
Maria sangat-sangat berharap Alfy akan menolak persyaratan yang dimintanya. Sebab bagaimanapun Maria masih ingin berada di posisinya yang sekarang, dia masih ingin terus berusaha mendapatkan hatinya Alfy. Dia masih ingin menunggu Alfy untuk membuka hatinya, walaupun hanya satu persen kemungkinan hatinya Alfy akan berubah.
Tuhan ingin melihat seberapa kuat orang itu menjalani cobaannya dan Tuhan akan memberikannya kebahagiaan hingga membuat orang itu lupa akan cobaan berat yang telah orang itu lalu, dengan itu di sini Maria masih setia menunggu Alfy. Tapi Maria yakin, Alfy juga berpikir demikian karena Alfy mengaggapnya cobaan Tuhan.
Tuhan memberikan kaki untuk membawanya ke tempat yang indah, tapi Maria tidak menggunakan kakinya untuk mencari tempat indah melainkan berdiri tegak menunggu Alfy yang sudah lebih jauh melangkah, meninggalkan Maria sendiri.
Sakarang lagi-lagi Maria membawa kakinya ke tempat di mana Alfy berada. Dimana lagi selain di kamarnya. Walaupun Alfy tidak ada di rumah, Maria selalu seperti biasa sudah terbangun di pagi buta.
Maria melihat Alfy yang masih bergulat dengan selimutnya, membuat Maria membuang nafas lega dan tersenyum miris. Kenapa Tuhan tidak memberikan kesempatan, untuk dia tidur di dalam selimut yang sama? Tapi setidaknya Maria masih sangat bersukur, karena Alfy mau tidur di kamarnya dan tidak tidur diluar.
Entah Alfy menyadarinya atau tidak, Maria selalu bangun pagi demi melihat bagaimana tidurnya seorang Alfy. Yah, hanya melihat, tanpa membangunkan. Dia takut Alfy tambah marah.
Sekarang Maria sudah membulatkan tekatnya, untuk ke dua dan terakhirnya akan membangunkan Alfy. Tidak perduli pria itu akan marah atau tidak.
Pertama kali membangunkan Alfy, Maria mendapatkan balasan ciuman kemudian tubuhnya terlempar. Maria masih bersukur masih ada sofa yang menyematkannya, tapi sekarang, mungkin lantai keras yang akan menyelamatkannya.
Sambil membuang pikiran buruk, Maria melangkah dengan hati-hati, mendekati Alfy. Dia tidak mau kecerobahannya yang malah membuat Alfy terbangun, karena jika hal itu terjadi maka Maria harus menyiapkan mental yang lebih banyak lagi.
Maria membawa tangannya, menyentuh lengan atas Alfy. Tangannya sangat keras, apa Alfy akan merasakan sakit kalau Maria mencubitnya?
'Aku sangat ingin mencubit tangannya,' ujar Maria dalam hati.
'KAU MAU MATI?' Suara itu datang lagi.
'Tidak. Aku tidak akan melakukannya, tapi aku akan mencari kesempatan untuk bisa mencubit atau memkulnya walaupun sekali.' Final Maria dalam hati.
"Alfy..." Maria menggoyang-goyangkan tubuh Alfy, suaranya sedikit lebih kecil supaya tidak membuat Alfy terkaget.
Alfy belum juga menunjukan dirinya mau bangun dari tidurnya.
"Alfy..." Maria kembali melakukan hal sama, tapi Alfy kembali menunjukan hal yang sama, tidak bergerak.
Sepertinya Alfy terlalu lelah, jadi Maria membiarkan Alfy hingga suaminya terbangun dengan sendirinya. Maria menggunakan kesempatan itu untuk memperhatikan wajah tidur Alfy yang masih sangat tampan.
Maria melihat jam yang menempel di dinding kamar Alfy, jam itu sudah menunjukan pukul delapan. Tidak terasa Maria menghabiskan tiga jamnya hanya dengan memandangi Alfy, dua puluh satu jam lagi waktu yang Maria miliki.
Yah, Alfy menerima persyaratan yang di ajukannya tadi malam.
Flashback
"Baiklah. Aku akan mengabulkan keinginmu, tapi dengan satu syarat, berikan aku dua puluh empat jam milikmu. Selama itu kau harus mengikuti kemanapun aku pergi dan menganggapku sebagai istrimu, istrimu yang sebenarnya. Dan setelah itu aku akan melepasmu." Melepaskanmu untuk bahagia.
Alfy melepas pelukan Maria, kemudian berbalik menghadap Maria dengan jejak air mata di pipinya. Alfy ingin sekali menghapus jejak air mata itu, tapi dia tidak ingin membuat Maria salah paham dengan perlakuannya. Bagaimanapun juga Alfy masih belum bisa melepaskan Yunna dan berhenti mencintai wanita itu.
Memang seharusnya seperti ini. Berpisah, itulah jalan terbaik yang mereka ambil karena jujur Alfy tidak sanggup melihat atau mendengar Maria menangis. Alfy sadar dirinya sudah banyak membuat hati Maria luka, tapi dia juga tidak bisa menyembuhkan luka Maria.
"Kau serius?"
Maria memghapus air matanya sendiri dan mengangguk. Matanya, Maria tidak sanggup melihat matanya Alfy. Mata itu yang selalu membuat Maria ingin terus melihatnya, seakan jauh di dalam matanya Alfy, tersimpan jimat yang terus menarik Maria.
Flashback end
Maria menggerakan jarinya di dahi Alfy yang berkerut. 'Berani sekali kau Maria.' Dan Maria hanya mengabaikan suara itu. Hari ini adalah hatinya, jadi Maria akan menggungkan dengan sebaik-baiknya.
Kerutan di dahi Alfy menghilang, di gantikan oleh mata pria itu yang terbuka. Jantung Maria kembali berlari seperti biasanya saat menatap mata itu.
Maria sengaja menunggu Alfy yang mengalihkan matanya, tapi Alfy tidak mengalihkan pandangannya. Mengingat mata indah milik Alfy selalu menatap Yunna, membuat air mata mengumpul di mata Maria, jadi dia mengalah dan lebih dulu mengalihkan pandangannya.
Maria bangun dari duduknya. Berjalan menjauhi Alfy, kemudian berbalik dan...
"Kau sudah menghabiskan tiga jam ku untuk menunggumu bangun, jadi kau harus menggantinya. Aku akan menunggumu di bawah!"
Maria berjalan keluar kamar Alfy dan kembali ke kamarnya. Dia mengganti pakaiannya menjadi lebih sopan dan tetap cantik di tubuhnya.
Setelah selesai berpakaian, lagi-lagi Maria harus menunggu Alfy. Dengan mengecek handphone barunya, Maria menunggu Alfy.
Maria banyak mendapati notifikasi dari mantan managernya. Sudah menjadi mantan karena tadi malam agensinya sudah mengkonfirmasi bahwa dirinya sudah benar-benar keluar dari dunia pertelevisian. Maria ingin hidup tenang tanpa wartawan yang terus mengikutinya atau membuat beritanya.
Awalnya pemilik agensi Maria tidak setuju, tapi setelah mendengar alasan masuk akal yang di buat Maria, akhirnya mengizinkan Maria keluar tanpa banyak tanya lagi.
Mata Maria melihat sisi tengah di handphonenya, sudah menunjukan 08:30. Maria menjadi kesal sendiri menunggu Alfy, atau mungkin Alfy ingin membatalkan perjanjiannya? Sudah pasti Maria sangat senang.
Senyum di wajahnya kembali luntus saat Alfy menuruni tangga. 'Yeah, that just in dream!' Rutuk Maria dalam hatinya sendiri sebelum suara itu muncul lagi.
Alfy sudah berpakaian santainya, membuat tubuh pria iti menjadi pelukable banget.
Melihat warna baju yang di pakai Alfy membuat senyum Maria kembali berkembang. Dia merasa tidak salah memilih baju.
"Kita mau kemana?" Suara berat Alfy membuyarkan semua pikiran yang bersarang di otak Maria.
"Kau akan tahu kalau kita sudah sampai. Kau sudah membawa satu bajumua?"
"Baju? Untuk apa?"
"Baiklah, kita bisa bisa beli di sana. Ayo, cepat! Sebentar lagi kita akan terlambat." Maria menarik tangan Alfy, membawa pria itu mendekati taxi yang sudah di pesan Maria.