About My Pain

About My Pain
Chapter Thirty Nine



"Tunggu dulu! sekarang kita mau kemana?" Maria sampai tidak ingat menanyakan kemana mereka akan pergi, karena bugatti yacht ini. "Kau tidak berniat membuangku ke lautkan?" Maria menjadi panik sendiri, apa lagi membayangkan tubuhnya mengambang tanpa sisa nafas.



"Good idea! tapi aku masih ingin melanjutkan hidupku dengan Yunna. Ayah mu pasti akan membunuhku setelah aku membunuhmu." dengan sarkisnya Alfy mejawab pertanya Maria.



Lagi-lagi Alfy menggunakan nama Yunna sebagai alasan. Tidak bisakah pria itu tidak menyebut atau memikirkan tentang Yunna sehari saja. Rasanya Maria ingin menenggelamkan tubuh Alfy dan Yunna ke laut mati.



Mata Maria melebar melihat Alfy mekaikan peralatan menyelam. "Kau mau apa, Alfy?" Maria menahan tangan Alfy.



"Setidaknya aku harus melihat ikan disini." apa itu artinya Alfy nya akan turun ke dalam laut?



"A..apa? bagaimana nanti kau dimakan hiu? apa lagi sebentar lagi matahari teggelam sempurna." kulit Maria meremang membayangkan tubuh Alfy dilahap dengan hewan super buas itu.



"Jangan mengada-ada. Lebih baik kau ikut aku menyelam."



"Tidak. Kau jangan gila, aku tidak bisa berenang di laut lepas seperti ini." sahut Mari dengan cepat, jantungnya ingin copot. pikiran-pikiran bodoh terus mengelilingi otak Maria.



"Ada pelampung."



"TIDAK... TIDAK..." teriak Maria



Alfy memaksa memasakan pelampung di tubuh Maria dan Maria tidak bisa menghentikan Alfy kerena kuatnya tubuh Alfy mendukung pria itu. Setelah pelampung merah itu terpasang di tubuh Maria, Alfy menghampit kaki Maria memasangkan fans, sepatu yang mirip kaki katak. Tak lupa dengan mask dan regulator.



"Aku tidak tahu cara menggunkan ini, Alfy." Maria menunjukan regulator.



"Kau bernafas menggunaka ini, bukan dengan hidung. Caranya, kau masukan karet ini ke dalam mulut. lalu bernafas dengan mulut." Maria menganggukan kepalanya.



"Kapi kau janji jangan jauh-jauh dariku! Aku tidak sanggup membayangkan tubuhku di makan ikan hiu." tangan Maria menggengam kaos Alfy.



"Ayo!"



"Aaaaaa.. hps_"



byurr...



Alfy menarik tubuh Maria terjun dari yatch, secara refleks Maria mendekap tubuh Alfy dengan erat. Dia takut tidak bisa melihat hari esok.



"kau jahat Alfy, aku bahkan belum siap turun." hidung dan tenggorokannya perih karena air laut masuk.



"Sudah cepat pake mask mu!"



Maria mengikuti perkataan Alfy dengan kesal. Baru aja dia memasang masknya dia sudah sesak nafas, jadi dengan cepat dia melapasnya lagi.



"Akhhh... aku tidak mau! Aku tidak bisa nafas."



Alfy melepas mask yang sudah si pakainya. Dia sudah jenkel sendiri melihat Maria yang terus saja mengeluh, dia jadi ingin membunuh manusia berisik seperti Maria.



Kalau Yunna nya tidak mungkin seberisik Maria. Wanita ribet ini, seharusnya dia tidak memaksa Maria untum ikut turun dengannya. Sekarang Alfy menyesali perbuatan laknatnya.



"Pakai regulator mu dulu, baru mask mu. Tenang! Bernafas pelan! Tarik dan buang! Jangan takut ternggelam, aku akan memegangimu." Suara Alfy melembut. Entah perasaan dari mana dia ingin Maria merasakan sesuatu yang belum pernah wanita itu rasakan.



Maria mengikuti arahan dari Alfy dan perasaannya tenang dengan suara lembut Alfy yang meyakin Maria terlindungi dari apapun yang akan menyakitinya.




Ada teman Nemo yang bodoh juga. Yah walaupun ikan itu bodoh, dia sudah berjasa membantu Nemo bertemu ayahnya.



Alfy memindahkan gengaman tangan Maria ke sebelah kiri tangannya dan tangan kanannya menjadi merangkul pinggang Maria.



Maria tercengang. Seingatnya ini pertama kalinya Alfy merangkulnya. Nafas Maria tetcekat.



"Khuuk.. khuuk.." Maria terbatuk dalam air, dengan cepat Alfy membawa kepala Maria ke permukaan dan melepas mask Maria.



Alfy tidak bisa menghilangkan rasa khwatir di wajahnya. "Kau tidak apa-apa, Maria?"



"Khuukkk.. khuukkk.." batuk Maria semakin parah saat Alfy menyebut namanya. Wajah Maria memerah.



Alfy menepuk-menpuk kecil tubuh Maria dan meminta penjaga yacht, air mineral. Maria menerima minum yang Alfh sodorkan.



Maria merasa melayang karena perlakuan manis dan lembut Alfy. Kupu-kupu di perut Maria pun ikut berterbangan.



"Aku baik-baik saja. Alfy bisa kau ambilkan ikan badut itu? Aku ingin memegangnya." Pinta Maria.



Alfy mengagguk. "Tunggu di sini!" Lalu Alfy melepas masknya dan menyelam ke dalam air.



Senyuman di bibir Maria rasanya sudah diberi pengawet sampai tidak bisa hukang dari bibirnya. 'Tuhan. Seperti ini kah yang Yunna selalu rasakan? Aku ingin merasakannya juga, walaupun bukan dengan Alfy. Jadi aku mohon kirim seorang pria manis itu untuk, jangan hanya untuk Yunna saja.'



Tak berapa lama Maria menunggu, kepala Alfy nongol ke permukaan. Tangannya membuka dan memperlihatkan ikan orange putih.



"Wah... lucu sekali. Pantas saja orang memanggilnya ikan badut." Marie mengelus ikan di tangan Alfy.



Sudut bibir Alfy tertarik, melihat Maria yang terkagum-kagum hanya dengan memegang ikan badut. Apa selama itu Maria terkurung dalam istanya, sampai dia sangat senang seperti orang dapet undian.



"Alfy. Apa di bisa tumbuh besar seperti hiu?"



Pertanyaan bodoh! Semua orang tahu ikan badut tidak bisa sebesar itu. Bisa penuh laut kalau ikan semua sebesar hiu.



"Tidak. Paling besar 10 cm." Jawab Alfy sabar.



"Boleh aku membawanya pulang?"



"Tidak." Senyum dibibir Maria langsung hilang. "Bisa habis kalau semua orang membawanya pulang. Lagi puka kau bisa mematikan ikan ini tidak mati saat berada di akurim mu?" Lanjut Alfy.



Maria menyetujui perkataan Alfy. 'Aku saja tidak tahu makanannya apa. Bagaimana bisa si badut ini bertahan hidup dengan ku.'



"Sebagai gantinya, aku akan membelikanmu ikan badut tawar."



Senyum di bibir Maria kembali merekah. "Memang ada?"



"Ada. Aku akan belikan sepulang ini." Senyuman Maria pun menyalur kebibir Alfy.



'Terima kasih untuk hari ini Alfy. Kau mambuatku menyadari ada banyak hal yang indah di dunia ini, selain dirimu terntunya.



Tolong doa kan aku menemukan pria setampan dan semanis dirimu. Aku bahagia Alfy.'