
Setelah cutinya selesai, hari ini Maria kembali pada rutinitasnya di pagi hari -mengecek pasien dokter Theo.
Maria masuk ke dalam ruang inap 126 A bersama perawat dibelakangnya. Ini pasien terakhir yang harus Maria periksa pagi ini, sambil menunggu dokter Theo datang.
"Hai, Tara." Sapa Maria pada anak laki-laki seumuran Rion yang dirawat karena kakinya retak.
Tara termasuk anak yang super aktif, jadi sangat rawan untuk terluka karena tingkahnya. Semua ibu pasti khawatir, tapi hebatnya ibu Tara tidak khawatir berlebihan. Maria tidak tahu bagaimana jadinya kalau terjadi padanya. Rasanya seperti kebakaran jengggot, mungkin.
"Hai, kakak dokter." Tara balik menyapa Maria dan melepaskan mainan yang awalnya menjadi fokusnya.
"Selamat pagi, bu." Maria beralih menyapa pada ibunya Tara yang langsung berdiri dari duduknya saat Maria datang.
"Selamat pagi juga, dok." Ibunya Tara menjawab Maria dengan senyuman hangat.
"Bagaimana seminggu di rumah sakit, Tara?" Maria bertanya sambil mulai mengecek kaki Tara.
"Bosen kak dokter," Jawab Tara.
Maria tertawa kecil. Mengingat alasan Tara memanggilnya kakak, itu karena Maria cantik -katanya.
Semua orang pasti akan meraskan hal yang sama, entah itu anak kecil atau orang dewasa.
"Hari ini, Tara boleh pulang."
"Yey!" Tara mengangkat tangannya senang.
"Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa dok?" Anak itu merengut.
"Jangan dulu bermain yang berat-berat."
"Main yang berat-berat itu apa dok?"
Maria tersenyum. Mengelus rambut Tara. Tidak salah anak sekecilnya tidak mengetahu arti lain dari berat yang dimaksud Maria. Rion juga pasti tidak tahu. Nanti Maria akan tanyakan pada putranya.
"Main lari-larian atau main bola, pokoknya bermain yang mengeluarkan banyak keringat. Mengerti?"
Tara menjawab pertanyaan Maria dengan anggukan lalu kembali fokus pada layar besar dipakuannya menempilkan film kereta yang bisa berbicara.
"Dua minggu sekali kaki Tara harus dicek. Setelah tiga bulan gipsnya bisa dilepas, tapi kalau tulangnya bisa sembuh dengan cepat sekitar dua bulanan Tara bisa lepas gips. Untuk saat ini perhatikan Tara saat bermain, karena Tara anak yang sangat aktif, pasti dia sangat terganggu dengan gipsnya, dan tidak sabar ingin bermain seperti biasa." Maria memberikan beberapa tunjuangan dari catatan yang diberikan dokter Theo.
"Terimakasih banyak, dok." Maria membalas ibu Tara dengan senyuman. Ini sudah menjadi tugasnya.
Maria kembali pada Tara. "Tara, kakak pergi dulu ya." Melambaikan tangan pada Tara.
"Dah, kak dokter." Tara balas melambaikan tangannya. Ibu Tara mengantar Maria hingga ke depan pintu.
Maria pergi ruang praktek dokter Theo. Mengambil alih catatan dari perawat, membiarkan perawat itu pergi.
Tok...tok...tok...
Beberapa detik menunggu tidak ada jawaban dari dalam ruangan. Sepertinya dokter Theo belum datang. Maria membuka pintu, melihat meja dokter Theo dari sela pintu.
Tidak ada tanda-tanda dokter Theo sudah datang. Jas putihnya masih tergantung dan mejanya masih rapih tak tersentuh. Maria masuk, menaruh catatan hasil cek harian pasien di atas mejanya.
Berbalik dan Maria sangat terkejut mendapati dokter Theo bangun dan duduk diatas kasur periksa dokter dengan kemeja merah marun sangat rapih.
"Saya pikir dokter belum datang." Maria mengelus dadanya. "Saya menaruh hasil cek harian di atas meja, dokter." Maria menunjuk beberapa dokumen beramplop kuning.
"Senang bisa melihat wajahmu lagi." Dokter Theo mengatakan itu dengan wajah dinginnya.
Maria membuang nafas beratnya, ia mengerti apa maksud dokter Theo. Dokter Theo pasti bosan melihat wajahnya lagi, bukan? Maria mengangguk membenarkan pikirannya.
"Saya masih belum selesai koas, dok. Gimana bisa dokter tidak melihat saya lagi. Saya ngerti kok, dokter bosen ngeliat wajah saya, tapi tahan sebentar lagi lah, dok. Saya belum lulus."
Masih belum menyerah Maria terus memundurkan wajahnya menjauhi wajah dokter Theo. Dokter Theo menghentikan aksinya begitu wajahnya lima belas centi dari Maria.
Jantung Maria berdetak lebih cepat. Bukan. Ini bukan karena Maria sudah jatuh cinta pada dokter Theo. Ini hanya refleks yang dimiliki semua perempuan saat diperlakukan seperti Maria. Kecuali jantungnya memang memang tidak berdetak.
"Saya gak bosen ngeliat wajah kamu. Malahan saya pengen lihat wajah kamu setiap hari."
Maria menatap bolak-balik mata kanan dan mata kiri dokter Theo bergantian. Kenapa dokter Theo tiba-tiba bicara seperti ini? Sangat horor.
Setelah bicara itu dokter Theo kembali menjauhkan wajahnya. Pergi duduk dimejanya dengan senyuman kecil dibibirnya.
"Sudah ada pasien yang datang untuk saya?"
Pertanyaan dokter Theo menyadarkan Maria dari keterkejutannya. Cepat-cepat menelan ludahnya dan menyibak rambut ke belakang telingannya guna menghilangkan rasa gugup.
Maria berbalik melihat dokter Theo yang mulai memeriksa catatan cek hariannya. "Sudah ada, dok. Kalau begitu saya permisi."
Maria bergerak cepat meninggalkan ruangan dokter Theo yang tertawa kecil karena melihat tingkah Maria. Sangat menggemaskan.
_
Setelah kejadian horor tadi pagi, Maria menjadi sedikit menghindari pertemuannya dengan dokter Theo. Bisanya perawat yang mengambil catatan pasien dan Maria yang memberikan pada dokter Theo, kini terbalik.
Sekarang waktunya makan siang. Maria segera pergi ke kantin tanpa meminta ijin pada dokter Theo.
Maria berjalan ke kantin hingga suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Maria."
Berbalik melihat ke arah orang yang memanggilnya, si pemilik suara yang sangat tidak asing ditelinganya. Suara yang cempreng.
"Mama?"
Wanita peruh baya yang masih cantik diusianya tersenyum lebar ke arah Maria. Mamah Alfy. Sudah lima tahun Maria tidak pernah bertemu lagi dengan mamah Rene.
"Kamu apa kabar sayang?" Rene mencium kedua pipi Maria.
Maria balas mencium pipi kanan-kiri Rene. "Kabar Maria baik, mah. Kabar mamah gimana?"
"Kabar mamah juga baik, sayang." Rene mengelus lembut pipi Maria.
"Mamah ngapain disini? Mamah sakit?" Maria kembali pada kewarasannya, ini adalah rumah sakit tempat orang sakit.
"Mamah cuma ngecek aja, tulang mamah sering banget sakit gitu, biasa faktor umur. Liat nih, kerutan di wajah mamah aja udah banyak." Rene menunjuk wajahnya.
"Tapi masih cantik kok, mah."
"Emang iya? Kamu boonglah, Maria." Rene tersenyum malu.
"Enggak. Maria gak boong. Oh iya, mamah kesini sendiri?" Maria melihat ke sekeliling mencari wajah yang dikenalinya, tapi tidak ada.
"Berdua, sama papah. Lagi bayaran." Maria mengangguki ucapan Rene. "Kamu lagi istirahatkan? Gimana kalo kita ngobrol-ngobrol sebentar?" Maria berpikir, "di cafe deket sini aja, ya?" Rene kembali meyakinkan Maria.
"Oke, mah." Akhirnya Maria tidak bisa menolak ajakan Rene. Lagi pula sudah lama mereka tidak bertemu.
"Kalo gitu, ayo." Rene menarik tangan Maria.
"Tapi papah gimana, mah? Nanti nyariiin."
"Itu papah udah selesai bayaran." Rene menunjuk pemilik wajah yang Maria cari-cari tadi. Wajah yang mirip dengan Alfy.
_____
Jangan Lupa komen, like, share, vote, dan kasih aku tip (jika kalian berkenan) 😅