About My Pain

About My Pain
Chapter Fifty Five



"Rian? Pagi sekali kau sudah disini."


Maria baru bangun dari tidurnya terheran mendapati Rian yang sudah terduduk di ruang TV dengan pakaiaan kantornya.


Rian berdiri dan bejalan mendekati Maria. Kerutan di keninh Rian tidak bisa tertutupi melihat mata Maria bengkak. "Kau habis nangis?"


Sudah lebih dari lima tahun Rian tidak melihat mata bengkaknya Maria. Ada apa kali ini? Apa lagi yang membuatnya menangis? Dulu yang bisa membuat Maria menangis adalah Alfy, apa sekarang karena Alfy lagi?


Maria tidak mengacuhkan pertanyaan Rian, pergi ke dapur mengambil dua sendok di lemari pendingin yang sudah membeku untuk mengobati mata bengkaknya.


"Kenapa lagi kali ini?" Rian mengikuti Maria.


"Tadi malam Rion menanyakan ayahnya." Jawab Maria.


Pikiran Rian jadi melayang mengingat kejadian kemaren. "Ahhh.. dia pasti ingin tahu siapa ayahnya. Lalu kau jawab apa?"


Sendok dingin masih menempel di mata Maria. "Aku belum menjawab Rion sudah pergi ke kamarnya." Maria menjauhkan dua sendok dari matanya. "Sepertinya dia marah padaku."


"Kau tidak membujuknya?" Rian tahu Maria sudah tidak bisa melakukan apapun kalau sudah begini, Maria pasti merasa semua yang dilakukannya serba salah.


"Mungkin aku harus berkata jujur pada Rion kalau ayahnya sudah punya keluarga yang baru dan__"


"Dan kau akan merusak pribadinya. Rion masih kecil." Rian menyela Maria. Rion terlalu kecil untuk mengetahui hal seperti ini.


"Lalu aku harus apa?" Maria melempar sendok ke westafel.


"Sepertinya kau harus menikah, seharusnya kau menuruti perkataan om Ollify untuk menikah lagi." Usul Rian.


"Kau gila?! Sudah ku bilang, aku tidak mau menikah lagi." Bantah Maria cepat. Melipat kedua tangan di atas dadanya.


"Bagaimana kalau Alfy memintamu menikah dengannya lagi?" Tanya Rian cepat.


"Tentu saja aku__" Maria tersadar perkataan apa yang akan keluar dari mulutnya. Itu adalah reflek hatinya. "Ti..dak mau." Lanjutnya.


Rian menampilkan smirk jahatnya. "Tentu saja kau bohong." Balas Rian. "Sudahlah, aku akan membangunkan Rion."


Rian berbalik, tapi langkahnya terhenti sangat mengingat masih ada hal yang harus Maria ketahui. "Yah, aku lupa memberi tahumu. Kemarin Rion bertemu Alfy du sekolahnya."


Mata Maria melebar. "Bagaimana bisa?"


"Rasya anakanya Yunna dan kemarin mereka ketemu karena Alfy menjemput Rasya."


Maria sedikit tidak percaya, teman yang dimaksud Rion adalah saudaranya sendiri dan ayah temannya adalah ayahnya sendiri. Dunia begitu tidak adil.


"Kau memberi tahu Alfy tentang aku?" Jangan sampai Rian bodoh dengan memberi tahu tentangnya pada Alfy karena kalau itu terjadi Maria akan_


"Tentu saja tidak. Jadi mulai sekarang kau harus berhati-hati." Rian memperingati Maria.


"Apa sebaiknya aku punya mobil dan sopir baru untuk mengantar-jemput Rion?"


"Rion akan merasa kau menjauhinya," bantah Rian.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Maria pasrah. Maria selalu ingin yang terbaik untuk Rion, tapi jika sudah menyangkut Alfy Maria merasa sangat bodoh dan tidak punya akal.


"Antar-jemput seperti biasannya, tapi harus hati-hati. Kalau aku bisa aku yang akan mengantar-jemput Rion."


"Thank you, Rian." Maria tidak tahu jadinya kalau tidak ada Rian, baik dulu hingga sekarang.


"Mommy." Suara serak khas bangun tidur Rion mengalihkan segalanya. Rion keluar dari kamarnya sambil menhucek-ucek matanya.


"Hai, little boy. Kau sudah bangun? On Rian baru saja ingin membangunkanmu." Maria mendekati Rion, memberasihkan kotoran mata Rion.


"Mommy aku mau request bekal, hari ini."


"Request apa, sayang?" Tanya Maria karena dengan senang hati Maria membutkan permintaan Rion.


"Spageti, mom."


"Spageti? Tadi malam sudah makan spageti, bagaimana kalau kimbap?" Usul Maria yang membuat wajah Rion berminar.


"Call!" Rion menjawa pertanyaan Maria dengan bahasa gaul dari Korea yang berarti-setuju.


Dengan semangat Mari membuat kimbap berbentuk lucu untuk Rion dan Maria sengaja membuatkan banyak agar Rion bisa berbagi makanannya dengan Rasya.


●°●


"Wahhh... Rion, mommy mu jago masak."


Mata Rasya berbinar melihat makan siang Rion, sangat menarik mata.


Buru-buru Rasya mengambil satu dan mencobannya. Mata Rasya membulat saat merasakan kimbap lucu dalam mulutnya.


"Tentu saja, aunty Milla dan nenek Mia yang mengajarkan mommy memasak." Sahut Rion dengan bangga.


"Pulang sekolah, Rion mau kan main ke rumah Rasya? Mamih Rasya ingin sekali bertemu Rion." Ajak Rasya dan diangguki dengan semangat oleh Rion.


"Tapi aku harus bilang Mommy dulu." Rion memasukan satu potong kimbap ke mulutnya.


"Hari ini mamih Rasya aku yang jemput, jadi biarkan mamih Rasya yang izin ke mommy Rion."


Sepulang sekolah, Maria sudah menunggu di depan kelas. "Hai, little boy!" Panggilan Maria megalihkan fokus Rion dari tasnya.


"Mommy." Rion berlari mendekati Maria dan seorang anak kecil mengikuti Rion dari belakang, bisa Maria tebak anak itu adalah Rasya.


"Hai, mommy Rion." Dengan sangat sopan Rasya menyapa Maria.


Senyum Maria berkembang melihat wajah tampan Rasya. Kalau diperhatikan secara seksama wajah Rion dan Rasya mirip. Walaupun wajah Rasya kelihatan sekali mejiplak wajah ayahnya, sedangkan Rion lebih mirip Maria


"Hai, kamu pasti Rasya. Kamu tampan sekali." Maria mencupit pelan pipi Rasya.


"Terima kasih, Mommy."


Bukan Rasya yang menjawab, tapi Rion. Rion memajukan bibirnya melihat Maria memuji Rasya. Maria hanya tersenyum senang.


"Mommy Rion, boleh kan Rion main ke rumah Rasya?" Izin Rasya.


"Of course, asalkan kalau Rion mengacau rumahmu jewer saja telingannya." Jawab Maria bercanda.


"Ma..ria,"


Sebuah suara memanggil nama dari belakang. Maria membalikan tubuhnya dan langsung menegang, mendapati seseorang yang sudah hampir tujuh tahun tidak bertemu.


Orang itu masih sama, tidak ada yang berubah. Maria menarik bibir membantuk senyuman paksa. "Hai, Alfy. Long time no see."


Maria tidak menyangka akan ketemu Alfy secepat ini setelah cerita Rian tadi pagi, ia pikir hari ini akan bertemu Yunna lebih dulu, nyatanya tidak.


"Papah." Rasya lari ke Alfy, memeluk kaki panjang Alfy.


Maria memandang mata Alfy dan sebaliknya. Seolah-oleh mereka sedang berbicara menggunakan tatapan mata. Maria tidak bisa membaca apa yang dimaksud mata Alfy, seperti kesedihan atau penyesalan.


Secara tidak sadar, Maria menggenggam lengan Rion dan membawa tubuh anaknya ke belakang tubuh Maria. Dihadapaannya saat ini adalah adegan yang akan membuat luka dalam hati Rion kalau Rion tahu Alfy adalah ayahnya.


Maria tidak suka pertemuan ini. Pertemuaan anatara dirinya dan Alfy dengan adanya Rion di antara mereka. Karena pikiran-pikiran buruk terus bermunculan di kepala Maria. Maria takut Alfy mengambil Rion darinya dan Maria takut Rion yang dengan senang ikut bersama Alfy.