
Beberapa hari kemudian Emeline hanya bisa diam. Perubahan badan yang sangat terlihat, meskipun belum seminggu dia di kurung oleh Theo. Rasanya aneh, saat orang yang dia sayang dan dia nantikan malah datang hanya untuk menyakiti.
"Saya tanya sekali lagi Emeline, apa yang kamu rencakan!" Teriak Theo dengan gebrakan tangannya pada meja di depan Emeline.
"Sudah aku bilang Theo, aku tak merencanakan apapun. Aku bertemu dengan Dave tanpa sengaja, lalu Rara datang ke apartemen ku lantas memanggil ku de-" belum sempat Emeline melanjutkan ucapannya, sebuah belati malah melayang tepat di sebelah wajah Emeline.
Pipi Emeline sedikit terluka, darah mengalir dari sana. Rasa perih, dan sedikit Geraman dari Emeline merasa muak dengan tingkah laku Theo.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan cerita seperti itu?" Tanya Theo dengan wajahnya yang marah dengan rahang yang mengeras.
"Jika kamu tak percaya, jangan tanya hal lain padaku Theo, karena itulah yang sebenarnya!" Kaya Emeline dengan wajah marahnya.
Emeline tak tau apa yang terjadi pada Theo. Dia tiba-tiba saja marah, membuat Emeline hanya bisa diam.
"Lupakan, bagaimana untuk membuat mu berbicara? Aku tak sangka kamu itu anak yang sangat keras kepala!" Kata Theo beranjak dari duduknya. "Raffyn, atau Darrel... Mana yang lebih berharga?" Lanjut Theo dengan menampilkan foto mereka berdua.
Mata Emeline seketika membuka sempurna, dia pikir Theo cuma akan mengincar dirinya. Beberapa hari ini dia tak tau keadaan Raffyn maupun Darrel. Meskipun Emeline tau jika kedua putranya itu istimewa, tapi dia tetap saja khawatir dengan apa yang terjadi pada mereka.
"Apa yang kamu inginkan! Kamu tak mungkin melakukan sesuatu pada anak-anak kan Theo?" Tanya Emeline dengan wajah kaku juga khawatirnya.
"Hahaha, laki-laki tak akan memukul perempuan kan? Tapi aku melakukannya. Untuk memukul anak-anak bukanlah hal yang sulit, apalagi untuk membunuh mereka," ujar Theo sembari tersenyum ke arah Emeline. Lantas Theo melihat foto Raffyn juga Darrel, wajah yang semula tertunduk senang kini malah menampilkan wajah serius.
"Salah satu cerdik dan pandai dalam bela diri. Yang satunya adalah otak dari rencana, dan juga hacking, kamu memiliki anak yang jenius. Mungkin aku bisa memanfaatkan mereka," lanjut Theo.
Emeline hanya bisa diam. Bibirnya seolah kaku dan tidak bisa berucap. Apakah jika Theo tau misalkan Raffyn itu putranya, Theo mungkin akan berubah.
"Theo, jangan lakukan apapun pada mereka! Aku... Mohon...." Titah Emeline pasrah.
"Aku tak akan melakukan apapun, aku janji. Untuk itu, apa bayaran agar yang seimbang untuk aku tak melakukannya?" Tanya Theo balik, dan duduk di depan Emeline seperti tadi.
"Theo Walcott, itu nama yang aku tau," ujar Emeline sesaat membuat Theo terkejut.
Tepat seperti dugaannya, Emeline tau sesuatu tentang masa lalu Theo. Dia tersenyum puas, apalagi saat Emeline mulai membuka pembicaraan.
"Apakah sesulit itu Emeline? Lihat dirimu, kamu cantik jadi seperti ini karena ulah Ku. Padahal kamu sendiri yang tak mau berbicara, jadilah penurut dan katakan semuanya," ujar Theo mengusap kepala Emeline dan menyampingkan rambut yang menutupi wajahnya.
"Theo Walcott itu yang aku tau, dia adalah anak angkat dari keluarga Kaveleri. Dia sudah menikah, dan memiliki seorang putra. Dia juga memiliki keponakan yang sangat dia jaga, hingga suatu saat tragedi menimpanya saat ingin menyelamatkan keponakannya. Benar keponakannya selamat, begitu juga dengan dengan putra dan istrinya. Semuanya berjalan sempurna, hingga dia kembali dengan wajah yang sama tapi sikap yang berbeda," jelas Emeline menatap Theo.
"Theo, aku tau kamu sudah melanjutkan hubungan mu. Begitu juga aku, biarkan aku pergi aku janji tak akan menggangu mu lagi," lanjut Emeline.
Tak ada jawaban dari Theo. Dia hanya diam, melihat ke arah Emeline. Napasnya yang tenang, tiba-tiba memburu seketika. "Bohong!" Teriak Theo sembari memegangi kepalanya.
Kepalanya pusing, sebuah potongan ingatan seketika ada dalam pikirannya. "Semua ini aneh, kamu sebenarnya siapa... Emeline?"
Di sisi lain Darrel yang terus meminta Raffyn untuk melakukan apa yang telah dia rencakan. Dia tau jika mereka tengah di awasi sekarang, membuat ide gila dari Darrel.
"Mungkin itu adalah bawahan dari pakan Theo?" Tanya Darrel melihat ke depan cafe.
Mereka tengah ada di cafe milik Emeline sekarang. Sudah lama mereka tak ke sini, hanya dengan dengan beberapa pelayan membuat cafe yang dulu hangat kini seolah sepi peminat.
"Itu bodoh Darrel, mungkin memang benar itu adalah bawahan dari papa. Tapi, dia di sini bukan untuk menjemput kita melainkan untuk menculik. Mungkin saja papa ingin tau sesuatu dari mama, makanya dia menculiknya," jelas Raffyn masih dengan keyboard yang dia ketik
Raffyn masih mencari tau apa yang sebenarnya ada di rumah Theo. Benar-benar penjagaan yang sangat ketat, bahkan untuk koneksi internet nya Raffyn merasa kesulitan untuk masuk ke dalam sistem nya. Sesekali Raffyn berdecak, saat dia malah di serang balik oleh sistem rumah Theo.
"Ya kamu benar, bagaimana dengan informasi rumahnya? Sudah menemukan ibu?" Tanya Darrel melihat ke arah layar laptop milik Raffyn.
Hanya gelengan perlahan dari Raffyn membuat Darrel paham. Sudah beberapa hari ini Raffyn terus mencoba untuk masuk, TPI peralatan yang dia gunakan tidak cukup. Perlu beberapa komputer dengan teknologi modern, mungkin Raffyn bisa melakukannya. Tapi untuk sekarang, hanya bermodalkan laptop dan satu komputer itu tak bisa menembus sistemnya bahkan untuk cctv rumah milik Theo.
"Bagaimana? Apa yang kalian dapat?" Tanya Dave tiba-tiba datang dengan Eslen juga Rara.
"Tak ada, sangat sulit untuk masuk ke sana. Tuan Dave, apa Anda bisa memberikan kami lebih dari ini?" Tanya Darrel melihat Dave yang tengah menggantikan Raffyn pada layar laptopnya.
Tak ada jawaban dari Dave, salah satu alisnya meninggi menandakan dia tengah berfikir. "Kamu sudah sampai tahap ini? Lalu apa yang kamu dapat?" Tanya Dave pada Raffyn.
"Tak ada, hanya serangan balik beberapa kali," jawab Raffyn muka marahnya.
Pasalnya Dave seolah mengejek Raffyn, dengan kemampuan yang belum apa-apa masih membuat Raffyn sombong. Apalagi rencana Darrel yang terlihat jenius, tapi tambah membuat Dave tertawa.
"Kalian tak sepintar yang aku bayangkan," titah Dave dan memberikan laptopnya pada Eslen.
"Terimakasih Tuan Dave, tapi itulah yang kami bisa. Bagaimana dengan Anda? Anda beberapa hari ini tak melakukan apapun!" Kata Darrel juta merasa kesal karena di sepelekan oleh Dave.
"Apa? Tak melakukan apapun?"