
"Kau tunggu disini dulu, aku akan mengambilkan makanannya."
Maria pergi memasuki ruangan yang sama saat Maria keluar dan Alfy tebak ruangan itu adalah dapur. Setelah tubuh Maria hilang di makan pintu, Alfy menyentuh dadanya dan tenggelam dalam suara detakan jantungnya sendiri. 'Sial! Kenapa detakan jantungku terdengar sangat kencang'
Alfy tidak bisa mengelak Maria terlihat lebih cantik setelah mereka bercerai, atau Alfy yang tidak pernah menyadari kalau Maria memang cantik?
Apa perasaan dalam diri Alfy saat ini bisa di sebut benar? Kenapa Alfy baru merasakannya sekarang? Bukan. Dia bukan baru merasakannya, tapi Alfy
Alfy menjauhkan tangan dari dadanya saat mendapati Maria dan salah satu seorang di belakangnya, berjalan mendekatinya.
"Ini."
Maria menaruh satu piring dan gelas di hadapan Alfy, sedangkan satu piring dan gelas di hadapannya sendiri.
Setelah makanan sudah tersaji di depan matanya, Alfy tidak membuang waktu langsung mengambil alat makan untuk mulai memindahkan makanan itu masuk ke dalam perutnya.
Alfy menganggukan kepalanya saat merasakan makanan lezat menyentuh lidahnya.
"Bagaimana?"
Perhatian Alfy teralih pada Maria yang sedikit terlihat wajah khawatirnya.
Alfy mengagguk, "seperti biasa masakanmu." Dan lanjut makan. Baru satu hari berpisah dengan Maria, Alfy lupa untuk sarapan. Mungkin, karena tidak ada yang mengingatkannya, sedangkan dia belum bertemu dengan Yunna seminggu ini.
"Maksud mu?"
Alfy berhenti dari makannya dan menatap Maria yang terlihay bingung, tapi ada senyum kecil di bibirnya. Alfy memikirkan apa yang sudah dua katakan pada Maria, jujur dia tidak ingat.
"Memang aku bicara apa?" Balas tanya Alfy.
Senyum tipis Maria pergi berganti senyum kecut. Bagaimana bisa Alfy melupakan apa yang sudah di katakannya atau Maria saja yang terlalu mengharapkan pujian, sampai telingannya berhalusinasi mengeluarkan suara sendiri. Tidak. Jelas-jelas tadi dia mendengar Alfy mengatakan apa yang disalurkan telingannya ke otak.
'Sudah lah Maria! Jangan lagi berbarap pada Alfy. Semua yang terjadi karena kau terlalu mengharapkan pujiannya.'
Suara dalam hati Maria mulai kembali.
Alfy masih saja semenyebalkan itu. Sepertinya sifat menyebalkannya sudah mendarah daging.
Sedangkan Alfy merutuki dirinya. Bagaimana tidak, hampir saja dia mengucapkan hal paling bodoh yang akan dia sesali seumur hidup. Alfy terlalu malu untuk mengakui masakan Maria memiliki haura tersendiri dari harumnya, entah itu hanya dia yang bisa merasakan atau orang lain juga bisa merakannya.
"ada apa kau menemuiku?" pikiran Alfy yang bercabang kembali, apa lagi mendapat nada Maria yang sedikit berubah dan...
Damn! Alfy tidak ingat alasan apa yang harus dia gunakan untuk bertemu Maria. Ke tidak bisaan tidurnya tadi malam adalah memikirkan alasan yang tepat untuk bertemu Maria, tapi bodohnya Alfy sama sekali tidak kepikiran sampai saat ini. Kenapa Alfy bisa sebodoh ini? Padahal dalam perusahaan dia adalah otaknya, tapi kenapa menentukan alasan yang tepat untuk bertemu Maria saja dia tidak bisa.
"A..aku ke sini ingin membagimu harta gono gini." Alasan yang sedikit bagus.
Maria terdiam dan berpikir sedikit aneh. Memang tidak ada yang aneh dengan kata itu, tapi dari awal menikah Maria tidak mengharapkan harta Alfy.
"Aku tidak perlu harta darimu, kau tahu sendiri. Papihku masih sangat mampu membiayaiku sampai aku menjadi nenek-nenek."
Alfy tecengang, benar apa yang dikatakan Maria. Alfy sungguh tidak mengerti mengapa dirinya saat ini sangat bodoh, gaji modelnya tiap bulan saja sanggup mebiayai 200 anak yatim piatu selama sebulan.
"Jadi apa alasanmu, sebenarnya?"
Maria menatapi Alfy. Wajah Alfy lucu sekali saat ini, dia seperti menahan sesuatu. Dan ini pertama kalinya Maria melihat sisi lain dari Alfy.
Seandainya saja Alfy sedikit menunjukan sisi lainnya, saat mereka masih bersama, pasti Maria tidak akan rela menyetujui perceraian itu.
Lagi-lagi, pikiran-pikiran itu membuat Maria kembali tersadar, bahwa Alfy terlalu sempurna untuknya yang banyak kekurangan.
"A_"
"Baiklah, aku mengerti." Entah kenapa. Maria merasa akan ada ucapan tidak enak keluar dari mulut Alfy. Jadi Maria menyela perkataan Alfy dan memberikan bingkisan besar yang diambilnya di bawah kolong meja.
"Ini! Tolong pakai ini, saat kau sudah siap menjawab pertanyaanmu dan kita akan ketemu tanggal dua atau dua minggu lagi."
Alfy menerima bingkisan dari Maria dan Alfy melihat Maria melirik jam tangannya. Senyuman di bibir Maria semakin melebar.
Maria mengambil tas di kursi kosong sebelah kanannya. "Aku ada janji setelah ini, jadi aku pergi duluan Alfy. Byee.." Maria bangun dari duduknya dan keluar dari restaurant.
Meninggalkan Alfy yang masih mencoba mencerna apa yang terjadi sudah dalam beberapa menit lalu, seakan itu terjadi dalam satu detik.
Susah di percaya, tapi sungguh! Ada perasaan tidak enak saat Maria pergi meninggalkannya. Seakan membuat sesuatu dalam dirinya hilang.
'Aku hanya ingin bertemu denganmu.' Seandainya Maria tidak menyela perkataannya, itulah kata-kata yang akan keluar dari mulut Alfy. Apakah kata itu akan melukainya?
Dan kata 'maaf' ingin sekali Alfy sampaikan pada Maria, walaupun Maria tidak mempersalahkan perceraian mereka, tapi tetap saja, kata itu yang ingin Alfy sampaikan.
'Maaf, karena sudah melukaimu.'
'Maaf, karena tidak memberimu kesempatan untuk memsuki hatiku.'
Masih banyak lagi kata 'maaf' untuk Maria dari Alfy.