About My Pain

About My Pain
Chapter Thirty One



Berniat ingin memberi waktu Alfy berpikir sejenak, malah membuat Alfy semakin bebas bergerak tanpa mengingat ada Maria yang menunggunya di rumah.



Berjalan delapan bulan umur pernikahan Maria dan Alfy. Tapi sudah satu bulan terakhir ini Alfy memilih tidak pulang ke rumah.



Di saat sepasang suami dan istri di luar sana sedang menunggu anak pertamanya lahir, Maria dan Alfy malah seperti anjing mengejar kucing.



'Pernikahan macam apa sebenarnya yang di jalani mereka berdua?'



Dan sama seperti hari-hari sebelumnya, Maria masih saja memilih mengahabiskan waktunya dengan berpikir panjang diri di kamar. Terkadang, tanpa di sadari pipinya sudah di basahi air mata.



Setidaknya sekarang Maria sedikit tenang dengan laporan-laporan yang Ryan berikan, tentang Alfy. Yah, pria itu tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Sungguh bertolak belakang dengan apa yang di lakukan Maria untuk menghabisi hari-harinya.



Maria mulai menyadari dirinya tidak boleh terus seperti ini, Alfy sudah mendapatkan kebahagiannya sendiri dan Maria juga harus mendapatkan kebahagiaan.



Hari ini Maria belum mendapatkan kabar Alfy dari Ryan. Maria mengambil hendphone nya di atas nakas dan jarinya mulai mencari kontak Ryan.



Dalam hitungan ke sepuluh, Ryan mengangkat telepon Maria.



"Hallo, Ryan. Bagimana Alfy sekarang?"



'Hallo juga, Maria. Alfy baik-baik saja.'



"Sedang apa dia sekarang?"



'Apa lagi yang dia lakukan, selain berkencan dengan tumpukan kertas di atas mejanya.'



"Apa di sana ada_"



'Tidak ada.'



"Kau tahu siapa yang ku maksud?"



'Yunna, bukan?'



"Yah, kau sangat tahu. Boleh aku bertanya?"



'Sudah dari awal kau bertanya, Maria.'



"Sorry. Oh iya, kemana Alfy tidur?"



'Dia tinggal di salah satu hotelnya, yang ada di dekat kantor.'



"Hotel apa?"



'YZ Hotel.'



"Baiklah. Terima kasih banyak, Ryan."



Maria lebih dulu mamatikan panggilan. Sekarang Maria hanya terdiam memikirkan sesuatu yang terus menjadi trending topic di otaknya. Dan solusi apa yang terbaik untuk hungannya.



Sebarnya Maria bukan termasuk ke dalam wanita yang suka berpikir panjang, akan tetapi saat ini dia akan memikirkan jalan terbaik dengan berpikir panjang.



●°●



Atasan hitam dan dipadu androk mini berwarna pitch, serta selatu boots hitam panjang hingga menutupi dengkulnya, terlihat begitu cantik di tubuh Maria.




Hari ini Maria sudah menetapkan pilihannya. Dia tidak akan membiarkan Alfy lagi. Satu bulan bukan lah waktu yang sebentar untuk berpikir.



Bagaimanapun hasilnya, Maria akan memikirkannya nanti. Yang terpenting adalah dia sudah berusaha melakukan terbaik demi memperbaiki hubungannya dengan Alfy.




Mencari kontak yang akhir-akhir ini menjadi favorite contact karena keseringan mendial nomor itu. Seperti biasa si pemilik nomor akan mengakat panggilan Maria, sebelum panggilan ke lima.



"Hallo, Ryan."



'Hallo, Maria. Ada apa?' Maria merasakan ke tidak senang dari nada bicara Ryan.



Yah, maafkan Maria yang selalu menelpon Ryan sehari minimal tiga kali hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting tentang Alfy.



"Apa aku mengganggu." Maria menjadi merasa bersalah terus mengganggu Ryan dengan panggilannya.



'Tidak. Apa yang ingin kau tanyakan, Maria?'



"Apa Alfy berada di kantor?"



'Mhmm..'



"Baiklah. Terimakasih, Ryan." Maria dengan cepat mematikan panggilan yang menggagu Ryan tersebut.



Mata Maria menjelajahi setiap bangunan yang ada di depannya. Di dalam hatinya membandingkan antara gedung yang satu dengan gedung yang lain. Ryan bilang hotel milik Alfy, dua gedung lebar bersebelahan di sekitar kantor Alfy.



Maria kembali mengambil handphonenya. Dia lupa bertanya di gedung sebelah mana Alfy tinggal. Kali ini Ryan lebih lama menjawab telepon Maria.



'Ada apa lagi, Maria?'



"Ryan. Di gedung sebelah mana, Alfy tinggal?"



'Gedung kanan.'



Tuut.. tuut.. tuut..



Bukan Maria yang mematikan telpon lebih dulu, tapi Ryan. 'Ryan pasti sangat marah, karena aku menggangunya trus.' Rutuk Maria dalam hati.



Maria kembali membawa dirinya memasuki salah satu hotel milik Alfy. Mata Maria langsung di manjakan dengan lampu-lampu indah yang menggelantung di atas. Semua kariyawan yang melewati dan di lewat Maria sangat ramah.



"Can i help you, miss?" Resepisonis wanita itu tersenyum lebar pada Maria dan Maria membalas senyuman resepsionis itu tidak kalah lebarnya.



"Boleh aku tahu, dimana kamar Alfy berada?"



Resepsionis itu mengerutkan dahinya. Maria yakin, walaupun di kantor semua karyawan mengetahui dirinya istri Alfy. Tapi belum tentu karyawan hotel ini mengetahuinya karena ini pertama kalinya Maria datang ke hotel ini.



"Maaf, bu. Peraturan di hotel ini, tidak memberikan informasi untuk orang lain."



"Aku istrinya Alfy. Jadi tolong kasih tahu dan berikan salah satu kunci aksesnya." Resepsionis wanita tercengang dan resepsionis pria di sebelahnya pun ikut tercengang tidak percaya.



"Maaf, miss. Jangan mengaku-aku." 'Hah, Mengaku-aku? Aku memang istri sah nya Alfy, untuk apa aku mengaku-aku.'



Maria mendial kembali nomor Ryan. Dalam hitungan dua detik, Ryan mengangkat panggilannya.



"Ryan tolong katakan pada resepsionis, agar aku bisa masuk ke dalam kamarnya Alfy."



'Berikan handphone mu pada resepsionis itu.'



Maria buru-buru memberikan handphone nya. Resepsionis itu mengangguk setelah mendengar apa yang di bicarakan Ryan, sekertaris Alfy.



Resepsionis bernama Yullya itu, memberikan handphone beserta kartu akses kamar Alfy. "Maafkan saya, Mrs. Yoan." Yullya membungkukkan tubuhnya.



"Tidak apa. Aku mengerti." Jawab Maria sambil mengelus pundah Yullya lalu pergi.



Yullya kagum dengan Maria. Di saat semua orang akan berteriak dan memberikan mata mencemooh, Maria malah memberikan senyuman hangat. Sungguh Matria memiliki pribadi yang luhur.