A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Apakah Dia Calon Ayah?



"Yosh yosh, tak masalah misalnya kamu mendapat kan laki-laki kaya dan mapan, maka kamu akan tau mereka adalah malaikat mu," ujar Diana dengan mengusap pelan kepala Raffyn.


Malam harinya mereka makan malam seperti biasa. Dengan perasaan masih kesal, Emeline menatap Raffyn dengan wajah garangnya.


"Ibu? Tak apa?" tanya Darrel merasa tak enak dengan tatapan Emeline.


"Bagaimana tak apa, apa kalian lakukan?" tanya Emeline dengan menunjukkan pamflet buatan Raffyn.


Raffyn dan Darrel sama-sama melihat satu sama lain. Mereka mulai menghela napas perlahan, lalu mengusap kepalanya pelan. "Ibu masih mengharapkan paman Theo untuk datang?"


Pertanyaan itu keluar dari bibir kecil Darrel, dengan wajah polosnya tapi pertanyaan yang serius terlihat dari wajahnya. Emeline hanya bisa terdiam, saat Darrel mengatakan hal seperti itu.


"Ya, Theo itu ayah kalian dan itu benar," jelas Emeline duduk di antara mereka.


"Sampai kapan mama mau menunggu papa?" tanya Raffyn menyela.


Lagi-lagi Emeline kembali terdiam, saat perkataan itu keluar dari anak-anak nya. "Ibu harus sadar sudah berapa tahun berlalu tapi paman Theo masih tak datang," kata Darrel.


"Jika papa masih hidup sekarang, mungkin dia juga sudah punya pasangan," jawab Raffyn kembali.


Semuanya tertunduk, saat Raffyn mengatakan hal itu. Tidak di pungkiri, jika Theo bisa memiliki pasangan lain. Tapi ucapan Theo bersesir dalam pikiran Emeline, dimana dia meminta Emeline untuk percaya kepadanya sekali lagi.


"Kalian mengapa membicarakan hal seperti ini? Theo itu ayah kalian, dan itu cukup," jawab Emeline dengan tatapan sendu.


"Ma-maafkan Raffyn ma! Hanya saja.... "


"Kami juga ingin ibu terus melihat ke depan, tak terbenggelu oleh masa lalu dengan paman Theo sekarang," sela Darrel menanggapi Raffyn.


Benar apa yang di katakan oleh Raffyn juga Darrel, tapi Emeline tak bisa membohongi dirinya sendiri. Bayang-bayang akan Theo masih menyelimuti dirinya, bahkan untuk sekarang Emeline tak bisa berpikir apa-apa.


"Sayang, ibu keluar sebentar ada sesuatu yang harus aku ibu beli," ujar Emeline setelah lama terdiam.


"Mama, apakah mama baik-baik saja? Mama tak berpikir kami berkata-kata kasar kan?" tanya Raffyn turut beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak sayang, mama hanya keluar untuk sesuatu hal," jawab Emeline dengan mengusap kepala Raffyn.


"Biarkan kami ikut, atau kami saja yang keluar!" ujar Darrel juga mengikuti Emeline.


"Tak usah... Sungguh percaya pada ibu," ucapan penutup dari Emeline dengan melanjutkan langkah kakinya.


Saat berjalan-jalan Emeline berpikir tentang apa yang Darrel dan Raffyn katakan. Memang mereka lebih kecil dari Emeline, tapi tak bisa di pungkiri jika mereka lebih bisa berpikir kedepan.


Dalam notifikasi ponsel miliknya, terlihat jika beberapa saldo masuk. Entah darimana asalnya. Hal ini yang belum Raffyn dan Darrel ketahui. Ingin Emeline bilang itu adalah dari Theo, tapi kenapa dia bahkan tak bis mengirim pesan?


Beberapa kali Emeline meminta pihak bank untuk melacak alamat bang yang mengirim sejumlah uang tersebut, tapi sayang mereka tak bisa menemukannya.


"Bagaimana aku bilang ke mereka, jika harapan Theo itu masih ada," gumam Emeline.


Dalam batin bergejolak, melihat masa depan jika Darrel dan Raffyn tambah dewasa. Jika di tanya ayah mereka di mana, Emeline juga tak bisa bilang jika dia juga tak tau Theo dimana. Alasan biasa seperti ayah mereka sudah meninggal, itulah yang menjadi alasan kuat bagi Emeline.


...BRAK...


Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam gang sepi yang di lewati Emeline.


Perasaan terkejut, takut, tapi juga penasaran membuat Emeline ragu untuk melihat. Sesaat tak berselang lama, Emeline melihat kaki yang muncul dari balik tempat sampah yang menutupi gang tersebut.


"Astaga!" teriak Emeline terkejut.


Lantas dia langsung melihat apa yang ada di sama. Terlihat laki-laki dengan beberapa luka, bahkan darah yang sudah menutupi baju miliknya. Nafasnya mulai pelan, bahkan dia tak memiliki tenaga. Dengan menyenderkan badannya di sebelah tong sampah, di mana dia menunduk dengan rasa pasrah.


"PERGILAH!"


Belum sempat Emeline menyelesaikan ucapannya, dia sudah di tolak oleh laki-laki itu. Dia terlihat marah dan tak suka pada Emeline, bahkan tatapannya sangat tajam.


"Maaf, Anda terluka. Apartemen saya dekat sini, jika boleh saya ingin membawa Anda ke sana. Di sana Anda bisa berbaring dan istirahat," jelas Emeline duduk diam dan menjaga jarak.


Laki-laki itu tak menjawab, hanya raut kesakitan dengan lengan yang dia genggam salah satunya untuk memperlambat pendarahan.


"Astaga! Kemarilah!" teriak Emeline dengan mengeluarkan sapu tangan miliknya.


Untungnya sapu tangan itu bisa menutupi luka di bagian perutnya, belum di bagian yang lain. "Ini terlihat parah, aku tak tau apa yang terjadi padamu jika kamu mau akan aku bawa ke apartemen ku, tapi jika tidak aku akan meninggalkan mu disini," titah Emeline saat membalut lukanya dengan sapu tangan miliknya.


Tak ada jawaban dari laki-laki itu, sesaat Emeline menghela napas dan mulai beranjak. "Baiklah, aku harap kamu selamat," jawab Emeline dengan memalingkan wajahnya.


"Tu- ACK! Tunggu... Bawa aku saat tak ada orang," jawabnya dengan nada terbata karena luka yang terbuka.


Lagi-lagi helaan napas Emeline lakukan. Dia juga tak ingin menyalahkan laki-laki tersebut. Dia pasti habis menjalani sesuatu yang berat, membuat dia takut saat akan ketahuan nantinya.


"Haha, ini sakit astaga. Aku gak mengira akan sesakit ini," gumam laki-laki itu tiba-tiba.


"Kamu terluka, pasti sakit," jawab Emeline dengan Melihat keadaan.


"Kenapa kamu membantuku? Bukankah kita tak saling kenal?" tanya dia kembali.


"Karena suami ku mungkin tengah sekarat saat ini," jawab Emeline saat mengingat Theo.


Tak bisa di pungkiri, jika Emeline masih mengingat Theo. Bagaimana tangannya gemetar, juga melihat keadaan laki-laki itu langsung mengingatkan Emeline pada Theo.


'Bisa saja Theo seperti itu saat dia menjalankan rencananya,' gumam batin Emeline.


Beberapa saat Emeline melihat keadaan, dia langsung membawa Dave bersamanya. Dave Camelion itulah nama laki-laki yang Emeline selamatkan.


"Terimakasih," ujar Dave saat melihat Emeline tengah membasuh lukanya.


"Mama dia siapa! Kenapa membawa laki-laki kemari?" tanya pura-pura polos dari Raffyn.


"Apakah dia calon ayah?" sela Darrel dengan membawa wadah berisi air hangat juga handuk.


Emeline merasa aneh dengan sikap Darrel juga Raffyn yang seolah berbicara seperti umur mereka. Seperti layaknya anak-anak polos pada umumnya. 'Oh? Mereka juga bisa drama?' batin Emeline.


Beberapa saat Emeline membasuh lukanya, juga membuat sup untuk Dave.


"Tuan Dave, ada seseorang yang ingin Anda telepon?" tanya Emeline dengan menunjukkan ponsel miliknya.


Beberapa saat kemudian terlihat beberapa orang yang menjemput Dave. Dia benar-benar terlihat seperti orang kaya. Dengan beberapa penjaga yang memapahnya.


Awalnya Emeline akan di beri kompensasi, tapi dia tak menginginkannya.


Keesokan harinya, apartemen Emeline sudah penuh dengan suara bel yang menggema. Pagi-pagi, bahkan Darrel dan Raffyn belum bangun sekarang.


"Maaf, tunggu sebentar," kata Emeline masih merapikan rambutnya.


"Maaf siapa ya?"


"MAMA!"