
Maria menatap dengan iri wanita di hadapannya. Wajah cantik, tubuh langsing, sexy, berhati lembut, tapi sayangnya wanita itu tidak bisa memenangkan hati seorang Alfy.
Ya, seperti itu. Semua orang selalu menatapnya wajah penuh dengan ke kaguman, tapi tidak dengan wajahnya Alfy. Pria itu mempunyai takaran wanita yang tinggi untuk bisa membuatnya terkagum-kagum.
Membicarakan tentang Alfy, Maria baru menyadari ke tidak hadiran suami tampannya di rumah. 'Kemana Alfy? Kenapa jam segini belum pulang.' Matanya beralih dari kaca di depannya ke jam dinding yang menempel indah.
Selesai bercermin, Maria membawa kakinya menuju kamar Alfy dan yang di lihat hanya ada kasur size king rapi, tanpa ada tanda-tanda pemiliknya.
Jadilah Maria mencari bu Mia untuk bertaya dimana Alfy nya. "Bu Mia. Alfy belum pulang?" Bu Mia sedang membersikan dapur dari noda masak.
"Belum, Ri."
Mendengar jawaban bu Mia, Maria langsung kembali ke kamarnya lagi. Pada hal ia ingin mengajak Alfy menemaninya datang ke acara ulang tahun salah satu teman modelnya. Walaupun Alfy ada di rumah pun, Maria yakin Alfy akan menolak ajakannya.
Masih dengan baju perginya, Maria membiarkan tubuhnya berbaring di atas kasur. Sambil menunggu ke pulangan Alfy, Maria terus mencari jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan yang muncuk di kepalanya. Tanpa terasa mata indah Maria terpejam dan masuku dalam dunia mimpinya.
●°●
"Happy birthday, Sonia."
Maria nempelkan pipi kanan dan pipi kirinya ke wajah canti Sonia, lalu mengulurkan kotak dengan size 24×24×12 berwarna hitam dengan pita hitam.
"Hai, Maria. How are you?"
Tangan Sonia tidak kunjung mengambil kado pemberian Maria, tanganya itu malah digunakan wanita itu untuk menggegam tangan Maria yang lain.
"I'm fine and this is for you."
Maria menukar posisi tangannya menjadi menggengam tangan Sonia dan memaksakan wanita itu untuk menarima kadonya.
"No! Kanapa kamu ngasih kado? Kamu datang ke sini saja sudah cukup, jadi tidak perlu ada kado."
Maria tersenyum sangat manis. Walaupun mereka bukan teman sangat dekat, tapi mereka bisa di bilang cukup dekat.
Sonia teman yang baik, dia pernah membantu Maria saat wanita itu sedang ke susahan dengan skandalnya. Berita yang mengatakan Maria terlibat dengan pengedaran narkoba. Semua orang berpikiran sama, begitu pula dengan agensinya. Tapi, Sonia yang membantunya membuktikan bahwa berita yang di tuduhkan itu tidak benar.
"Soni, not complete birthday without gift." Maria menaik tirunkan ke dua alisnya.
Akhirnya Sonia mau mengambil kado yang Maria berikan.
"Open it up!"
Sonia menuruti kata Maria dengan menarik pita hitam yang mengikat. Matanya melebar saat melihat isi kado yang Maria berikan.
Satu pasang sepatu brand Jimmy Cho, hadir di dalam kotak itu.
"Oh my God. Ini aslikan, Ya?" Bahkan Sonia sampai menutup mulutnya yang terbukan.
"Asli lah. Masa iya, aku beli sepatu KW. Apa lagi buat si pencinta sepatu seperti, you ini." Maria mencubit pipi halus Sonia, membawanya ke kanan, kiri.
"Aduuh.. sakit tauk. Eh BTW thank you, yah?"
"I__" perkataan Maria terhenti saat matanya mendapati sosok bentuk tubuh belakang yang sangat ia kenali, bersama seorang wanita.
Seolah menarik Maria untuk mendekati tubuh itu, Maria meninggalkan Sonia yang terlihat bingung.
Maria membawa tangannya mendarat di bahu lebar yang di tutupi jas hitam.
Pria yang di sentuh itu langsung memutar balik tubuhnya. Sekarang Maria bisa melihat wajahnya dan wajah sesuai dengan wajah yang ada di ekspetasinya.
"Yogi. Kamu di sini juga? Dan siapa wanita ini? Pacar baru?" Maria melihat wanita bewajah asing di samping Yogi dengan tangan yang melingkat di tangan Yogi.
"Bukan. Ini adik sepupu ku, anaknya tante Kirana."
Maria ber'oh' besar dan panjang. Wanita berwajah panjang itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
"Hai. My name is Sara, nice to meet you."
Tanpa berpikir panjang Maria lalngsung menerima uluran tangan sepupu Yogi, Sara. Dengan membalas senyuman yang tidak kalah lebar di bibirnya.
Mendengar nama Maria, Sara melihat bingung ke arah Yogi. "So this woman whose name is Maria?"
Yogi menggaruk tengkuknya kemudian mengangguk. Maria terlihat bingung, ia memandang Yogi dan Sara bergantian saat Maria merasa Yogi menjadi canggung.
"Whats wrong?"
"Ahhh... he loves talking about you,"
"Seriously?"
Maria mengangguk. Sebenarnya dia percaya tidak percaya dengan apa yang di katakan Sara, tapi tidak aneh kalau Yogi membicarakan tentang cerewtnya Maria saat masa sekolah.
"Yogi kamu kenal sama Sonia?"
"Aku kenal sama kekasihnya Sonia dan Sara teman modelingnya Sonia."
"Oh My God. I thought I was too long at home, so I do not know. I'm Sorry!" Wajah Maria memerah menahan malu.
Wanita cantik itu memiliki tubuh yang bagus, tidak salah kalau orang berfikir Sara seorang model. Maria saja yang bodoh sampai dia tidak menyadari tubuh Sara memenuhi kriteria tubuh model.
"Hai.. Sara. Kau sudah lama ada di sini?"
Sonia datang dengan pria tampan bernama Patrik di sebelahnya. Patrik yang di maksud kekasihnya Sonia.
"Tidak lama. Aku mencarimu, tapi tidak ketemu."
Sara menjawab pertanyaan Sonia dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar, bahkan logat Inggris-nya hampir hilang.
"Jadi kau bisa bahasa Indonesia?" Maria menatap Sara tidak percaya.
Sara mengagguk antusias.
"HAII! KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI? TAHU BEGITU AKU TIDAK AKAN MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS YANG MEMBUAT MULUT KU PEGAL." Maria berteriak.
Yogi, Sara, Sonia, dan Patrik menutup telinga mereka masing-masing. Lalu tertawa bersamaan. Begitulah Maria yang mudah kesal akan hal kecil yang menututnya hal besar.
Maria kesal melihat ke emapat orang itu malah menertawakannya dan bibirnya maju beberapa centi.
'Kau benar-benar tidak berubah Maria.' Seru Yogi dalam hati.
"Ngomong-ngomong dimana suami mu, Maria?"
Sonia mengingatkan kembali pada janjinya Maria untuk membawa Alfy ke pesta ulang tahunnya Sonia.
"Maaf Sonia. Dia tidak bisa datang karena sedang berenang bersama kerjaannya di lautan bisnis yang luas."
Yah, Alfy pasti sedang bekerja. Tidak ada yang bisa memisahkan pria itu dari pekerjaannya. Mungkin ada, siapa lagi kalau bukan Yunna.
"Suami? Maria sudah punya suami?" Tanya Patrik dengan dahi yang berkerut.
"Kau tidak tahu? Sahabatmu sendiri suaminya, sayang." Sonia menjawab pertanyaan kekasihnya.
Sekarang Maria yang mengerutkan keningnya, dia tidak tahu kalau ternyata Patrik juga sahabat Alfy.
"Siapa?" Patrik terlihat berpikir. "Sergio? Tama? Handrik?"
"Bukan sayang, bukan. Alfy sumianya Maria."
Patrik melebarkan matanya, dia tidak tahu kalau salah satu sahabat dekatnya itu sudah menikah.
Maria dan Alfy menikah saat Patrik sedang ada perjalan bisnis, jadi dia tidak tahu.
"Benarkah? Tadi aku melihatnya dengan sekertarisnya."
"Seriously? Dimana dia sekarang?"
"Itu dia." Patrik menunjuk ke arah belakang Maria.
Maria mengikuti tunjukan tangan Patrik dan Maria bisa melihat Alfy dengan setelan jasnya, akan tetapi dia bukan bersama Ryan, sekertarinya melainkan dengan Yunna.