
"Long time no see, Alfy?"
Alfy tidak mengacuhkan sapaan Maria, matanya terpaku pada sosok anak kecil dibelakang tubuh Maria yang mengintip -melihat kearahnya.
'Bukan. Bukan itu maksudku Alfy. Maybe she have your baby!'
'Your baby!'
Perkataan Yunna kembali terngiang ditelingannya. Alfy menggelengkan kepalanya, tidak mempercayai pikiran-pikiran yang mengatakan anak dibelakang Maria adalah darah dagingnya.
Jelas-jelas anak itu keponakannya Rian. Ya, benar. Mereka nelakukannya hanya sekali, jadi tidak mungkin Maria bisa hamil karena itu. Pasti dia sudah berhubungan dengan orang lain.
"Hai, Papanya Rasya." Sapa Rion, membuat Alfy kembali ke kesadarannya.
Rion menarik tangannya dari genggaman Maria, kemudian begerak membelakangi Maria. "Apa papah Rasya temannya Mommy juga?" Tanya Rion yang dijawab oleh Alfy dengan anggukan. Senyuman Rion merekah dan kengajukan pertanyaan lain yang membuat Alfy tidak bisa bergerak. "Kalau begitu apa Papa Rasya mengenal Daddy Rion?"
Alfy memaksakan membuat senyum yang menghasilkan senyum pahit dibibirnya. Ada sesuatu yang tidak disukainya dari pertanyaan Rion. 'Apa orang itu Rael?' Tanya Alfy pada dirinya sendiri.
"Daddy? Seperti apa Daddy Rion?" Alfy manatap wajah Rion, mencari potongan tubuh Yogi diwajah Rion, sambil mengelus rambut Rion yang hitam pekat. 'Tidak ada potongan Rael, sama sekali.' Jawab Alfy sendiri.
Rion menggeleng dan menatap sepatunya. "Rion tudak tahu."
Maria ingin mengehentikan semua ini! Maria ingin membalik waktu lagi, kembali pada saat ia tidak mengenal Alfy. Tapi kalau dulu tidak bertemu Alfy, apa mungkin ada Rion di dunia ini?
Tidak. Meskipun bisa membalik waktu, Maria tetap ingin bertemu Alfy karena Rion lebih dari sekedar obat yang mengobati dari luka yang Alfy goreskan. Sangat sebanding, luka yang didapat dari Alfy untuk mendapatkan Rion.
Benar. Saat ini Maria hanya harus bersyukur atas apa yang sudah terjadi dan mengatakan sejujur-jujurnya pada Rion.
Maria akan berusaha melupakan masa lalunya yang terpenting sekarang hanya Rion. Maria tidak akan lagi menghindari masa lalunya dan ia akan mengikuti alur yang sudah Tuhan takdirkan untuknya.
"Maria, boleh kita bicara?" Alfy melihat garis luka dimata Maria, membuatnya semakin ingin berbicara dengannya. Ia ingin tahu dan mendengar apa yang sebenarnya sudah terjadi untuk memastikan asumsi-asumsi yang masuk ke otaknya.
Maria tidak menjawab pertanyaan Alfy dan Alfy mengartikan ke diaman Maria sebagai tanda persetujuan. Alfy berjongkok di depan Rion. "Rion mau main ke rumah Rasya, sekarang?"
Rion mengangguk dan melihat ke arah Maria dengan wajah memohon menizinkannya main ke ruamh Rasya.
Maria membentuk senyum, Rion tidak boleh melihatnya bersedih. Maria tidak mengizinkan Rion melihatnya bersedih. "Boleh. Asalakan jangan merepotkan, ya?"
"Yesss!" Seruan Rion dan Rasya menghantarkan perasaan hangat dihati Maria dengan harapan mereka berdua selalu dekat seperti ini.
Alfy mengantar Rasya dan Rion naik ke mobil Alfy. "Pak, antarkan mereka ke rumah." Diangguki oleh supir Alfy.
"Hati-hati little boy." Maria melambaikan tangannya hingga mobil Alfy hilang dimakan jarak.
Alfy menajak Maria ke cafe yang berada di dekat sekolah Rion dan Rasya. Beruntung suasana cafe yang tidak ada pengunjung membuat mereka leluasa bicara.
"Rion..." Alfy memilih lebih dulu bicara. "Apa dia__"
"Iya. Rion adalah darah dagingmu." Maria bicara terus terang pada Alfy. Mungkin hal ini akan menjadi baik kalau Maria bicara jujur. Maria akan sangat bersyukur Alfy menerima Rion.
Alfy menatap kosong ke jari manis Maria, cincin pernikahan mereka masih terpasang indah. Maria yang mengetahui apa yang ditatap Alfy, menarik tangannya dan menaruh dibawah meja. Maria merutuk dirinya yang luoa melepas cincinya, cincin pelindung dari pria-pria yang ingin mendekatinya.
"Kapan kau tahu sedang hamil? Sebelum bercerai denganku?"
Maria menggeleng tidak setuju dengan perkataan Alfy. "Setelah aku sadar dari pingsanku saat acara yang ku buat."
Alfy memejamkan matanya, satu kebodohan lagi yang dilakukannya. Kalau saja haru itu ia menyenyusul Maria ke rumah sakit, mungkin sekarang ia tidak menikah dengan Yunna. Tapi saat ia menikah dengan Yunna, Yunna sudah hamil.
Kesalahan melahirkan kesalahan lainnya, kebodohan melahirkan kebodohan lainnya. Seandainya punya satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, Alfy tidak tahu mana kesalahan yang harus diperbaiki karena sudah terlalu banyak kesalahan.
Maria harus bahagia, sekalipun tidak bersamanya. Alfy akan mengembalikan kehidupan Maria.
"Biarkan dia bersamaku." Alfy mengatakannya tanpa emosi dan tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu?" Maria berdiri dari duduknya, suaranya meninggi karena darahnya mendidih hanya dengan perkataan singkat Alfy.
Enam tahun ia membesarkan Rion, tapi secara mudah Alfy ingin mengambil Rion? Jangan melucu! Maria tidak akan memberikan putra tercintanya.
Alfy ikut berdiri. "Kau sudah berkerja keras untuk Rion dan ini saatnya kamu bahagia, jadi sekarang biar aku yang merawat Rion. Kau bisa kembali ke kehidupanmu yang lama, sebelum ada Rion dan sebelum bertemu aku."
Plakk
Tamparan keras sampai dipipi Alfy, tamparan pertama yang Alfy dapatkan dari Maria. Rasanya sakit, sangat sakit hingga Alfy menginginkan yang lebih sakit dari ini. Ia pantas pendapatkan, sangat pantas, sangat-sangat pantas.
Lagi-lagi ia menyakiti Maria dan sekarang menyakiti Maria sama seperti menyakiti dirinya sendiri. Alfy ingin Maria marah, memukulnya, mengahancurkan tubuhnya, menyumpahinya tidak pernah bahagia. Alfy ingin, Alfy ingin itu. Tapi kenapa Maria hanya diam saja menerima semuanya dan Alfy benar-benar tersiksa dengan diamnya Maria karena diamnya Maria lebih menyakitkan.
Alfy tidak tahu harus melakukan apa untuk mengobati lukanya Maria.
Sekarang Alfy tahu Maria bukanlah wanita yang kuat, dia hanya wanita yang berperan kuat. Air mata berlinang di mata Maria, Alfy menarik Maria ke dalam pelukannya. Pukulan Maria didadanya tidak terasa sakit sama sekali, tapi suara isak tangis Maria sangat menyakitkan di telinganya. Semua orang yang mendengarkan tangisan Maria akan ikut merasakan sakit di dadanya.
Setelah berpuluh tahun lamanya, air mata Alfy kembali jatuh dan Maria yang berhasil menjatuhkan air mata itu.
"Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku, kau tidak perlu memaafkanku. Aku akan hidup dengan rasa bersalahku padamu. Tapi apa yang harus aku lakukan Maria? Demi mengobati luka dihatimu. Aku sudah terlalu banyak menghancurkan hatimu." Air mata Alfy membasahi baju bagian pundak Maria.
"Biarkan aku memberimu kebahagian Maria. Aku ingin membahagiakanmu, tapi semuanya sudah tidak bisa lagi diubah. Aku mencintai Yunna dan sekarang aku juga mencintaimu, aku mencintai kalian berdua. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kalian tersakiti. Aku ingin egois memiliki kalian berdua, tapi selama ini keegoisanku sendiri yang mengancurkanku."
Alfy melepaskan dekapannya pada Maria, jarinya bergerak menghapus jejak air mata Maria. "Kembalilah padaku, Maria."