
Setelah mimpi aneh itu Emelin langsung terbangun. Di ingatnya dalam sebuah kamar yang masih sama di rumah bi Teresa. Dengan nafas yang terenggal, Emelin melihat sekitar. Terlihat beby Raffyn yang masih tertidur dengan pulas. Suasana sepi yang seperti biasa, hanya mimpi biasa yang di rasakan oleh Emelin.
"Hanya mimpi ya... " ucap Emelin dengan sedikit mengusap kepalanya yang sedikit pening.
Memang dia belum bertemu dengan Theo, ataupun hanya mengirim pesan. Di bukanya ponsel miliknya, tapi tetap saja hasilnya nihil.
"Apa yang aku harapkan?" tanya Emelin pada dirinya sendiri dengan tersenyum kecut.
Beberapa saat kemudian Emelin mulai meregangkan badannya, dan bersiap untuk cuci muka nya dan mulai menggosok giginya.
Awalnya semuanya baik-baik saja, Emelin tak merasakan ada yang aneh. Hanya saja, Emelin tiba-tiba merasakan ada yang janggal saat melihat tanda merah di dadanya. Hampir tepat di bawah leher, bukan hanya satu tapi ada beberapa.
'Sial... Itu tak mungkin Theo kan?' tanya Emelin batin langsung pergi dan bergegas ke bawah.
Memang tandanya tak terlalu berasa di luar. Bahkan tak terlihat saat dia memakai baju dengan benar. Benar-benar tertutup, bahkan Emelin tak akan menyadarkan jika dia tak membuka bajunya.
Emelin bergegas ke bawah, berharap tadi malam Theo menghampirinya.
"Emelin? Selamat pagi" kata seseorang dengan suara laki-laki yang dia kenal, tapi tak pernah Emelin harapkan.
"Dergaz?" tanya Emelin dengan sedikit terkejut juga bingung kenapa Dergaz ada di rumah bi Teresa pagi-pagi buta.
"Emelin sayang.... Kamu buru-buru ke bawah butuh sesuatu?" tanya bi Teresa yang tengah memasak sarapan.
"Ah... Maaf, aku baru saja bangun dan sepertinya ingin minum" kata Emelin mencari alasan.
"Dergaz? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Emelin kebingungan dengan kehadiran Dergaz.
Jika Dergaz datang siang hari mungkin akan wajar, tapi Dergaz datang pagi hari bahkan sebelum bi Teresa membuat sarapan.
"Ya... Theo tau aku yang membawamu pergi ke rumah bi Teresa, jadi... " ucapan Dergaz menggantungkan ucapannya dengan menunjuk bibir Dergaz yang sedikit terluka.
"Ah-! Tak apa?" tanya Emelin langsung mengusap bibir Dergaz.
Emelin sedikit merasa tak enak, saat Dergaz juga harus terluka karena dirinya.
"Maaf, andaikan aku tak memintamu untuk membawaku pergi kamu tak akan di pukul seperti ini" ucap Emelin dengan nada perlahan, dan wajah yang dia palingkan.
"Tak masalah, kamu sudah lihat berapa kali aku menangani Theo. Lagipula ini hal yang biasa bagiku" kata Dergaz mengusap kepalaku, dan menepuk-nepuk nya perlahan.
Saat itu aku justru berpikir buruk. Bagaimana jika tadi malam yang datang ke kamarku itu Dergaz bukan Theo. Pipi Emelin langsung memerah, saat mengingat apa yang terjadi tadi malam. Apalagi dengan tanda yang membuat pipi Emelin semakin memanas.
"Dergaz? Kapan kamu kemari?" tanya Emelin penasaran.
"Tadi malam, setelah Theo memberikanku bogem mentah" ucap Dergaz santai.
"Iyakah? Cukup malam? Kamu... Sendirian?" tanya Emelin lebih mengorek informasi.
"Iya, karena kami cekcok juga sedikit malam. Tentu saja sendirian, kamu pikir aku akan membawa Theo bersamaku juga setelah dia memukulku?" tanya Dergaz balik, membuat Emelin sedikit kikuk.
Emelin hanya terdiam saat Dergaz mengatakan hal itu. Ingin Emelin mengatakan pada dirinya sendiri, jika itu semuanya adalah mimpi. Tapi bekas tanda merah di badannya, membuat dia tak ingin menghilangkan fakta itu.
"Tidak... Hanya saja tadi ma-"
"Sudah... Sudah, jangan di bahas lagi. Ini makanannya sudah siap" kaya bi Teresa menyela kemudian menaruh sarapan di meja.
Sebuah roti dengan keju sebagai lapisan luar yang menyelimuti, serta isi daging dan telor yang membuat terlihat semuanya lebih lezat.
"Terlihat lezat bi Teresa.... " kata Emelin dengan tatapan antusias nya.
"Sungguh? Bukankah masakan saya selalu lezat nyonya Emelin?" tanya bi Teresa balik dengan nada gurauan.
"Hem! Lezat, memang lezat" kata Emelin makan dengan lahap.
Tapi di sisi lain, terdengar suara bayi dari kamar Emelin. Membuatnya langsung berdiri, dan bersiap untuk pergi ke kamar.
"Emelin!" tahan Dergaz memegangi tangan Emelin.
"Kamu saran dulu, aku yang jaga baby Raffyn. Aku akan bawa ke bawah, tak masalah aku bisa melakukan, jadi makanlah dengan tenang dan perlahan. Kamu tadi malem jaga baby Raffyn sendirian kan? Jangan sampai kelelahan apalagi sakit" kata Dergaz menyuruh Emelin duduk, sedangkan dia bergegas naik ke atas.
Rasanya ada yang aneh dari Dergaz. Dari dulu dia selalu membantu Emelin. Saat sarapan, menjelaskan alasan kenapa Emelin ada di sini, bahkan saat Theo beberapa kali hampir membunuhnya Dergaz membantu menahan Dergaz bahkan membuatnya terluka.
"Apa ada sesuatu sayang?" tanya bi Teresa saat melihat Emelin yang menekuk wajahnya.
"Tidak... Hanya saja aku berpikir sudah banyak merepotkan Dergaz bi Teresa. Dia beberapa kali terluka karena aku, aku merasa tak enak dengan itu. Eh-! Bi Teresa juta kemarin di tampar oleh Theo, apakah itu sudah membaik?"
Pertanyaan Emelin dengan menatap lalu mengusap pipi bi Teresa.
"Tak apa nyonya, lagipula itu sudah beberapa hari lalu. Tak sakit, hanya sedikit bekas juga akan sembuh dalam beberapa hari" jelas bi Teresa mengusap tangan Emelin yang ada di pipi nya.
"Apakah aku harus pergi saja? Jauh dari kalian, aku tak ingin kalian terluka" kata Emelin kembali, dengan lagi-lagi mata merah yang tak bisa dia sembunyikan.
"Tidak! Lebih baik anda di sini. Bagaimanapun Theo tak akan pernah menyakitimu jika kamu ada di sin, berbeda jika kamu pergi di luar sana.. Justru bi Teresa takut kamu dengan baby Raffyn kenapa-kenapa" kata bi Teresa dengan mengusap kepala Emelin.
Lama sekali Emelin tak merasakannya, usapan lembut dari seorang ibu. sudah satu tahun lebih mungkin Emelin jauh dari keluarga tanpa kabar. Apalagi dengan sekarang Theo yang sudah menemukan sosok yang dulu dia lihat dalam diri Emelin. Dia tak ada tempat kembali, bahkan tempat ini pun tak tau Emelin ada di mana.
...–––––SKIP–––––...
Malam tadi semuanya berjalan dengan lancar. Seseorang mulai masuk, melihat wanita yang tertidur dengan wajah pulasnya. Di sampingnya terlihat seorang bayi yang juga tengah tertidur dengan lelapnya.
"Maafkan papa... " ucap laki-laki itu sambil mencium pipi bayi mungil itu.
Tak berselang lama, laki-laki itu mulai beranjak ke wanita yang tengah memeluk bayinya. Pelukan kerinduan yang dia layangkan untuk istrinya sekarang.
"Aku pastikan, Dara... Dia akan membayarnya" ucap laki-laki tersebut dengan terus menciumi tengkuk Emelin. Ciuman yang dalam, bahkan sesekali dia menggigitnya perlahan. Saat itu dia merasakan Emelin mulai menggerakan badannya.
"Theo?" panggil Emelin membuat laki-laki itu mulai membulatkan mata.
"Maaf Emelin, kamu hanya perlu tertidur dengan tenang sekarang" kata laki-laki itu merasa terkejut juga cemas, membuat Emelin meminum obat tidur yang sudah dia sediakan sebelumnya.