A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Perasaan Darrel



"Kenapa hanya diam? Bukankah kamu tadi bersikap sok pahlawan?" senyuman yang Welmia layangkan, saat melihat Emeline hanya diam.


"Picik," gerutu Emeline menatap Welmia penuh.


"Apa? Aku tak dengar itu. Ingat ini, jika aku membunuhmu itu bukan pertama kalinya bagiku," jelas Welmia dengan menyingkirkan tangan Emeline.


Beberapa langkah kemudian, terjadi banyak hal. Theo berusaha untuk menjaga Darrel agar dia tetap bersamanya, tapi di sisi lain Darrel justru tak ingin menambah keributan. "Cukup! Apakah itu tak cukup, ibu? Mari kita pergi saja... Aku mohon."


"Darrel! Aku tak akan membiarkanmu kembali ke nenek sihir itu!" teriak Raffyn menahan tangan Darrel.


"Tak masalah, aku ada rencana," kata Darrel dengan mengibaskan tangan Raffyn.


"Setidaknya kalian sadar posisi kalian," ungkap Welmia sebelum pergi dengan membawa Darrel.


Kaki Emeline seketika lemas, tak ada yang terjadi pikirannya benar-benar kacau. Ketakutan tentang Welmia kini muncul kembali. Rasanya hidupnya yang tenang, kini telah berubah dalam bayang-bayang Welmia. Akan tetapi, Emeline merasa iba dengan Darrel. Bagaimana tidak, seolah dia kembali meski dia tak mau karena Welmia.


"Emeline, maaf kamu tak apa?" tanya Theo saat Emeline masih duduk lemas.


"Tak masalah, pergi Theo Darrel membutuhkan mu," jawab Emeline dengan tangan yang masih gemetar.


"Aku tau," ujar Theo dengan mengecup dahi aline, setelah itu pergi menyusul Welmia.


Pikiran Emeline masih kacau, melihat pistol yang Welmia todongkan barusan. Dia tak berpikir jika disini banyak anak-anak, jika dia bisa bersikap seperti itu tentu saja Darrel tak aman jika dia terus bersama Welmia.


"Mama, bagaimana dengan Darrel?" tanya Raffyn dengan wajah khawatir.


Belum pernah dia melihat Raffyn gemetar ketakutan seperti ini. Rasanya Emeline ragu untuk tetap tinggal di sini bersama dengan Darrel maupun Theo.


"Sayang, ayo kita pergi dari sini," kata Emeline dengan memeluk Raffyn.


"A-apa yang mama maksud?! Mama mau meninggalkan Darrel?!"


"Tidak, tapi lebih baik dia dengan keluarga nya," titah Emeline berusaha untuk menjelaskan.


"Keluarga macam apa ma?! Mama gak liat? Tadi Darrel di seret loh mah!" teriak Raffyn dengan menunjuk ke arah luar, menampilkan bagaimana tadi Welmia membawa Darrel pergi.


Emeline sedikit mengerutkan kening, bukankah Darrel dan Raffyn baru saja bertemu tapi mereka sudah terlihat dekat. Perasaan cemas juga takut untuk Emeline. Saat menatap Raffyn, perlahan mengusap wajahnya.


"Mereka memiliki keluarga yang berbahaya, kita harus menjauhi Darrel sayang," jelas Emeline.


"Lalu bagaimana dengan Darrel? Aku berjanji akan membawa dia pergi dari nenek sihir itu," sela Raffyn kembali.


Hari mulai menjelang siang, Emeline memutuskan untuk menutup tokonya sementara karena kejadian tadi pagi. Perasaannya kacau, dia ingin cepat pergi tapi Raffyn kalau sebaliknya. Seharian dia di depan layar komputer, memainkan beberapa game serta menunggu balasan surel dari Darrel.


"Mereka semakin dekat, ini salahku. Harusnya aku tak pernah menerima Darrel di sini," gumam Emeline dengan secangkir teh di tangannya.


"Iya, itulah alasan kenapa paman Theo membawaku pergi. Jika aku tetap di sana, orang tua itu akan menjadikanku sebagai samsak emosinya," endah dari mana perkataan Darrel kembali menyeruak dalam pikiran Emeline.


'Dia juga ketakutan,' ujar Emeline dengan tangan yang menggenggam cangkir kuat.


Pikirannya tambah kacau, antara dia tetap tinggal atau pergi dari sini. Belum lagi dengan Welmia, dia tak ingin mencari masalah dengannya. Di sisi lain, Raffyn juga sangat peduli dengan Darrel.


Perlahan Emeline mulai melangkah kakinya. Di saat dia menuju kamar Raffyn, terlihat jelas dia masih di depan layar komputer nya.


"Raffyn, ingin makan siang sayang?" tanya Emeline untuk membujuknya turun.


"Apa maksudnya? Apakah Darrel sudah selesai?" ujar Emeline berjalan mendekati Raffyn.


Raffyn menunjuk pada layar komputer miliknya. Terlihat beberapa kalimat. Salah satu yang paling membuat Emeline terkejut saat melihatnya.


Ayah dan ibuku kembali bertengkar, mereka berteriak. Ayahku mulai menodongkan pistol pada ibuku, sedangkan ibu menodongkannya padaku. Aku muak di sini, aku tak ingin memberontak lagi. Aku pikir kami akan mati bersama saat itu.


Dengan perasaan kaku juga merinding, Emeline membaca surat dari Darrel. Beberapa pesan hanya sebuah keputusasaan seorang anak kecil.


Emeline menatap kembali Raffyn, pikirnya saat mereka hanya ingin pergi berdua. Bagaimanapun mereka adalah saudara. Raffyn yang dengan tatapan polosnya, terus meminta Emeline untuk membawa Darrel juga. Hanya Emeline tak menyetujuinya.


"Raffyn, ini terlalu berbahaya," jawab Emeline menghapus surel dari Darrel tanpa membalasnya.


"Bagaimana jika Darrel benar-benar mengakhiri hidupnya?" tanya Raffyn dengan tatapan memelas.


"Itu adalah pilihannya Raffyn! Sekarang berberes da-" ucapan Emeline terhenti saat melihat Darrel dengan Theo tepat ada di luar kamar Raffyn.


Darrel begitu terkejut, saat mendengar Emeline mengatakan itu. Di sisi lain, Emeline juga sama merasa tak enak saat mengatakan hal seburuk itu.


"Da-"


"Kamu pembohong!" teriak Darrel saat Raffyn akan menghampiri nya.


"Apa yang kamu bilang?" tanya Raffyn gugup.


"Dia! Dia juga sama tak menginginkan ku! Benar kan? Kamu juga menganggap ku hanya beban dan pembawa malapetaka saja!" lanjut Darrel langsung melemparkan koper kecil miliknya.


Lantas dia bergegas pergi dari kamar itu, tanpa mengatakan apapun lagi. "Harusnya kamu lihat dulu, apakah anak yang kamu bicarakan ada di sini atau tidak," titah Theo menyusul Darrel.


Emeline hanya bisa menutup mulutnya, merasa dia juga sama jahatnya dengan Welmia. Saat dia mengingat surel yang di berikan oleh Darrel, dia pasti sangat mereka tertekan sekarang.


"Apa yang harus aku lakukan," gumam Emeline saat Darrel ternyata tak pergi dari tepatnya.


Dia hanya ada di bawah, saat Theo mencoba untuk menjelaskan situasi nya. Tangisan tak lepas dari Darrel, dengan tatapan marah juga teriakan.


'Benar, aku tak akan menyalahkan psikologi nya yang terganggu. Pertumbuhannya dalam keluarga seperti Welmia,' titah batin Emeline


Perlahan Emeline merasakan tangan seseorang menggenggamnya. Dengan jemari manis milik Raffyn, tersebut simpul pada Emeline. "Mama selalu bilang, jika mama ada salah mama harus meminta maaf bukan? Apakah mama takut sekarang?"


Ucapan dari Raffyn itu, seolah membuat Emeline malu. Dia yang mengajarkan itu semua, bahkan dirinya sendiri tak bisa menerapkannya.


"Jika mama takut, aku akan menemani mama. Aku kenal Darrel, dia juga sebenarnya sangat menyayangi mama. Aku yakin, dia hanya perlu pelukan sekarang," jelas Raffyn dengan tepukan tangan di telapak Emeline tanda menyemangati.


"Mama tak apa," bisik Emeline.


Perlahan dia turun, Darrel saat melihat nya langsung memalingkan wajahnya. Terlihat kesal, tapi juga raut sedih yang tak bisa Darrel sembunyikan.


"Darrel?" panggil Emeline mencoba untuk meminta maaf.


"Aku tak mengenalmu! Pergilah!" teriak Darrel.


"Baik jika kamu ingin aku pergi, tak masalah. Aku hanya ingin meminta maaf," jelas Emeline dengan memberikan sebatang bunga padanya.


"Jangan meminta maaf, jika kamu tak melakukan kesalahan. Itu yang kamu ajarkan bukan?"