About My Pain

About My Pain
Chapter Sixty Eight



Mereka lebih memilih makan di restoran tepat di depan rumah sakit. Sambil menunggu pesanan datang, Maria menanyakan kabar Fian. "Apa kabar, pah?"


"Sangat~ baik." Fian menjawab dengan mengayunkan suara untuk mendapat kesan bicara santai, tapi wajahnya yang tanpa ekspresi membuat usahanya gagal total. "Kamu gimana?"


"Maria juga baik, pah."


"Maria, kapan kamu mau main ke rumah mamah? Kita kangen sama Rion. Iyah kan, pah?" Rene meminta persetujuan dari suaminya dan Fian mengangguki Rene, sekali.


Senyum Maria berkembang. Baru ingat kalau Rion belum mengenal neneknya. Mereka pernah bertemu saat Rion umur satu tahun, tapi pasti Rion tidak mengingatnya.  "Nanti kalo Maria sama Rion libur main ke rumah mamah, deh."


Tunggu! Maria merasa hilang kendali. Tidak terpikirkan akan sebanyak apa pertanyaan yang harus Maria jawab, kalau nanti Rion bertemu Rene dan Fian. Tangan telunjuk Maria menekan pelipis dan meyakinkan dirinya dalam hati, biarkan saja berlalu mungkin nanti ada jawabannya.


"Bener, ya?!"


"Iya, mah."


"Kamu sama Alfy udah ketemu?" Fian kembali membuka suara.


Maria diam menatap tangan yang merampas dressnya. Menelan ludahnya  dengan susah. Sejujurnya ini pertanyaan biasa saja, tapi entah mengapa membuat moodnya hancur. "Udah, pah."


Sebenarnya Fian sudah tahu mereka kembali bertemu, karena Fian belum benar-benar melepas Alfy. Saat mendengar Alfy mengundur semua jadwal kerjanya di Korea, Fian mendapat kabar lain kalau Alfy menemui Maria dan putranya. Entah itu Alfy sengajakan atau tidak, Fian hanya bisa membuang nafas berat.


"Papah ini!" Rene mencubit lengan Fian yang langsung mendapat perotesan dari sang empunya.


"Sakit, mah." Fian mengelus lengannya.


"Lagian ngapain sih ngomongin Alfy. Biarin aja tuh anak ke kolong jembatan."


Maria menatap interaksi keduanya membuat lengkungan senyuman terpatri di wajahnya. Ia merasa bahagia karena masih ada mamah dan papah di sisinya, mengisi sedikit kekosongan.


Maria harus cepat membiasakan dirinya membicarakan Alfy yang sudah tidak memiliki hubungan dengannya. Kalau tidak mamah Rene akan terus merasa sedih karena berpikir Maria masih tersakiti oleh Alfy.


"Gak apa-apa, mah." Maria membela Fian.


"Tuh, dengerin kata Maria." Rene melayangkan tangannya ingin memukul Fian, tapi hanya sebatas ancaman kalau Fian bicara lagi.


"Alfy sudah bertemu Rion karena satu sekolah sama Rasya. Rion dan Rasya juga sekarang sudah dekat. Kadang mereka main di rumah Alfy dan kadang main di rumah Maria." Jelas Maria.


Maria mengontrol ekspresi wajahnya sebaik mungkin, tapi tetap terlihat jelas dimata Rene. Masih sama. Pandangan Maria saat membicarakan Alfy 5 tahun lalu masih sama seperti sekarang. Rene jadi mau menikam perut Fian di rumah yang malah memulai membicarakan Alfy.


"Kamu udah kasih tau Rion kalau Alfy Pa_AW!" Kali ini Rene langsung mencubit pinggang Fian dan dipelintir. Bisa-bisanya Fian kembali membuka suara dan semakin menghancurkan suasana hati Maria.


"Udahlah, Maria. Mamah sama Papah pulang aja." Rene membatalkan Maria menjawab pertanyaan Fian, membereskan barang bawaan nya ke dalam tas tas.


"Mah, makannya belum dateng." Maria mencoba menahan Rene agar tetap tinggal, setidaknya hingga mereka selesai makan siang.


"Papah kamu udah ngelantur, Maria. Dari pada makin bikin emosi mending Mamah sama Papah pulang." Bruk. Rene memukul pundak Fian. "Ayo." Mengajak suaminya dengan mata melotot.


"Tapi, mah_" ucapan Maria terputus.


"Maria." Suara berat dari belakang menyapa Maria. Otomatis Maria berbalik melihat sang pemilik suara.


Dokter Theo tersenyum lebar pada Maria. Lalu beralih pada dua orang paruh baya di depan Maria. "Selamat siang," Dokter Theo menyapa Fian dan Rene.


Maria mengangguk kecil.


"Dokter kenal Maria?" Fian membuka suara, bertanya pada dokter Theo dengan tatapan tajam.


"Dokter Theo pembimbing koas Maria, Pah." Maria menjawab pertanyaan Fian dan dokter Theo tersenyum membenarkan jawaban Maria.


"Oh gitu. Dokter Theo makannya banyak atau sedikit?" Rene bertanya pada dokter Theo.


Kening Fian berkerut, matanya menyidik Rene. Terkadang ia tidak bisa membaca pikiran istrinya sendiri, padahal sudah hidup bersama lebih dari 30 tahun.


Dokter Theo yang ditanya tersenyum canggung. "Mhm... lumayan." Jawab dokter Theo.


Senyum Rene merekah. Rene menoel lengan Fian, kemudian tangannya bergerak memberi isyarat suaminya untuk berdiri. Dengan bingung Fian menuruti arahan istrinya.


"Kalau begitu dokter Theo temenin Maria makan, ya. Mendadak kita harus pergi duluan." Rene mendorong tubuh Fian.


Maria ikut berdiri. "Tapi, mah." Maria kembali mencoba menahan Rene.


"Udah, sayang. Kamu makan sama dokter Theo aja. Kapan-kapan kamu bawa Rion kerumah, ya? Jangan lupa, loh." Rene pergi sambil mendorong Fian keluar restoran.


Maria menghela nafasnya. Padahal ia sedang berusaha menjauhi dokter Theo. Perkataan dokter Theo yang ingin melihat wajahnya setiap hari, benar-benar membuat Maria kepikiran. Seharusnya Maria biasa saja, tapi rasanya sangat tidak nyaman. Ini pasti karena perkataannya waktu itu.


Sebenarnya apa yang dokter Theo pikirkan? Maria sama sekali tidak bisa melihat pikiran dokter Theo. Tidak bisa dibaca. Sangat transparan.


"Silahkan duduk, dok." Maria mempersilahkan dokter Theo di kursi depannya.


"Kamu gak keberatan kan, makan sama saya?" Tanya dokter Theo, sambil membenarkan duduknya.


"Eng.gak kok, dok." Jawab Maria, memberikan senyuman terpaksa.


"Kamu lagi menghindar dari saya, ya?"


Mata Maria sedikit melebar dan bibirnya terbuka, seperti baru saja ketahuan berbohong dengan susah Maria menelan ludahnya dan menjawab pertanyaan dokter Theo. "Enggak kok, dok."


Jawaban Maria membuat bibir sebelah kanan dokter Theo tertarik membentuk senyuman. Dokter Theo tahu Maria sedang menghindarinya.


Hening diantara keduanya tidak dapat terhindarkan. Dalam hati Maria merutuk karena hari ini berjalan lebih lama dari biasanya, ditambah lagi pesanannya yang tak kunjung datang.


Maria tidak sengaja mendapati dokter Theo melihat ke arahnya, dan ia pura-pura tidak melihatnya. Ketika ia kembali melirik, Dokter Theo masih melihat ke arahnya.


Sebenarnya ada apa dengan dokter Theo ini? Kenapa dari tadi melihat ke arahnya. Atau dokter Theo melihat seseorang dibelakangnya. Maria melihat ke belakang tubuhnya, tapi yang ada hanya satu meja yang kosong.


"Ekhm." Deheman dokter Theo membuat Maria mengalihkan perhatiannya lagi pada dokter Theo. Dokter Theo menahan tawanya. "Dibelakang kamu gak ada siapa-siapa. Saya lagi ngeliatin kamu, Maria."


Mata Maria melebar, segera mencari objek mata lain selain dokter Theo. Aliran listrik dalam tubuhnya yang membuat Maria tidak bisa bergerak. Wajahnya terasa menghangat. Ia sangat terkejut. Dokter Theo sama sekali tidak bisa dibaca. Apa dokter Theo benar-benar blak-blakan seperti ini? Maria menutup wajahnya malu.


_______


Jangan lupa kasih like + vote kalian ^_^