
Rene tidak tahu masalah apa yang membuat mereka bercerai. Sejauh mata Rene memandang hubungan Alfy dan Maria terlihat baik-baik saja, walaupun terkadang Rene masih bisa melihat wajah dingin alfy.
Sebenarnya, Rene tidak ikhlas harus kehilangan manantu idaman semua orang tua. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ada benarnya kata Maria. Bahwa mereka memang tidak berjodoh. Lagi-lagi semua ini, terjadi karena takdir. Rene sangat tidak menyukai takdir seperti ini.
Sampai di luar gedung pengadilan, Rene terus menggengam tangan Maria. Rene terus berbicara pada Maria dan tidak memberikan Alfy bicara. Rasa kecewanya, membuat Rene malas sekali berbicara dengan Alfy.
"Di jalan hati-hati ya, Maria?" Rene mengelus lembut lengan atas Maria.
Maria mengambil salah satu lengan Rene dan digenggam dengan kedua tangannya. "Iya, mah."
Rene tersenyum lemah. Maria melepas genggamnnya, berjalan mendekati mobil ayahnya.
"Maria!"
Langkah Maria berhenti. Bukan suara berat khas itu yang menghentikan langkahnya, tapi karena namanya yang Alfy sebut.
Selama hidup hampir satu tahum di satu atap yang sama dengan Alfy, hanya beberapa kali Maria bisa mendengar namanya disebut oleh Alfy.
Sekian lama menunggu, akhirnya Alfy menyebut namanya dan lagi menghentikannya untuk pergi. Setidaknya itu sudah cukup ada peningkatan. Rasanya sekarang, Maria menjadi ingin berbalik dan memeluk Alfy.
"Pergi, Maria!" Rene menghentikan Maria untuk berbalik.
"Mah... Alfy ingin bicara dengan, Maria." Entah pernyataan atau permohonan, tapi Alfy ingin sekali berbicara pada Maria.
"Maria, pergi! Jangan berbalik!" Rene mengatakan dengan nada yang sangat ketus dan tatapan tajam pada udara.
"Mah.."
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan! Asalkan, jangan lagi menemui Maria!" Setelah mengatakan itu, Rene menarik papah Alfy memasuki mobil range rover hitam yang terparkir tidak jauh dari mobil Maria.
Range rover hitam itu membawa papa dan mama Alfy pergi. Maria berbalik.
"Maaf, aku harus pergi sekarang. Lain kali kita bicafa, oke?!" Seceria mungkin Maria berbicara pada Alfy.
Alfy membuang nafas beratnya, sedikit meminjat batang hidungnya. Maria menahan tawa melihat Alfy yang terlihat terlihat memikirkan sesuatu yang berat.
Maria mendekati Maria dan menepuk-nepuk bahu sebelah kiri Alfy. "Hahaha.. lain kali, ya? Aku masih ada urusan. Bagaimana kalau besok siang? Sekalian lunch?" Usul Maria, sambil menaik turunkan alisnya.
Alfy menatap kedalam mata Maria, mencari sesuatu di dalam sana. Maria yang merasa di tatap langsung memutuskan pandangannya pada Alfy dan mencari pandangan lain.
Maria baru teringat Yunna sering mengunjungi kantor Alfy saat makan siang. Pantas saja Alfy tidak kunjunh membalas pertanyaannya. Bodoh! Bagaimana Maria bisa melupakan hal penting itu.
"Ahh... tidak. Tidak. Kapanpun kau bisa, aku akan menemuimu. Tapi maaf, karena aku tidak bisa hari ini, aku sudah punya janji dengan orang."
Maria menyayangkan sekali kesempatan langka seperti ini harus dia tolak. Mau bagaimana lagi Maria sudah berjanji dan dia tidak mau menjadi 'pengingkar janji'.
"Baiklah, sekarang aku harus pergi." Maria melirik watch kecil yang manis di lengannya. "Aku menunggu kau menghubungiku!" Lanjut Maria. Lalu Maria berbalik, berjalan meninggalkan Alfy.
'Apa sekarang Maria sudah seperti teman yang baik?' 'Atau terlalu berlebihan?' Pertanyaan seperti itu yang mulai memenuhi otak kecilnya.
Alfy natap punggung Maria yang menjauh. Alfy sedikit tidak suka melihat Maria meninggalkannya, padahal dulu dia sangat sering pergi meninggalkan Maria, saat wanita itu ingin berbicara.
'Jadi seperti ini rasanya ditinggalkan saat ingin berbicara?'
Alfy cepat-cepat menggelangkan kepalanya dan menghilangkan pikira aneh yang mulai bersarang di kepalanya.
●°●
Baru saja kaki Maria melangkah memasuki sebuah butik sudah menjadi bahan perhatian semua orang yang ada di dalam butik.
Maria juga membalas senyum. "Apa Fanny ada?" Tanya Maria yang langsung diangguki wanita muda yang ingin melayaninya.
Sekarang Maria berada di salah satu butik milik Fanny. Ternyata Fanny tidak hanya berkonstrasi dengan restaurant nya saja.
Wanita itu menunjukan suatu ruangan.
"Terima kasih!" Lalu Maria berjalan memasuki ruangan Fanny tanpa mengetuk lebih dulu.
"HA__" Yang awalnya Maria ingin berteriak menyapa Fannya, tidak jadi dan malah melebarkan matanya.
Karena saat ini seorang pria sedang mengurung Fanny dengan tangan berototnya dan tentu saja mereka berdua langsung menengok ke arah Maria.
'Oh, shit! Bodoh!' Maria berada di situasi yang sangat tidak tepat. Maria kembali merutuki dirinya.
"Ma..maafkan aku. Aku akan menunggu di luar." Maria menutup pintu ruangan Fanny.
'Oh... god! Kenapa perceraian membuatku terus membuat pasangan berkeliaran di sekitarku? Kemarin Alma dan Almer, sekarang Fanny. Apa di dunia ini hanya aku yang tidak punya pasangan? Sial!'
Maria memegang dadanya membantu jantungnya agar berjalan normal kembali. Tidak bisakah Tuhan memberikan Maria jodoh sekarang juga? Dia sangat mengenaskan.
Tak berapa lama pintu ruangan Fanny terbuka lebar dan pria yang mengurung Fanny keluar. Mulut Maria langsung membentuk huruf 'O'.
Pria yang keluar dari ruangan Fanny adalah pria brengsek masalalunya Fanny. Berani sekali pria ini menunjukan wajahnya di depan Fanny. Pria yang meninggalkan Fanny sehari sebelum pernikahan mereka dilaksanakan dan tentu saja tanpa alasan yang jelas.
Setelah hari itu Fanny terlihat sangat murung, jauh sekali berbeda sebelum pria itu meninggalkan Fanny. Maria ingin sekali mejambak rambutnya, mengigit tangannya, menendang tulang kering pria itu.
"Beraninya kau datang di hadapanku, ASSHOLE!" Maria meninggikan suaranya.
"Kalau aku 'asshole', lalu mantan suamimu apa?" Balas pria itu dengan santainya.
Bagaimana pria ini bisa tahu. Maria melirik Fanny yang menggeleng kepalanya.
'Sial! Tidak mungkin Fanny membocorkan rahasianya. Dari mana Romeo tahu aku sudah menikah dan bercerai,'
"Jangan mengumpat! Karena aku tahu semua hal yang berhubungan dengan Fannyku."
Fanny memutarkan matanya. "Sudahlah Romeo kau pergi saja!"
Romeo pergi meninggalkan Maria yang masih tercengang dengan apa yang terjadi, sangat cepat.
"Sudahlah lupakan pria laknat itu! Kau jadi mau mencoba gownnya?" Fanny mengalihkan pikiran Maria.
Maria mengagguk. Fanny langsung menarik Maria menuju ruangan yang ada satu gown peachyang indah di tengahnya.
Mata Maria sampai berair melihat indahnya gown itu, gown simple yang bisa langsung menarik perhatian Maria.
'Dia pasti semakin cantik saat memakai gown ini.'
"Sebenarnya untuk siapa gown ini, Maria?" Fanny penasaran, Maria tidak memberitahunya siapa yang akan memakai gown rancangan Maria sendiri.
Maria pernah membayangkan gown indah itu menghias tubuhnya, tapi tidak bisa. Karena saat itu Maria berfikir akan ada pernikahan kedua dengan Alfy, saat pria itu benar-benar sudah mencintainya.
"Bagaimana jasnya?" Fanny tahu Maria mengelihkan pembicaraan.
"Ada di ruang sebelah." Jawan Fanny.