A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Kemapuan Yang Tak Sama



"Aku iri, andaikan aku seperti kamu juga!" Bantah Raffyn mengikuti gerakan Darrel. Namun sayang, tetap saja dia masih meleset dengan tembakan nya.


"Raffyn, kamu tak perlu iri dengan apa yang Darrel bisa. Di sisi lain, Darrel juga tak bisa melakukan apa yang kamu bisa. Jangan memaksakan sesuatu yang tak kamu bisa, atau kamu akan terluka," penjelasan panjang dari Dave.


Apakah itu bentuk perhatian? Raffyn tak tau. Sejak dulu dia selalu melampaui batasnya. Untuk belajar otodidak tentang IT dia harus berani, bahkan berkali-kali di teror pada hacker lain karena mencoba untuk masuk. Dia juga pandai dalam bela diri, untuk melindungi dirinya juga Emeline.


"Tuan Dave, haruskah saya belajar senjata juga?" Tanya Raffyn sedikit lelah dengan tangannya.


"Tidak, tapi kamu tau Raffyn untuk bertahan hidup kita memiliki cara yang sedikit berbeda dari orang biasanya. Jika kamu tak bisa menggunakan senjata, tapi akan cepat untuk tiada," jelas Dave tanpa ragu.


"Tak apa Raffyn, aku akan selalu menjagamu," kata Darrel menepuk pundak Raffyn.


"Heh-? Aku pikir itu tak perlu," lantas Raffyn mengambil belati yang ada di tangannya. Melemparkannya seketika, dan menancap di bidang tempat untuk melesatkan peluru.


Dave tersenyum puas, Raffyn memiliki caranya sendiri benar. Dia tak pandai dalam menggunakan pistol, maka dia menggunakan pisau.


"Jika kamu ingin menggunakan pisau, maka lemparannya berbeda dengan pistol. Jika pistol kamu harus berdiri tepat menghadap ke arah lawan, tapi saat kamu menggunakan pisau kamu berdiri menyamping," kata Dave sembari memeragakan apa yang dia jelaskan. "Selanjutnya, kamu lempar sesuai arah yang kamu mau, jangan terlalu tinggi atau terlalu rendah. Usahakan lemparan mu itu lurus tepat ke mana arahnya," lanjut Dave.


Pelatihan senjata memang seperti itu. Eslen bisa terfokus pada Darrel dengan pistolnya. Dan Dave fokus dengan Raffyn yang membawa pisau di tangannya.


"Apa kalian lelah? Darrel bagaimana dengan tanganmu?" Tanya Dave setelah pelatihan mereka.


"Tak baik, aku harus berolahraga untuk membiasakan nya lagi," jawab Darrel dengan memegangi pergelangan tangannya.


Saat pistol di tarik pelatuknya ada dua hal yang terjadi di sana. Peluru akan terbakar, dan mulai melesat jauh. Sedangkan tangan seperti pelontar, ibaratkan saja tangan seperti bawahan trampolin. Dia akan memiliki gaya yang berlawanan dengan arah peluru. Tapi untuk membuat peluru stabil, tangan tak boleh bergerak, dan kuat agar peluru tepat bergerak lurus bukan ke arah yang lainya.


"Perbanyak push up, sit up, juga latihan tangan. Kamu tak tau itu baru pistol kecil yang kamu pegang. Lain kali kamu akan memegangi yang lebih besar," jelas Dave.


"Baik Tuan Dave."


"Bagaimana dengan mu Raffyn?"


"Saya? Anda lihat saya tak pandai dalam senjata. Ataupun bela diri, saya tak cocok dengan hal seperti ini," keluh Raffyn.


Dave hanya diam, melihat beberapa belati yang masih ada di sana. Lantas dia mengambil salah satunya, dan melihat ke arah Eslen. "Dia sangat mirip dengan mu," kata Dave sembari tersenyum.


"Baik tuan, akan saya ajarkan lebih pada Tuan Raffyn," jawab Eslen seolah paham apa yang ingin di katakan oleh Dave.


Memang Eslen kurang bisa di bagian senjata, begitu juga dengan Raffyn. Mereka bisa di bagian IT, dimana untuk itu menjadi poros juga bayangan dari Dave. Raffyn juga akan menjadi bayangan dari Darrel. Bagus sekali, dia mendapatkan dua anak yang saling melengkapi. "Andaikan mereka satu orang, itu akan lebih baik," gumam Dave.


Sekarang waktunya makan siang. Darrel dan Raffyn di minta untuk membersihkan badan terlebih dahulu, lalu pergi ke meja makan. Lain hal dengan Dave, dia malah pergi ke taman. Terlihat Rara yang sudah tertidur, dengan Emeline juga yang terus mengusap rambutnya.


"Jadi, harus aku apakan Emeline nantinya. Darrel juga Raffyn seperti terikat dengan Emeline, lantas sekarang apa? Rara juga?" Gumam Dave.


"Dave!" Teriak seorang membuat Dave tersentak dari lamunannya.


Itu adalah Emeline, dengan berbisik mengisyaratkan dia untuk datang mendekat.


"Em? Ada apa? Rara sudah tidur? Dia akan melewatkan makan siangnya," tanya Dave beruntun datang ke arah Emeline. Tak lupa kecupan singkat Dave lakukan, ke dahi Emeline.


Setelah Dave duduk, dia memeluk pinggang Emeline. Lantas mengecup beberapa bagian di lehernya. Bahkan beberapa kali Dave mencoba untuk memberikan kissmark di sana.


"Ini masih siang, aku tak mau anak-anak melihatnya," ujar Emeline menahan apa yang tengah di lakukan Dave.


"Itu tergantung kamu Emeline, bisa menahan suara atau tidak," jawab Dave seolah tak menanggapi ucapan dari Emeline.


Beberapa kali Dave melakukannya. Menyerayangi bagian dalam dari baju Emeline. Sedangkan bibirnya masih terus menjamah bagian leher dan tengkuk Emeline.


"Emeline... Sejujurnya aku ingi-"


"Tuan Dave, Anda tak tau ini terlalu vulgar untuk berhubungan," selaan dari Darrel lantas membuat Dave dan Emeline langsung tersentak.


"Sialan! Kenapa kalian ada di sini?" Tanya Dave dengan nada kesal, apalagi saat aktifitasnya do ganggu oleh Darrel maupun Raffyn.


"Kami sudah menunggu Anda dan juga mama untuk makan siang. Sangat lama, Anda yang meminta kami untuk makan siang, kenapa Anda tak kunjung datang?" Tanya Raffyn menanggapi ucapan Dave


"Ahah~ sayang Rara tengah tidur sekarang, jadi kalian bisa makan duluan," tanggapan Emeline mencari alasan.


Raffyn dan Darrel tentu saja tak percaya. Melihat datar ke arah Dave juga Emeline dengan tatapan dingin.


"Jika mama ingin bermesraan, lebih baik melakukannya di kamar," jelas Raffyn beranjak pergi.


"Bagaimanapun juga kami masih anak-anak," lanjut Darrel menyusul Raffyn.


Rasa malu terlihat dari pipi Emeline. Pipinya merona merah, bahkan senyuman malu tak bisa dia sembunyikan.


"Dave, kamu pergi saja makan siang. Aku akan menidurkan Rara di kamar," jelas Emeline lantas menggendong Rara.


"Cepatlah ke bawah, aku akan menunggu mu di sana," jawaban dari Dave tak lupa dengan kecupan tepat bibir Emeline.


Saat itu Emeline langsung ke kamarnya Rara. Menidurkan nya di sana, sesekali menepuk punggungnya memastikan Rara benar-benar tertidur. Akan tetapi, ada hal yang membuat Emeline janggal. Seorang dengan blazer hitam panjang bahkan menutupi semua badan nya. Ingatan Emeline kembali, permulaan semua cerita buruknya ini.


"Theo? Bukankah Dave bilang jika Theo di luar negeri?" Gumam Emeline tak berani keluar balkon kamar Rara.


Theo di sana hanya diam. Entah kenapa para penjaga tak mengusirnya, ataupun membuat Theo pergi dari sana. Tanpa Emeline sadari, Theo melambaikan tangan padanya. Seringai senang kembali tercipta di bibir Theo. Dan lambaian tangan, tanda Theo sadar jika Emeline melihatnya sedari tadi.