
Seperti awal masuk hotel mata Maria yang terpaku pada interior lobby, sekarang Maria terpaku pada suite room di depannya.
Tidak salah lagi, ini adalah kamar Alfy. Sejak pertama kali Maria menginjakan kakinya ke dalam kamar ini harum khas Alfy menyambutnya.
Ruangan ini memang tidak lebih besar dari apartemen Maria, tapi akan lebih menyenangkan tinggal di tempat kecil seperti ini, sebab dia tidak perlu berjalan jauh untuk menggapai sesuatu.
Kaki Maria membawa tubuhnya mendekati ranjang size queen. Tangannya berjalan mengelus lembutnya sprai. Senyum terpajang jelas di bibir Maria, mengingat bagaimana seandainya dia dan Alfy tidur bersama di atas kasur empuk dan lembut.
Bayangkan! Maria berbicara empat mata, menceritakan tentang apa saja yang mereka lekukan untuk mengahabisi hari mereka. Lalu tertidur dengan berpelukan, saling menghangatkan satu sama lain.
Melihat wajah tidur Alfy, saat cahaya matahari membangunkannya.
Bayangan indah dan senyum Maria hilang saat matanya menangkap sesuatu yang seharusnya tidak ada di kasur Alfy. Sehelai rambut panjang yang sudah pasti bukan milik Alfy.
'Apa Alfy membawa wanita kemari? Apa wanita itu Yunna? Apa mereka tidur berdua di atas kasur ini?' Pertanyaan-pertanyaan bodoh terus berputar bagaikan keset di kepala Maria.
Bayangan-bayangannya bersama Alfy berubah menjadi bayangan-bayangan Alfy dan Yunna yang berada di atas kasur ini.
Maria terus mengacak-acak rambutnya. Siapa tahu dengan dia melakukannya semua bayangan Alfy dan Yunna akan hilang, tapi percuma karena bayangan itu masih saja berputar di kepalannya.
"Itu memang benar adanya Maria, jadi BERHENTI BERMIMPI!" Maria berteriak untuk memberi tahu dirinya sendiri, siapa sebenarnya dirinya dimata Alfy.
Maria mengambil handphone nya, mencoba menghubungi Alfy. Panggilan pertama hingga panggilan ke enam, Alfy tidak mengangkat telpon Maria. Maria menghentikan niatnya untuk menelpon, dia akan menanyakan pria itu pada Ryan.
Dalam satu nada dering, Ryan sudah mengangkat panggilan Maria. Seharusnya Alfy seperti Ryan yangvlamgsung mengakat telponku dengan sangat cepa__
"Ada apa? Kenapa kau terus menelponku Maria? Kau pikir pekerjaanku hanya melaporkan apa yang Alfy kakukan, padamu. Kalau kau mempunyai masalah dengan Alfy, GANGGULAH ALFY DAN BUKAN MALAH MENGGANGGUKU!"
Tes..
Ryan merasa terbebani dengan segala curhatannya. "Ma.. maaf kan aku Ryan." Maria menahan isakannya. Lalu mematikan telpon nya.
Wanita rapuh itu terduduk saking tidak kuat menahan tubuhnya agar tetap berdiri. Inilah yang takdir yang sebenarnya. Menangis sendiri dalam kamar.
Sekarang Maria menyesali hidupnya. Kalau saja dirinya ikut menolak perjodohan itu, bisa dipastikan dia akan bertemu dengan orang lain yang bisa mencintainya dengan sangag tulus.
"Berteriaklah, sayang."
"AKHHH..." Maria berteriak dan tangannya secara reflex melempar handphone di genggamannya. Handphone Maria membentur dinding dengan keras, kemudian hancur menjadi beberapa bagian.
Air mata kembali jatuh di pipinya. Entah berapa banyak air mata yang sudah Maria untuk menangisi Alfy. Menangisi hal yang sama, hal yang sama sekali tidak berubah.
Maria mengehentikan tangisannya saat di rasa jantungnya sudah tidak lagi berdetak seperti seharusnya. Dia harus menghentikannya, kalau tidak dia akan terbaring lemas di kamar ini dan dia yakin sebentar lagi Alfy akan pulang.
Berhasil. Maria berhasil mengantikan tangisnya. Sambil menahan sakit di dadanya Maria mengambil post-it hitam yang berlogo hotel Alfy, lalu menuliskan sesuatu.
Selesainya. Maria langsung pergi dari kamar Alfy. Mengembalikan card akses kamar Alfy pada resepsionis.
"Terima kasih ya, Yullya." Maria menyerahkan card akses kamar Alfy.
"Maafkan saya, bu. Saya tidak tahu kalau ibu istrinya pak Alfy." Yullya menerima card akses, tapi matanya menatap sepatu steleto hitam yang di pakainya. Dia tidak berani meperlihatkan wajahnya setelah apa yang sudah di katakannya sebelumnya.
"Tidak apa, Yullya." Jawab Maria tulus.
"Maaf. Karena biasanya pak Alfy membawa wanita lain, bukan ibu." Yullya ingin sekali merobek bibirnya sendiri, barusan dia mengeluarkan kalimat yang seharusnya tidak ia katakan pada seorang istri.
"Iya. Aku tahu."