About My Pain

About My Pain
Chapter Sixty Nine



"Apa dokter orang yang seblak-blakan ini?" Maria mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.


Senyuman dokter Theo semakin lebar. "Entah. Saya juga gak tau."


Maria menggelengkan kepalanya dan sebuah senyuman terbit di bibir Maria.


Setelah itu tidak ada lagi canggung diantara mereka, kedatangan pesanan pun tidak menjadi halangan pembicaraan, diiringi tawaan beberapa kali. Hingga mereka tidak menyadari ada seseorang di meja ujung memperhatikan mereka dan mengambil beberapa gambar mereka.


***


Setelah mobil terpakir rapih di garasi rumahnya yang ternyata sudah ada mobil lain, membuat senyum dibibir Maria berkembang.


Maria masuk ke dalam rumah, di living room kepingan lego berserakan. Rion benar-benar mengeluarkan semua koleksi legonya dan sangat berantakan.


"Mommy pulang!" Maria menghadiakan kecupan di pelipis Rion.


"Hai, mom." Sapa Rion singkat yang masih fokus memyusun lego dan tidak terganggu dengan kehadiran Maria.


Senyum Maria berkembang saat mendapati laki-laki tampan bertubuh kecil yang wajahnya tidak asing. "Oh, ada Rasya." Maria mendekati Rasya dan mengelus rambut Rasya.


"Iya, Bunda Rion." Rasya tersenyum menunjukan giginya.


"Kalian udah makan siang?" Keduanya menggeleng. "Mana om Rian?"


"Hai, Ria." Rian keluar dari dapur dengan celemek dan poring ditangannya.


Maria merapatkan bibirnya menahan untuk tidak tersenyum, apa lagi sampai ia tertawa. Rian memang pria kantoran yang menjadi kriteria suami semua wanita. Pintar cari uang, pintar masak, wajah dan tubuh standar ukiran dewa.


"Hai, Yan." Maria jawab sapaan Rian.


Ia menaruh piring berisi kentang goreng di meja dan duduk menghadap televisi yang menyala. "Kenapa isi kulkasmu kosong? Tidak ada yang bisa aku masak selain kentang dan sosis."


"Aku lupa belanja," Maria ikut duduk disamping Rian. "Kamu gak lanjut kerja?"


"Hah," Rian mendesah sambil melemaskan tubuhnya ke punggung sofa. "Aku mau berhenti kerja dan jadi bapak rumah tangga."


Maria tarik kembali anggapan bahwa Rian suami idaman wanita. Mana ada istri yang mau punya suami tidak bekerja, sekalipun uang tetap mengalir ke rekeningnya, tetap saja pengangguran.


"Kamu kerja aja, gak laku. Apa lagi gak kerja." Maria meneloyor kepala Rian.


"Kalo kamu, terima aku jadi bapak rumah tangga gak?"


"Kamu punya apa mau jadi bapak rumah tangganya Rion?" Suara lain yang Maria sangat kenal memenuhi ruang tamu.


Rion, Rasya, Maria, dan Rian serentak menoleh ke arah pemilik suara yang tiba-tiba hadir.


"Papah?" Maria berdiri mengambil pelukan pada ayahnya.


"Gimana kabar putri papah?" Mr. Ollyfi membalas pelukan Maria, menyalurkan perasaan hangat dan kekuatannya.


"Baik, pah." Jawab Maria, lalu melepaskan pelukannya. Ternyata Rion dan Rasya sudah bediri mendekat.


"Bagaimana liburannya, boy?" Mr. Ollyfi memberikan kecupan di kedua pipi Rion.


"Seru, grandpa. Lain kali kita liburan bersama, ya?"


"Tentu saja," jawaban Mr. Ollyfi membuat Rion tersenyum senang. "Kalau grandpa ada waktu." Canda Mr. Ollyfi melunturkan senyuman Rion dam pria paruh baya itu tertawa sambil memgelus rambut cucunya.


"Pah, kenalin ini Rasya." Maria memperkenalkan Rasya pada papahnya.


Saat melihat Rasya tersenyum kearahnya, Mr. Ollyfi menunjukan wajah dinginnya. Mr. Ollyfi sudah bisa menebak anak kecil di hadapannya ini adalah putra dari pria yang sudah menyakiti hati putrinya.


Maria menyadari perubahan mood ayahnya, "pah.." mengingatkan ayahnya.


Mr. Ollyfi memberikan senyuman lebar pada Rasya, "senang berkenalan dengan Rasya." Mr. Ollyfi menjabat tangan kecil Rasya.


Setelah itu Rion dan Rasya kembali bermain dan ayahnya Maria duduk di sebelah Rian. "Jadi kamu udah punya apa mau jadi bapak rumah tangganya Rion?"


"Apa kabar om?" Rian mengulurkan tangannya.


Mr. Ollyfi membalas jabatan Rian. "Gak usah mengalihkan pembicaraan."


Maria yang memperhatikan interkasi keduanya tertawa kecil karena ayahnya membuat Rian tidak bisa berkutik.


Mau tidak mau Rian menjawab, "punya rumah, punya mobil, cukup gak om?"


"Enggaklah! Dia saja punya perusahaan gak cukup." Mr. Ollyfi melepaskan tangannya dari tangan Rian.


"Pah, Rian cuma bercanda doang, kok. Jangan dibawa serius." Maria meletakan gelas berisi jus mangga di meja untuk Rian dan ayahnya. Dan dua gelas kecil berisi jus jeruk untuk Rion dan Rasya. "Lagian Rian udah ada yang ngegebet, pah. Cantik lagi."


Rian memperhatikan Mr. Ollyfi yang sepertinya ingin bicara, "iya, om. Rian tahu." Jawab Rian seolah pria itu tahu apa yang ayahnya Maria ingin katakan.


Rian cukup mengerti dari contoh perikatan pernikahan yang ada disekitarnya, membuatnya belajar untuk lebih berhati-hati dalam hal yang sangat serius itu.


"Kamu kerja yang bener, jangan males-malesan! Uang itu penting! Jodoh juga penting, bukan cuma ditunggu, tapi dicari. Hubungan pernikahan bukan main-main, jadi kalo gak punya niat serius untuk menikah, gak usah menikah!" Nasihat Mr. Ollyfi pada Rian.


Dimata Maria ayahnya seperti sedang bicara dengan anak laki-lakinya. Membuat Maria terharu. Maria sangat mengerti perasaan ayahnya, meskipun tidak di ungkapkan.


"Jomblo seumur hidup dong, om." Rian tersenyum kecut.


"Emang kamu gak punya niat serius? Anak jaman sekarang pada satu tipe, ya..." ayah Maria menjewer telinga Rian.


Rion, Rasya, dan Maria tertawa melihat Rian yang terlihat sangat teriksa.


Suara keributan diluar menghentikan aksi semua orang diruang tamu. Mr. Ollyfi lebih dulu berdiri dari duduknya, berjalan keluar melihat apa yang sebenarnya terjadi diluar. Maria dan Rian mengikuti langkah Mr. Ollyfi.


Mata Maria melebar mendapati dua pria dewasa saling memberi tatapan tajam di depan rumahnya.


"Sedang apa kalian?" Mr. Ollyfi membuka suara dan menghentikan aktifitas tanpa suara keduanya.


Maria membuang nafas berat. Kenapa dua orang ini ada disini? Mereka bukan tamu yang diundang. Alfy bisa saja menjadikan Rasya sebagai alasan datang kesini, tapi apa alasan dokter Theo datang kesini?


"Selamat sore, om." Dokter Theo menyapa Mr. Ollyfi.


"Sore, juga. Kamu siapa?"


"Dokter Theo, pah. Dokter pembimbing koas Maria." Maria memperkenalkan dokter Theo pada ayahnya. Dan dokter Theo mengangguk kecil membernarkan ucapan Maria.


"Ada perlu apa?"


Dokter Theo yang biasanya terlihat tenang, kini terlihat gugup dengan menelan ludahnya dengan susah. "Ada yang ingin saya bicarakan dengan Maria, om."


Maria juga tidak tahu apa yang membuat dokter Theo datang kerumahnya. Sepertinya tadi siang, setelah makan siang dokter Theo tidak mengatakan ada urusan dirumahnya.


"Biacara apa? Kamu juga Alfy. Ngapain kamu kesini?" Mr. Ollyfi meletakan kedua tangannya di pinggang.


"Pah, tamu harusnya disuruh masuk dulu." Maria menghentikan ayahnya yang tiba-tiba terkesan galak.


Maria sebenarnya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan ini, tapi setidaknya mereka bisa bicara dengan duduk.


_________


jangan lupa like, komen, dan votenya ya...