A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Keributan Pagi Hari



Tadi malam benar-benar malam yang panjang. Aku bahkan tak merasakan sakit ini, padahal sering melakukannya dengan Theo. Aku menatap Theo dengan datar di meja makan.


"Kamu tak kerja, kesiangan?" tanyaku pada Theo yang tengah memulai sarapan yang sangat terlambat.


Karena tadi malam Theo melakukannya dengan lama, bahkan sampai dinihari membuat di telat bangun di pagi hari. Bahkan saat pagi, lagi-lagi dia meminta bermain denganku. Ha, aku kasian dengan Dergaz yang pastinya akan menanggung semua akibat yang ada di kantor karena Theo izin mendadak.


"Aku tak perlu menjelaskannya kan Emelin?" tanya Theo balik.


"Aku kasian dengan Dergaz, pastinya nanti dia akan datang dan mulai marah-marah" kataku dengan sedikit senyum simpul.


"Bisakah kamu tak memikirkan orang lain Emelin?" tanya Theo sesaat setelah aku mengatakan hal seperti itu.


"Maaf.... " ucapku panjang.


Mengingat kejadian di mana aku memikirkan laki-laki yang ada di sebuah taman bermain, membuatku sedikit takut jika Theo melakukan hal yang sama jika aku memikirkan Dergaz juga.


Tak ada jawaban dari Theo, hanya sebuah kecupan singkat yang melayang di dahiku.


"Tak apa, seperti itu saja. Sepertinya aku ingin mempunyai seorang putri yang manis seperti kamu juga" kata Theo dengan senyuman melayang dari bibirnya.


Setalah itu aku aku merasakan pipiku yang memerah. Merah padam, bahkan aku tak bisa menahan panasnya. Apalagi mengingat apa yang terjadi, membuatku sedikit mengusap perutku sendiri.


"Theo.... Tadi malam... Bukan itu yang aku maksud" kataku ragu mulai membuka pembicaraan.


"Aku tau... Kamu ingin kita di akui secara hukum benar? Ingin semua orang tau, bahkan jika hanya di daftarkan tanpa adanya pesta kamu tak akan masalah. Tapi Emelin, aku bukanlah orang yang bisa bebas mengunggah privasi, termasuk orang-orang yang aku sayangi. Aku takut nanti mereka akan mengincarmu dan menyakiti kamu, maaf tapi seperti inilah duniaku. Aku harap kita saling percaya dan mengakui satu sama lain, itu cukup untuk membuatmu tetap di sisiku" jelas Theo panjang dengan tatapan lurus ke bawah.


Entah apa yang harus aku lakukan, saat mendengar ungkapan Theo aku sedikit merasa iba. Dunia apa yang Theo bicarakan, hingga kita bahkan menyembunyikan data orang yang kita sayang.


"Apapun yang aku lakukan, aku menyayangi. Setidaknya, aku bisa memberikan keturunan. Saat aku tak bisa menjagamu lagi, dan kamu pergi dia akan membawamu kembali" ucap Theo sambil mengusap perutku yang masih rata.


Pipiku memerah seketika, teringat saat Theo berbicara seperti itu.


"Apakah kamu tau Theo, membuat sebuah keluarga bukanlah hal yang semudah kelihatannya" kataku dengan sedikit merunduk, dan menyingkirkan tangan Theo.


"Ya, siapa bilang membuat keluarga adalah hal yang mudah. Setidaknya kita bersama, itu lebih baik daripada sendirian dalam menghadapi semuanya"


...–––––SKIP–––––...


Hampir delapan bulan telah berlalu. Tak banyak yang terjadi, bahkan perubahan sikap dari Theo. Theo yang dulu selalu memaksa dalam berhubungan, kini tak melakukannya jika aku tak menyetujui nya.


Setiap bulan dia juga menemaniku untuk pemeriksaan kandungan. Rasanya lega saat aku bisa keluar dan sedikit jalan-jalan. Lebih baik daripada harus duduk dan berdiam.


Awal-awal yang sulit saat trimester awal. Aku lebih suka mengajak dia berbicara, daripada dengan Theo. Rasanya menyenangkan saat dia mulai bergerak di trimester kedua, hal-hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya membuat sensasi yang berbeda.


"Apa ada sesuatu? Beberapa hari ini kamu lebih suka merenung dan tertawa sendiri" ucap Theo memelukku dari belakang.


"Kapan kamu kembali?" tanyaku penasaran.


"Baru saja, aku tanya bi Teresa katanya kamu seperti biasa sedang di kamar. Apakah kamu berbicara dengan dia kembali?" tanya Theo dengan mengusap perutku.


"Ya... Dia aktif sekali, aku pikir bayi ini akan terlahir laki-laki" kataku ikut mengusap perutku.


"Hmmm.... Lebih baik perempuan, aku ingin di manis seperti kamu" ucap Theo dengan manja menempatkan kepalanya di leherku.


"Lalu bagaimana jika dia laki-laki?! Kamu tak ingin menerimanya seperti itu?" tanyaku dengan nada meninggi.


"Bukan! Tentu saja bukan itu maksud ku... Kenapa kamu sangat sensitif sekali. Tentu saja laki-laki perempuan aku tak mempermasalahkannya, tapi kan harapanku adalah perempuan"


"Bagaimana jika terlahir laki-laki?"


Theo sama sekali tak berubah, sikapnya manis seperti biasanya. Bahkan sudah lama di tidak marah, mungkin lelah atau juga dia lebih menahan emosinya. Mengingat aku tengah mengandung, tentu saja perilaku kasar akan mempengaruhi bayinya.


"Kamu tak takut? cemas?" tanya Theo saat malam, berbicara sembari menunggu kantuk datang.


"Cemas untuk apa?" tanyaku tak paham dengan ucapan Theo.


"Tidak, tapi sebentar lagi kamu harus bersiap karena bisa kamu merasakan mulas kapan saja. Bagaimana jika kamu merasakan itu saat aku ada urusan di luar kota?" tanya Theo memeluk badanku perlahan.


"Tak apa, ada bi Teresa" jawabku dengan santai.


"Bukan itu maksud ku, yang aku mau aku ada saat kamu akan melahirkan nanti" titah Theo.


"Tak masalah, yang penting nanti kamu cepat pulang jika kamu ada kerjaan" kata ku dengan senyuman, tak lupa sebuah kecupan singkat di bibir Theo.


Theo termenung seketika, melihatku dengan tatapan terkejut. Sedangkan aku masih dengan kekehan pelan, perlahan-lahan memiringkan badan mulai terlelap.


"Ini tak adil hanya seperti itu?" tanya Theo sedikit menggerakan badanku


"Hanya seperti apa?" tanyaku tak paham kembali menatap Theo.


"Seperti itu! Kecupan, aku ingin lebih dari itu" jelas Theo dengan pipinya yang memerah setelah apa yang dia ucapkan.


Aku menatap Theo juga ragu. Menutupi mulutku, dan wajahku yang memerah karena itu.


"Lakukan saja sendiri" gumamku perlahan-lahan.


"Apa tak dengar Emelin"


"Tak ada ulangan, jika tak dengar ya sudah tak apa"


"Licik... Baiklah, aku akan melakukannya.... " kata Theo menahan wajahku dan mulai melakukan ciumannya. Pagutan yang dalam, membuatku sedikit menahan kepala Theo.


Pagi harinya seperti biasa, aku terbangun saat Theo sudah tak ada di ranjang. Sedikit mengucek mataku, lalu membasuhnya kemudian mulai turun ke bawah.


"Apa kalian sudah gila! Aku tak akan menyerahkannya!" teriak seseorang yang aku paham betul suaranya.


"Theo?" tanyaku dengan nada pelan, saat melihat Theo yang tengah di ruang tamu dengan dua orang laki-laki dan perempuan yang mungkin adalah seorang pasangan.


"Kamu pikir kamu siapa! Kamu bahkan tak berhak mendapatkan marga!" teriak seorang laki-laki yang duduk di depan Theo.


"Papa sudah memutuskannya, kalian bertiga ada di luar negri, dan aku yang mengurus cabang di sini! Bahkan kak Brian yang mengurus pusatnya! Mintalah bagian ke dia!" teriak Theo kembali.


"Dia terlalu naif bagi kami. Bahkan jika kami meminta bagianmu, dia tak akan setuju. Kamu tau, aku telah melahirkan seorang bayi dia juga butuh saham dalam perusahaan kamu ini" ucap perempuan di sebelah laki-laki tadi.


Mereka terlihat sombong, dan memiliki masalah dengan Theo tapi aku tak tau siapa. Wajah mereka benar-benar asing bagiku.


"Jika ingin saham di untuk anakmu, maka ambillah itu dari bagianmu bodoh!" teriak Theo kembali.


"Nyonya, apa kamu lakukan?" sergah bi Teresa saat aku akan menghampiri Theo.


"Bi ada masalah apa? Dan kenapa ini, bahkan ini masih pa-"


"Oy!"


Ucapanku terhenti, saat ada panggilan dari perempuan tadi.


"Kamu... Istrinya si cecunguk ini? Ha, pantas. Oh? Sedang hamil ya? Ck! Memang cocok wanita murahan dengan laki-laki yang hanya bisa menumpan"