
Maria menjauhkan tangan Alfy dari wajahnyanya. Permintaan Alfy sungguh membuat jantungnya berdebar dan perutnya dipenuhi bunga-bunga. Cinta yang dulu Maria inginkan, kini sudah ia dapatkan. Tapi apa Maria belum mengatakan, tidak akan mengharapkan Alfy, lagi? Sepertinya Maria sudah mengatakannya, ia paling tahu bagaimana rasa sakitnya di duakan dan Maria tidak ingin Yunna merasakan apa yang sudah dirasakannya.
Balas dendam? Maria hanya akan kehilang banyak waktu untuk balas dendam, lagi pula manusia tidak berhak menghakimi manusia lainnya, jadi biarkan Tuhan yang membalas semuanya.
"Tidak. Kamu hanya perlu menerima kehadiran Rion, sayangi Rion seperti sayangmu pada Rasya. Ini semua salahku tidak memberitahumu, tapi walaupun kamu tahu saat itu aku tetap tidak akan mau kambali padamu.
Kau mencintaiku? Aku percaya, tapi dengan kamu meminta aku kembali padamu itu egois, Alfy. Egois yang akan melukai aku, kamu, dan Yunna.lagi."
"Kenapa Tuhan memberika cinta yang menyikasa kita seperti ini?" Pertanyaan Alfy lebih cocok menjadi pernyataan.
Maria menggeleng. "Tuhan memberikan cinta diantara kita bukan untuk menyiksa kita. Kamu harus tahu Alfy! Tuhan selalu memberikan dua pilihan dan pilihan kita sendirilah yang akhirnya melukai kita.
Seperti saat aku menerima perjodohan kita, sebenarnya dari awal aku tahu kamu mencintai Yunna, tapi aku tetap memilih bersamamu. Atau contoh yang lain saat kamu menerimaku sebagai istrimu, seharusnya kamu memilih menolakku dan memperjuangkan hubungan kalian."
Perkataan Maria seolah memberikan cahaya dihati Alfy yang gelap. Maria benar, semua ini karena pilihan mereka. Kalau dulu setelah menikah Alfy memilih belajar mencintai Maria dan memutuskan hubungan dengan Yunna, kekacauan ini tidak akan terjadi yang ada hanya mereka sedang bahagia bersama keluarga kecil mereka.
Ternyata pilihan kebahagian di Alfy pilih bukanlah kebahagian yang sebenarnya. Bodohnya Alfy melepaskan wanita seindah Maria yang bukan hanya indah dimata, tapi juga indah dihati.
Dan pilihan tidak menerima Alfy adalah pilihan Maria saat ini. Mungkin sudah telambat untuk memperbaiki kesalahan masa lalu mereka, tapi setidaknya Maria bisa memperbaiki kesalahan yang mungkin akan terjadi di masa depan.
Bagaimana dengan Rion? Maria akan mengatakan sejujur-jujurnya pada Rion dan Maria yakin Rion akan mengerti karena putranya tidak bepikir seperti anak kecil lainnya, lebih dewasa.
Maria akan membagi Rion dengan Alfy, bukan berarti ia memberikan putranya. Bagaimanapun Rion membutuhkan seseorang yang akan mengajarinya pelajaran yang tidak bisa Maria ajarkan.
Setelah mengambil pelajaran dari masa lalu mereka Maria yakin Alfy bisa mengajarkan Rion bagaimana menjadi pria semestinya.
"Maafkan aku." Rasa sesal didasar hati Alfy, diam tidak mau pergi.
"Tidak. Jangan lagi meminta maaf! Kita semua salah. Kamu salah, aku salah, Yunna juga salah, jadi jangan pernah menyalahkan diri sendiri, Alfy. Mulai sekarang kita harus berusaha memperbaiki kesalahan untuk Rasya dan Rion. Kamu boleh menemui Rion, tapi jangan sampai lupa kamu punya Rasya. Bahagiakan Yunna karena aku juga sudah bahagia punya Rion."
"Tapi aku merasa ini masih belum adil untukmu." Rasa gemuruh dihati Alfy menginginkan Maria kembali padanya.
Rasa sesak ingin memiliki Maria memenuhi hatinya. Ingat Alfy semua ini ada karena pilihan, jangan sampai keinginan hati membuat kesalahan-kesalahan baru nantinya.
"Kamu tidak bisa menilai rasa adil karena bagiku ini adil. Aku kehilanganmu dan sebagai gantinya aku mendapat Rion." Maria mengambil clutch bagnya. "Bawa aku, temui Yunna."
"Aku telpon supirku dulu." Alfy bersiap mengambil handphone di kantong celananya, tapi Maria menghentikannya.
"Tidak perlu! Aku bawa mobil." Maria tersenyum sangat manis sambil menunjukan kunci mobilnya, kemudia pergi lebih dulu ke mobilnya.
Alfy masih terdiam di tempatnya. Melihat senyuman Maria, menghangatkan hatinya. Senyuman termanis Maria yang pernah tertangkap dimatanya. Apa benar Maria sudah bahagia?
***
Alfy memasukan mobil Maria ke garasi rumah mereka yang lama. Rumah yang meninggalkan kenangan-kenangan yang sangat melekat di otak Maria.
Semua hal yang ada di rumah Alfy tidak berubah, hanya ada beberapa tambahan yang membuat rumah lebih hidup.
"Alfy kau sudah pulang?!" Suara teriakan Yunna menyambut Maria. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat matanya memanas karena kalimat itu sering kali ia lontarkan untuk menyambut Alfy pulang kerja.
Alfy pergi begitu saja, mengabaikannya, tanpa tahu ia mendekati pria itu untuk membantu nelepaskan jas kerjanya. "Iya." Jawab Alfy pada Yunna.
Berbeda, memang berbeda, sangat berbeda dengan pernikahannya mereka dulu. Rasa nyeri kembali datang menyerang hatinya. Ini sudah lebih dari enam tahun, tapi kenapa rasa sakit itu masih ada.
Yunna kaget bukan main melihat Maria ada didepannya. Hampir saja ia menjatuhkan hasil masakannya, tapi Maria membantu menahannya.
"Maria." Yunna tidak sanggup mengeluarkan kata-kata lain dari mulutnya.
"Tidak usah tegangang seperti itu." Maria tertawa kecil melihat ekpresi Yunna. "Apa aku boleh masuk ke dapurmu?" Izin Maria. Maria baru sadar saat ini ia sedang menjadi tamu di rumah yang dulu tempat tinggalnya.
"Tentu saja." Jawab Yunna.
Maria langsung masuk ke dapur dan tidak ada yang berubah hanya sedikit berantakan khas sering di pakai. Maria mentertawakan bayangan dirinya yang dulu memiliki dapur rapih karena tidak pernah di pakai, alias tidak bisa memasak.
"Dimana Rasya dan Rion?" Tiba-tiba Alfy ikut gabung bersama Maria dan Yunna di dapur.
"Di kamarnya." Jawab Yunna yang sedang memindahkan sup ayam ke mangkok ukuran sedang.
"Wah, apa Rasya sudah tidur sendiri?" Tanya Maria yang berusaha menghilangkan pikiran membanding Yunna dan dirinya saat berinteraksi dengan Alfy.
"Tidak. Disana hanya ada mainannya, Rasya masih takut untuk tidur sendiri." Jawab Alfy dan diangguki oleh Yunna.
"Dimana kamar Rasya? Aku ingin melihat mereka."
"Kamar Rasya ada di sebelah kiri kamar utama." Jawab Yunna.
Kamar utama? Tentu saja kamar Alfy dan Yunna. Entah kenapa kenyataan itu membuat Maria sedikit iri.
Maria menaiki tangga menuju kamar Rasya, meninggalkan Yunna dan Alfy berdua di dapur. Tapi kaki Maria berhenti didepan pintu kamar yang pernah menjadi kamarnya. Di sebelah kanan kamar utama.
Tangan Maria bergerak membuka pintu yang ternyata tidsk terkunci. Maria masuk perlahan dan tersentak saat semua barang di kamarnya dulu tidak ada yang berubah posisi, rapih, dan bersih dari debu.
Kamar ini, kamar yang tahu bagaimana seorang Maria dibelakang Alfy. Tanpa sadar air mata Maria jatuh dengan cepat.
Di saat Alfy mengabaikannya, kamar ini tahu berapa banyak air mata yang jatuh. Disaat jantungnya sakit, kamar ini tahu berapa banyak pil penenang yang sudah Maria minum.
Kenangan indah? Tidak ada kenangan indah di kamar ini.
"Maria." Maria berbalik melihat ke arah pintu, sudah ada Yunna yang berdiri disana.
"Ma.. maaf. Aku akan keluar."
Yunna menahan tangan Maria. "Bisa kita bicara?" Maria mengagguk, kemudian Yunna mengajaknya duduk dipinghiran kasur.
"Kamar ini tidak pernah berubah." Gumam Maria.
"Setelah perceraian kalian Alfy tidak memperbolehkan siapapun menyentuh barang yang ada di kamarmu ini, kecuali untuk dibersihkan dan secara tidak sadar Alfy menjaga kamar ini agar terus ada dirimu dengan harumnya parfum, sabun, sampho yang biasa kau gunakan. Bahkan Alfy enam bulan sekali, mengganti make up yang ada dimeja riasmu."
Maria melihat meja rias yang dipenuhi make up dan benar semua barang yang ada disana terdapat merk-merk make up yang bisa ia gunakan.
"Dia kembali mengisi penuh lemari bajumu dan dari beberapa baju itu Alfy membeli baju yang sama dengan milikmu. Alfy tidak pernah menunjukan ke rapuhannya didepanku, tapi aku pernah sesekali melihatnya menangis di kamar ini. Dia menyesalinya, Maria. Apa yang sudah aku dan Alfy lakukan padamu, Alfy sangat menyesalinya.
Maafkan kita Maria yang sudah melukai hatimu. Aku tahu jelas kau sangat terluka, tapi Alfy juga terluka karena kesalahannya sendiri. Menurutmu sakit karena dilukai orang lain atau sakit karena melukai diri sendiri? Aku akan melepaskan Alfy kalau kau mau kembali pada Alfy."