
Hari ini Fanny berjanji mengajari Maria memasak dan kebetulan sekali Alfy menghubunginya untuk bertemu. Jadilah Maria meminta Alfy menemuinya di restaurant Fanny.
Maria sudah siap dengan pakaian santai yang indah di tubuhnya dan tangannya mulai memasang sepatu, salah satu koleksi Louis Vuitton di kaki jenjangnya.
Jangan lagi tanya 'berapa harga sepatu itu?' Karena tentu saja Maria mengeluarkan setumpuk uang yang tidak sedikit untuk mengisi lemari koleksi sepatunya. Sepatu yang saat ini Maria kenakan, sama harganya dengan satu mobil keluarga.
Tangan Maria yang menyambar tasnya, terhenti karena dering handphonenya berbunyi. Jantungnya berdebar kencang, melihat nama Alfy yang terpampang jelas dilayar handphonenya.
Senyuman muncul di bibir Maria, dia langsung mengangkat telpon Alfy. "Halo, Alfy."
[Halo, Maria. Bisa kita bertemu dan bicara hari ini?]
Tentu saja Maria bisa, apa lagi bertemu dengan Alfy. Dari kemarin Maria terus menunggu telpon dari Alfy. Dia pikir Alfy tidak akan pernah menelponnya, jadi Maria berhenti berharap.
"Bisa, aku bisa."
[Baiklah, kita bertemu saat makan siang nanti.]
"Oke! Tapi boleh aku yang menentukan tempatnya?"
Maria pikir kenapa tidak sekalian saja ketemuan di restaurantnya Fanny. Si koki cantik itu awalnya menolak, tapi Maria bisa merubah pikiran Fanny.
[Iya, kirim saja nama tempatnya padaku.] Tliit...
Alfy mematikan sambungan telpon lebih dulu. Bahkan sampai sejauh ini saja suaranya masih terdengar dingin.
'Padaku?' Apa barusan Alfy mengatakan aku untuk menyebut dirinya pada Maria? Atau Maria yang salah dengar, karena Alfy hanya menyebut dirinya 'saya' kepadanya. Tapi ada sedikit kemajuan yang tidak berguna lagi. Kalau saja mereka belum bercerai, itu adalah sesuatu kemajuan yang cukup memuaskan.
Sepertinya, sekarang, Alfy mulai bisa sedikit nyaman bicara dengan Maria dan tentu saja hanya sebagai teman.
Maria kembali menyimpan handphone ke dalam tasnya dan mengendarai mobilnya menuju restaurant Fanny.
●°●
"AKHHHH....!" suara Maria melengking memenuhi ruangan.
Fanny panik dan langsung berlari melihat keadaan Maria. Mata Fanny melebar melihat sahabatnya yang terduduk dan memeluk lututnya sendiri.
"Tenang, Maria! Kau harus masukannya dengan pelan-pelan." Fanny mengelus bahu Maria.
"Tapi ini sakit sekali." Maria menunjukan tangan. Tangan yang tidak sengaja kena minyak panas saat Maria mulai menggoreng ikannya. Matanya mulai berair.
"Aish... ternyata, kau wanita yang lemah dan bodoh." Fanny berdiri melipat kedua tangannya di atas dada.
Maria ikut berdiri, tapi Meriz berdecak pinggang. "Apa kau bilang? Aku wanita lemah dan bodoh? Sembarangan sekali kau memainkan kata yang keluar dari mulutmu. Aku tidak lemah dan aku juga tidak bodoh. Aku hanya tidak bisa memasak! Memasak bukan ke ahlianku."
"Pantas saja Alfy ingin bercerai denganmu. Kau tidak bisa memasaaak." Ledek Fanny.
Sial! Fanny pandai sekali mengejeknya. Apa perlu dia membalas ejekan Fanny? Tapi rasanya bukan Maria sekali.
"Kau ini! Kau tahu sendiri apa alasan Alfy meminta cerai padaku." Bibir Maria maju beberapa centi.
"Ya sudah, lupakan pria brengsek itu. Sekarang kita lanjutin memasak, kau bilang mau belajar masak." Fanny mengambil sebuah pisau dan kubis ungu.
Fanny mulai memperlihatkan kelenturannya saat memasak. Dengan gerakan tangan yang cepat, kubis itu sudah mulai terpotong tipis.
"Ini bukan untukmu, tapi untukku. Ini menu dietku." Jawab Fanny santai.
"Kenapa harus kubis ungu? Kenapa tidak kubis yang hijau?" Kebiasaan lama Maria mulai kembali. Dia tidak bisa lagi menahan rasa 'kepo'nya.
"Karena kubis ungu menyediakan 10 kali lebih banyak vitamin A dan dua kalilipat zat besi. Suatu hari nanti, setelah kau melahirkan, dietlah dengan kubis ungu."
Mata melebar, mendengar perkataan Fanny. Maria sempat berpikir ingin melahirkan seorang anak, tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi, karena Maria hanya ingin memiliki anak dari Alfy.
Entahlah. Sekarang Maria sedang tidak terpikirkan masalah anak.
Maria tidak lagi bisa mengelak. "Terserah kau!"
Fanny tertawa bahagia. Wajah Maria mulai memerah, terlihat sangat menggemasakan.
"Berhenti tertawa! Atau aku akan__"
"Permisi! Bu Maria, orang yang anda tunggu sudah tiba." Salah satu pekerja Fannya mendekati mereka.
Tentu saja Maria langsunh menyerobot maju mendekati pekerja Fanny dan tanpa sadar dia mendorong Fannya. Membuat tubuh Fanny terhuyung kebelakang, untung dengan cepat Fanny mengendalikan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Di dalan hati Fannya, dia berteriak merutuki. Maria dan ingin mencabik-cabik tubuh Maria, lalu dimasukan kedalam gudang bersama tikus raksasa.
"Benarkah?" Mata Maria melebar, senyuman muncul dibibirnya. Tidak ada lagi air mata tergenang dimatanya.
'Ternyata dia sangat mencintai pria brengsek itu.' Ujar Fanny dalam hati.
Dulu di awal kenal Alfy, Fanny memang melihat Alfy pria yang sangat dingin. Tapi Fanny pikir, Alfy seperti itu pada orang lain dan tidak pada Maria. Ternyata dugaannya salah.
Kalau seandainya Fanny mengetahui masalah hubungan Maria dan Alfy lebih dulu, dia akan berusaha sekeras apapun untuk membatalkan pernikahan mereka.
Pekerja Fanny menjawab Maria dengan anggukan, setelah mendapat anggukan itu Maria langsung keluar dati dapur.
Dengan cepat, mata Maria mendapati tubuh Alfy karena kondisi restaurant yang sepi.
"Hai, Alfy." Sapa Maria lebih dulu dengan senyuman dibibirnya dan itu berhasil merebut perhatian Alfy dari handphone di tangannya.
Alfy berdiri, terdiam sebentar mendapati Maria dan senyumannya yang jarang sekali bisa dilihat Alfy dari balik layar kaca. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Alfy mengabaikan detakan jantungnya dan mengembalikan kewarasannya. Kembali bersikap biasa, dingin. "Hai."
"Kau tunggu disini dulu, aku akan mengambilkan makanannya." Suruh Maria. Alfy mengangguk dan kembali duduk.
Setelah beberapa lama menunggu, Alfy melihat Maria keluar dari ruangan yang sama dengan dua piring di tangannya. Di ikutisalah satu pekerja restaurant yang juga membawa dua gelas minuman.
Entah kenapa, hari ini Alfy terus saja mendapati Maria dengan senyum dibibirnya. Apa setelah bercerai dengannya, Maria melakukan sesuatu perawatan pada wajahnya yang membuat Alfy terus ingin melihat wajah Maria.
"Ini." Maria menaruh satu piring dan gelas di hadapan Alfy, sedangkan satu piring dan gelas di hadapannya sendiri.
Tanpa basa-basi, Alfy mengambil alat makan dan mencoba makanan di hadapnnya.
"Bagaimana?" Tanya Maria khawatir, dia takut Alfy menuntut restaurant Fanny karena makanan yang dibuat Maria.
Alfy mengagguk, "seperti biasa masakanmu." Jawabnya dan itu terdengar ambigu di telinga Maria.