan. Maafkan Maria yang kembali pada otak mesumnya.
"Korea? Ada apa?"
"Aku dan Rion akan berlibur. Kalau kau tidak bisa memgatarku, tidak masalah." Aku bisa naik taksi. Lanjut Maria salam hati.
Rian memutarkan matanya, "Aku tahu, tapi pasti ada alasan lain, kan?"
Selama menjadi Rion sendiri, Rian yang paling mengerti diri wanita. Bisa dikatakan Rian adalah pria paling peka dianatara pria yang ada di sekitar Maria. Apa Maria pernah mengatakan itu?
Waktu sedang hamil tua tiba-tiba jam 2 pagi, Maria mengganggu tidur Rian hanya karena ia ingin makan ayam cepat saji. Tanpa bantahan dan tanpa menunggu lama, Rian sampai di rumah Maria dengan kantong plastok berlogo restaurant cepat saji ditangannya.
Masih banyak hal-hal merepotkan Rian selama masa hamilnya. Tapi sayangnya Rian memperlakukan Maria sama seperti wanita lainnya. Rian sangat mencintai wanita yang melahirkannya yang membuat Rian memperlakukan wanita sangat spesial. Beruntung sekali wanita yang bisa mendapatkan Rian.
Yang mau mencoba mendapatkan Rian, bisa daftar ke Maria. Tapi harap memiliki banyak kesabaran karena saat ini Rian sedang dekat dengan wanita bernama Jennie, meskipun memang pada awalnya Maria yang memaksa Rian menemui Jennie. Jangan bersedih. Janur kuning masih belum melengkung, artinya Rian masih milik bersama.
"Hei," Rian melambaikan tangannya tepat didepan wajah Maria. "Malah melamun. Apa ini ada hubungannya dengan Alfy?"
Cerita tentang apa yang Alfy lakukan di rumah sakit mengalir, menjadikan informasi baru untuk Rian. Rian tidak tahu harus menanggapi cerita Maria seperti apa, Rian hanya ingin meninju wajah Alfy dan mendorong sahabatnya itu menjauhi Maria.
Tebakan Rian tepat seratus persen. Kepergian Maria ke Korea untuk kembali menenangkan pikirannya. Alfy menginginkan kembali padanya, tapi itu bukan lagi hal yang mudah. Tidak akan ada wanita yang mau di madu, meskipun Yunna mengatakan sanggup, tapi Maria yang tidak sanggup melukai hati lainnya hanya untuk menyembuhkan hatinya. Nanti bukannya menyembuhkan hatinya, malah membuat hatinya semakin berat. Berbagi hati bukan hal yang mudah dilakukan. Yang terpenting sekarang adalah Maria sudah bahagia hidup berdua dengan Rion.
"Aku akan mengantar__"
Maria lebih dulu menghentikan ucapan Rian. "Mmm... tidak. Aku dan Rion bisa naik taksi. Aku tahu kau sudah punya janji bertemu Jennie." Rian mempersiapkan dirinya, setiap Maria mulai membicarakan wanita yang dekat denganya, ia tahu mode pidato Maria akan segera on.
"Jangan memberinya harapan palsu. Kalau detak jantungmu tidak berubah padanya, jauhi Jennie. Biarkan dia dekat dengan pria lain, sebelum terlambat. Kau juga harus bahagia! Aku melakukan ini karena ingin kau mendapatkan wanita terbaik yang kau cintai, untuk membayar semua bantuan-bantuan besarmu padaku. Aku sudah sangat menyusahkanmu. Mulai dari mengganggu waktu kerja hingga mengganggu waktu istirahatmu. Tolong jangan jadi pria seperti Alfy, jangan mudah menduakan. Kalau kau mendukan wanita, bahkan mentigakan, atau menempatkan, apa kau tidak pernah berpikir kalau nanti semua wanitamu sudah tua mereka akan sangat menyusahkanmu. Yang satu sudah tidak kuat berjalan, yang satu mudah ngompol, yang lupa siapa kau, atau yang satu lagi__"
Perkataan Maria sudah mulai kemana-mana, Rian membekap mulut Maria menghentikan bicaranya wanita itu. "Maria. Cukup! Aku tidak pernah punya niatan untuk mendua, mentiga, bahkan menempatkan wanita. Berhenti berbicara! Pergi mengemas pakaianmu!"
Rian membalikan tubuh Maria, mendorong janda beranak satu itu memasuki kamarnya.