
Maria dan Rion sudah sampai di rumah mereka, awalnya Rion susah sekali di ajak pulang karena terlalu larut bermain bersama Rasya. Dengan berpura-pura akan meninggalkan Rion disana, Maria baru bisa membawa putranya pulang, meskipun terpaksa dan wajah cemberut menemani pulangnya mereka.
Rion langsung masuk ke dalam kamarnya begitu mereka sampai, Maria ingin pergi menemui Rion, tapi sepertinya hati Rion sedang tidak baik. Dan mungkin hari ini Maria akan tidur sendiri lagi.
Sesudah membersihkan dirinya Maria duduk di meja riasnya, seperti biasa memberi nutrisi pada kulit wajahnya. Maria jadi teringat apa yang dikatakan Yunna, Alfy mengurus bekas kamarnya seolah-olah Maria ada. Maria tidak habis pikir, kenapa Alfy melakukan itu.
Pukk...pukk...pukk...
Maria menepuk-nepuk pelan pipinya agar serum yang digunakannya meresap kulit dengan sempurna. Tiba-tiba pintu kamar Maria terbuka menampakan Rion yang sudah memakai piyama satin bermotif polkadot memeluk bantal kesukaannya.
"Mom," panggil Rion.
Dari kaca Maria bisa melihat wajah murung Rion yang lucu, membuat Maria menahan tawanya. "Ada apa boy? Kamu mau tidur sendiri?" Tanya Maria iseng.
Rion menggeleng cepat. "Enggak, Mom. Aku mau tidur bersama Mommy."
Maria berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Rion. Diciumnya pipi gembul Rion. "Mommy kira, little boynya Mommy sudah berubah menjadi just boy, ternyata belum."
"Aku takut, mom."
Maria tertawa, menggedong Rion ke kasur mereka. "Takut apa? Kemarin little boynya mommy berani tidur sendiri, tapi kenapa sekarang jadi takut lagi?" Maria menghadiahi banyak ciuman di wajah Rion.
"Aku terpaksa, mom."
"Baikalah, maafkan mommy." Maria mengelus rambut Rion yang sudah menjadi obat tidur Rion. "Jangan tidur dulu, little boy!" Maria mengagalkan kantuk yang sudah mulai menyerang Rion.
"Mom... aku hampir saja tidur." Ujar kesal Rion.
"Kenapa Rion tidak bertanya tentang Daddy lagi?" Sebenarnya Maria tahu Rion anak yang keras kepala, sehingga ia harus tahu apa yang ingin diketahuinya. Tapi Maria hanya penasaran, kenapa Rion tidak lagi menanyakan rentang ayahnya.
Rion masuk ke dalam pelukan Maria dengan sangat erat. "Aku tidak akan menyakan Daddy lagi, jika itu akan membuat Mommy menagis. Aku tidak suka melihat Mommy nagis." Jawab Rion.
Pada malam meninggalkan Maria, Rion kembali ke kamar Maria karena takut tidur sendiri dan malah melihat Maria sedang menangis.
Maria ingin sekali menangis mendengar jawaban Rion, mangis bahagia karena Tuhan memberikan putra seperti Rion yang sangat sayang dan mengerti dirinya. Tapi tetap saja Rion harus tahu siapa ayahnya.
Maria menarik kepala Rion agar menatap matanya dan ia bisa melihat mata Rion yang merah, pati Rion menahan air matanya karena Maria tidak bisa mendapati bekas air mata di pipi Rion.
"Apa yang Rion pikirkan tentang Rion?"
Rion menagkat bahunya. "Aku tidak tahu, tapi ada seseorang di kelas yang memanggilku anak haram mom karena aku tidak punya ayah."
Mata Maria melebar, seenaknya orang itu bicara, apa orang itu tidak tahu perjuangan Maria untuk mendapatkan Rion. Sungguh itu menyakiti perasaan Maria karena kalimat itu pasti melukai hati Rion juga.
"Jangan pernah dengarkan orang yang berbicara buruk tentang kamu, sayang. Itu tidak benar." Maria mengelus rambut Rion. Maria harap elusannya bisa menghapus rasa sakitnya.
"Apa boleh aku mengetahui siapa ayahku, Mom?" Rion ingin tahu siapa ayahnya, tapi kalau ibunya tidak ingin memberitahu ia tidak akan memaksa. Pasti sudah terjadi sesuatu hal besar yang membuat mereka berpisah dan membuat ibunya menangis saat mengungkit tentang ayah, pikir Rion.
Rion adalah pelindung ibunya, bodoh sekali jika ia mengaku pelindung tapi membuat yang dilindunginya menangis.
Maria ingin memberitahu Rion, bahwa Alfy adalah ayahnya, tapi ia takut putranya akan kecewa. Entah kecewa pada dirinya atau pada Alfy. Apa lagi sampai Rion membenci Alfy. Alfy tidak salah, ia yang salah karena tidak memberitahu Alfy.
"Hmm.. boleh, tapi Mommy berharap kamu tidak merasa kecewa, sayang." Maria menunggu respon dari Rion dan putrnya memberi respon menganggukan kepalanya. "Daddymu..." ukh... Maria tidak suka rasa canggung yang menegangkan ini. "Tidak bisakah melupakan saja Daddymu? Dan bagaimana kalau kita mencari Daddy baru?" Ujar Maria dengan nada bercanda.
"Mommyyyy yang benar saja," Rion menatap tidak percaya akan candaan Maria.
Yang benar saja ibunya bicara seolah masih ada pria yang mau dengan ibunya. Kalau memang ayah dan ibunya sudah bercerai, ia tidak akan meminta untuk balikan, ia hanya ingin tahu siapa pria bodoh yang menceraikan wanita sebaik ibunya. Semisal masih ada yang mau dengan ibunya, tentu saja Rion akan menyetujuinya karena Rion juga tidak akan menolak untuk mendapat ayah baru.
"Jadi siapa Daddyku?"
Maria membuang nafasnya menetralkan, ternyata Rion memiliki keras kepalanya Alfy. Baiklah sepertinya ia harus memberitahu, "Daddy kamu adalah papanya Rasya." Ujar Maria dengan cepat, akhirnya ia bisa mengatakannya pada Rion.
Tidak ada sahutan atau jawaban dari Rion. Sepertinya Maria terlalu lama mennetralkan jantungnya dan lihat Rion sudah masuk ke dalam dunia lain. Rion jahat sekali, ia jadi harus mengumpulkan keberaniannya lagi saat putranya kembali bertanya.
Sepertinya ia benar-benar harus mulai mencari Daddy baru untuk Rion agar tidak putranya tidak menanyakan Alfy lagi. Hah, tapi siapa yang harus ia ajak nikah? Sudah tua seperti ini, memang masih ada yang mau dengannya? Umurnya sudah kepala tiga, apa lagi ia punya Rion. Jangankan bisa dapat yang lebih muda darinya yang duda pun sepertinya mencari yang masih ting-ting.
Tapi kenapa Maria jadi berpikir ingin menikah lagi? Padahal ia sudah berniat tidak akan menikah lagi.
●°●
"Dokter Theo, maukah dokter menikah denganku?" Tanya Maria bercanda pada dokter spesialis bedah yang umurnya sedikit lebih tua darinya, tapi masih belum menikah. Sudah bisa ditebak dokter Theo akan menolaknya. Lihat saja wajah dokter Theo langsung tegang karena pertanyaannya.
Maria tertawa melihat wajah tegang dokter Theo. "Hahaha, aku hanya bercanda dokter. Ini catatan pasien yang dokter minta." Maria memberikan beberapa kertas yang digabungkan menjadi satu di atas papan jalan.
"Mau. Ayo, kita menikah." Perkataan dokter Theo menghentikan kaki Maria yang besiap melangkah keluar dari ruangan dokter Theo. Tubuhnya menegang mendengar jawaban dari candaannya.
Maria berbalik menghadap Theo. "Dokter serius?" Theo mengangguki pertanyaan Maria. "hahaha, terimakasih candaannya, dok. Aku sudah tidak perawan dan sudah memiliki anak yang bulan depan berumur enam tahun, tidak mungkin dokter serius dengan itu. Maafkan candaanku yang terlalu berlebihan."
Theo berdiri berjalan mendekati Maria"Aku tidak bercanda."
Tidak, Maria tidak percaya. Kenapa Theo malah mempercayai candaannya? Sungguh Maria sangat bodoh.
'Rion kamu membuat Mommy seperti orang gila.'
_____________________
Jangan lupa favoritkan cerita aku ya😜