About My Pain

About My Pain
Chapter Sixty Three



"Alfy, Royaltie mau menarik investasinya pada proyek Aliegato." Suara Rian dari telepon genggam Alfy.


Alfy membuang nafas berat. Akhir-akhir ini semua hal yang Alfy lakukan tidak pernah ada yang beres. Hotel yang baru Alfy akan buka, sudah berjalan dengan tidak lancar karena itu disini Alfy untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Tidak bisakah kau meminta untuk menunggu? Aku sedang mencari pokok masalah." Alfy menggaruk rambutnya yang tidak gak gatal dengan kasar, menghancurkan tatanan rapih rambutnya.


"Aku sudah memintanya untuk menunggu, tapi dia tetap menolak."


"Kalau sudah begini dan aku menyetujuinya, pasti yang lain ingin ikut menarik investasinya."


"Kau benar."


Alfy memejamkan matanya, berpikir apa yang harus dilakukannya saat hal itu benar-benar terjadi. Alfy akan menjual properti yang tidak terlalu penting untuknya, seperti pulau untuk Yunna.


Pulau yang awalnya ingin Alfy berikan sebagai hadiah pernikahannya dengan Yunna, tapi setelah Maria mengetahui keberadaan pulau itu lebih dulu, Alfy tidak jadi mengatakannya pada Yunna. Entah apa alasannya, Alfy sudah merasa pulau itu tidak lagi spesial. Apa lagi disaat Tama mengangkat tubuh Maria yang kehilangan kesadarannya, Yunna menarik Alfy dari keramaian untuk berbucara, dan ternyata Yunna mengatakan wanita itu sedang mengandung. Bahagia dan kosong Alfy rasakan saat itu.


"Aku akan mencoba untuk bicara lagi dengannya. Tapi apa kau akan menghentikan pembangunan?"


"Bukan hal mudah menghentikan pembangunan. Aku akan mencari akar permasalahannya lebih dulu, baru mengambil keputusan menghentikan atau melanjutkan pembangunan." Jelas Alfy sambil memijat ujung hidungnya.


"Baiklah, aku menunggu informasi terbaru darimu. Istirahatlah, kau pasti baru sampaikan? Jangan pikirkan yang tidak berguna, pikirkan saja pekerjaanmu! Jangan bermain kesana-sini! Tetap dalam kamarmu dan keluar ketika kau butuh ke lokasi pembangunan! Harusnya kau membiarkanku ikut denganmu."


"Aku baru mau check in. Kau harus menggantikanku menghendel perusahaan pusat dan__" sesosok wanita yang sedang menggedong anak memasuki lift. "Lanjut nanti." Alfy langaung mengakhiri telepon.


Alfy berlari menekan tombol lift secepat mungkin untuk menghentikan lift, tapi Alfy tidak berhasil. Lift sudah bergerak naik. Alfy melihat monitor yang menunjukan lift berhenti. Lantai 6. Lalu memasuki lift lain yang tersedia, meuju lantai 6.


Ting..nung


Alfy memencet bel kamar terdekat lift, setelah mendapati sang pemilik kamar bukan wanita yang Alfy cari, meminta maaf, lalu beralih ke pintu sebelahnya.


Alfy tidak sadar, jika tindakannya sekarang ini seperti orang bodoh. Alfy tidak terpikir untuk kembali turun ke loby dan bertanya pada resepsionis, apa ada mengunjung bernama yang Alfy cari. Maria sudah membuatnya bodoh.


Maria. Ya. Alfy tidak mungkin salah mengenali wanita yang menggendong anak kecil itu Maria.


Tok! Tok! Tok!


Alfy mengetuk pintu dengan keras.


"MWO HASEYO?!" Pria ber badan besar, rwajahnya khas orang ASIA Timur keluar dari kamar itu dengan wajah merah marah.


"Sorry, i got the wrong room." Alfy sedikit merendahkan kepalanya, lalu berbalik untuk mencari ke kamar lain, tapi pria besar menahan kengan Alfy, dan memberikan kepalan kuat di pipi kiri Alfy.


Bugh


Bugh


Bugh


Alfy ingin membalas, tapi ini salah ia juga mengganggu orang. Tiga pukulan berhasil membuat ujung bibur Alfy terluka, dua petugas hotel yang sedang bertugas menghentikan pukulan pria besar itu pada Alfy.


"Museun il-ibnikka?" Satu petugas hotel membantu Alfy berdiri, dan petugas yang satu lagi menahan pria besar belum puas memukul Alfy.


"I namjaga nal gwichanhge haeyo."


"Gwaenchanh-euseyo?" Alfy berkerut kening. "Are you oke?" Petugas hotel mengerti ke bingungan Alfy.


"Yeah, i'm oke." Jawab Alfy pada petugas hotel. "I'm really sorry." Alfy beralih pada pria pria berbadan besar.


Tangan Alfy menekan bel, pandangannya beralih menatap ubin, sambil mempersiapkan diri kembali kena omelan atau bahkan pukulan lagi.


Alfy menelan ludahnya susah bersamaan suara hendle pintu bergerak. Alfy belum bergerak hingga matanya menemukan kaki di antara kusen pintu, ia mengangkat kepalanya.


Jantung berdetak lebih cepat, sengatan listrik mengantarkan rasa hangat ke seluruh tubuh, melalui aliran darahnya. Maria. Alfy menyeka rambutnya yang mengganggu pandangannya masih dengan menatap mata wanita di depannya, tidak berubah. Wanita di hadapannya benar Maria.


"Bagaimana bisa kau ada disini? Kau mengikutiku?"


Alfy menahan rasa rindu yang menggenangi hatinya dan menahan diri untuk tidak langsung menarik tubuh Maria ke dalam pelukannya. "Aku ada kerjaan disini, untuk beberapa hari."


"Kau tidak berbohong?" Dahi Maria berkerut.


Alfy tidak berbohong, tapi kalau tahu Maria berada disini, Alfy akan mengikutinya. Alfy yakin Maria akan percaya pada perkataannya. Tidak. Maria selalu percaya padanya. Alfy berharap Maria masih tetap sama.


Alfy tidak tahan untuk tidak memeluk tubuh Maria, Alfy menarik tubuh Maria masuk ke dalam pelukannya, menghirup wangi parfum bercampur harum tubuh Maria, sebanyak-banyaknya, dan membuat Alfy merasa sedikit berhafas lebih lega.


Baru tersadar dari keterjutannya, Maria mendorong dada Alfy menjauh, "Alfy, lepas!" tapi Alfy tidak membiarkan itu terjadi.


"Aku merindukanmu. Rindu ini menyakitkan," tidak ada penolakan lagi dari Maria, Alfy semakin memgeratkan pelukannya. "Aku tahu lukamu lebih menyakitkan. Aku tidak mengerti dengan perasaanku. Aku mencintai Yunna, tapi aku merasa kehilanganmu. Aku ingin bersamamu. Aku ingin menjadi ayah Rion."


Alfy mendengarkan semua apa yang Maria bicarakan. Siapa-siapa saja yang terluka dengan sikapnya yang egois ini, tapi hati Alfy lebih sakit mengingat Maria lah yang paling sakit disini.


Sekalipun orang lain bisa menyembuhkan luka Maria, akan tetapi Alfy ingin mengobati sendiri luka buatannya. Tanpa bisa di hindari air mata Alfy terjatuh dengan derasnya.


Alfy baru menyadari cinta pada Yunna sebenarnya hanya sebuah rasa tanggung jawab atas janjinya di masa lalu. Yunna yang sendiri di dunia ini membuat simpatinya seolah-olah mencintai wanita itu, hingga menutupi perasaannya pada Maria yang perlahan tumbuh setelah mengucapkan janji pernikahan.


Setelah berhasil mengendalikan dirinya kembali, Alfy melepaskan pelukannya. Menatap wajah Maria yang sama sekali tidak berubah. Sama seperti malam persatuan mereka sekaligus malam perpisahaan mereka.


"Alfy, ka... kau terluka?" Maria menarik dagu Alfy secara perlahan, melihat luka Alfy lebih dekat.


Alfy tersenyum kecil, "ada kejadian kecil tadi."


"Kejadian kecil? Tidak mungkin kejadian kecil sampai berdarah seperti ini. Kau seperti anak kecil saja, berantem untuk jalan keluar masalah." Alfy tertawa, Maria tidak sungkan menunjukan wajah ke khawatirannya.


"Bisa saja aku mencegahnya memukulku, tapi dia terlalu tiba-tiba hingga aku tidak bisa menghindari pukulannya."


"Masuklah, bersihkan lukamu dulu." Maria bergeser, memberikan celah Alfy masuk ke dalam.


"Dimana Rion?" Alfy duduk di sofa yang tersedia.


"Rion sudah tidur." Jawab Maria sambil mulai mengobati luka Alfy.


"Aww! Pelan-pelan, Maria."


"Maaf. Kau mau mengobatinya sendiri? Biar tidak sakit?" Maria menyodorkan salep.


"Tidak. Aku tidak bisa melihat lukaku. Tolong bantu aku." Alfy tidak akan menolak keberuntungannya.


"Bagaimana bisa kau terluka?"


Dan cerita panjang dari lobby hingga mendapat pukulan keras bertubi-tubi keluar dari mulut Alfy. Ternyata cerita Alfy bisa membuat Maria sediki tertawa mmendengarnya. Alfy berharap akan melihat tawa ini lebih banyak lagi.


Note : Jangan lupa kasih Vote dan masuk grup aku yaa..