
Antara percaya atau tidak, dengan dua gelas susu yang tengah Emeline buat. Menatap ke lantas atas, dimana ada Raffyn juga Darrel yang tengah berbincang.
"Jika tak keberatan, aku titip Darrel sebentar. Dia memaksa ku untuk mengantarkan nya kemari, dan aku masih ada urusan. Maaf, tapi bisakah dia menginap sementara di sini hanya malam ini?" ucapkan dari Theo saat menitipkan Darrel padanya.
Helaan nafas dari Emelin, perlahan naik ke lantas atas. Terdengar hiruk dan tawa dari anak-anak. "Memang tempat ini jadi lebih ramai dan hangat, tapi menitipkan nya seperti itu dia sama sekali tak bertanggungjawab sekali," gerutu Emeline.
Saat tiba di pintu kamar Raffyn, kaki Emeline tiba-tiba terdiam. Mendengar perbincangan dari Darrel juga Raffyn yang membuat mata Emeline membulat sempurna.
"Jadi ayah dan ibumu bertengkar lagi?" tanya Raffyn pada Darrel dengan santainya.
"Iya, itulah alasan kenapa paman Theo membawaku pergi. Jika aku tetap di sana, orang tua itu akan menjadikanku sebagai samsak emosinya," jelas Darrel menjawab pertanyaan Raffyn.
"Baguslah aku memberikan kamu alamat, misal ayah dan ibumu bertengkar lagi, kamu bisa kesini. Aku jamin, kamu akan aman."
"Terimakasih, aku beruntung ada paman Theo. Jika tidak aku sudah meninggal dari lama, lihat? Banyak lebam di kaki ku juga karena ulah mereka."
Emeline pikir Darrel adalah anak yang normal, anak yang biasa seperti pada umumnya. Namun, Emeline salah besar. Alasan kenapa Darrel dan Raffyn bisa saling mengerti satu dan yang lain, karena mereka miliki pemikiran yang sama.
'Astaga, percakapan macam apa itu?' batin Emeline menguping di balik pintu.
Saat mengintip ke dalam, terlihat Darrel tengah menunjukkan beberapa bagian tubuhnya. Biru tanda memar, membuat Emeline sadar apa yang Darrel ucapkan adalah kebenaran.
Emeline ingat awal dia bertemu dengan Darrel. Dia nampak dingin, juga angkuh. Bukan karena sifat dari Welmia yang menurun pada Darrel, melainkan memang sejak kecil Darrel sudah menanggung banyak penderitaan.
'Apa yang terjadi, anak seperti Darrel harusnya bermain.' pertanyaan dari Emeline dalam kemelut pikirannya sendiri.
"Mama? Apa yang mama lakukan di sini?" ucapan dari Raffyn sontak membuat pikiran Emeline buyar. Dengan sedikit terkejut, bahkan nampan yang Emeline bawa hampir saja jatuh.
"Tante, tante menguping pembicaraan kami?" tanya Darrel. Rasanya Emeline seperti di tampar, biasanya orang tua yang mengucapkan seperti itu kepada anak-anak. Namun, sekarang justru seperti berbalik.
"Ti-tidak sayang, tante juga baru datang, lihat apa yang tante bawa," elakan dari Emeline dengan menunjukkan dua gelas susu dan beberapa cemilan di nampan yang dia bawa.
"Darrel jangan berbicara seperti itu, mama bilang menguping itu tak baik, mana mungkin mamaku melakukannya," celetuk Raffyn dengan polosnya.
'Mama kamu sedang melakukannya Raffyn,' batin Emeline mempertahankan senyuman terpaksa.
"Masalahnya mama kamu ada di depan pintu, dan berapa lama dia berdiri di sini bahkan kepulan asap dari susu panas sudah tak terlihat," jawab Darrel spontan, menunjuk ke susu yang Emeline bawa.
Emeline hanya bisa diam di sana, melihat Raffyn dan Darrel benar-benar seperti anak kembar. Pikiran mereka dewasa, dengan jalan hidup yang sama-sama keras untuk keduanya.
"Sudah, ini sudah malam kenapa kalian belum tertidur?" tanya Emeline berusaha untuk menggangganti topik.
"Mama bilang tak boleh tidur sebelum minum susu dan menyikat gigi, jadi aku menunggu mama," kata Raffyn dengan melihat ke arah Darrel.
"Lagipula Raffyn bilang mamanya suka bercita, aku membawa buku mungkin tante mau membacakannya," lanjut Darrel menunjukkan buku tebal dengan cover berwarna hijau tua.
'Buku macam apa yang Darrel bawa,' ujar batin Emeline.
"Ya baiklah akan aku ceritakan, sebelumnya bereskan mainan kalian, lalu minum susunya."
Darrel dan Raffyn lantas menuruti apa yang Emeline ucapkan. Beberapa perbincangan mereka seperti anak pada umumnya, dan beberapa hal lagi bahkan membuat Emeline hanya bisa mengusap pelipisnya perlahan.
Setelah semuanya selesai, mereka bersiap untuk tidur. Tak lupa, seperti biasa Emeline mengingatkan Raffyn untuk menyikat giginya.
"Aku tak berniat untuk menginap, jadi aku tak membawa baju tidur ataupun sikat gigi," kata Darrel menunjukkan pakaian nya yang rapi.
"Tak masalah, akan tante ambilkan. Untuk sikat gigi, tante punya persediaan, dan piyama... Ah! Pakai punya Raffyn saja."
"Tak masalah sayang.... " jawaban dari Emeline dengan usapan lembut di kepala Darrel. "Tante ambilkan sikat gigi dulu buat kamu," lanjutannya.
Lantas Emeline melangkahkan kakinya, dengan beberapa saat dia mulai memperlambat gerakannya saat mendengar ucapan dari Darrel.
"Ibumu sangat baik, andaikan dia jadi ibu ku juga. Raffyn, ayo kita bertukar tempat."
"Tidak! Enak saja, mama kamu kan galak."
Ucapan polos dari keduanya. Membuat Emeline tersenyum simpul juga miris. 'Seburuk itukah Welmia?' batin Emeline dengan memberikan sikat gigi anak pada Darrel.
Setelah itu, Darrel dan Raffyn bersiap di tempat tidur. Emeline merasakan seperti punya anak kembar, di peluk oleh Raffyn juga Darrel.
Setelah mereka Tertidur, Emeline memindahkan tubuh Darrel agar lebih ke tengah ranjang agar dia tak terjauh. 'Darrel terlihat lebih besar, tapi kenapa dia lebih ringan dari Raffyn,' gumam Emeline.
Perlahan dengan kaki yang menjinjit Emelin keluar dari kamar. "Aku merindukan mu," ucapan dari seseorang, langsung membuat Emeline membalikan badannya.
"Jangan berteriak, anak-anak baru saja tidur kan?" lanjutnya dengan refleks cepat menutup mulut Emeline.
Theo, itu adalah Theo. Entah dari mana dia masuk tiba-tiba datang memeluk Emeline dari belakang, saat dia tengah menutup pintu kamar Raffyn. Tentu saja raut wajah terkejut juga takut, tapi benar Darrel dan Raffyn baru saja tertidur sekarang.
"Mau apa kamu kemari?" tanya Emeline dengan suara kecil.
"Emeline, aku tak ingin berpura-pura lagi. Ada hal penting yang ingin aku katakan, kamu ada waktu sebentar?" jelas Theo dengan mengarah ke suatu ruangan.
Masih di lantai dua, ruang keluarga dengan sofa yang cukup besar dan televisi di depannya. Terlihat Theo tengah duduk santai, dengan Emeline yang menyiapkan teh untuk mereka.
"Sekarang ada apa?" tanya Emelin duduk di sebelah Theo.
"Kamu tau kenapa aku membawa Darrel kemari?" tanya Theo membuka pembicaraan.
"Karena orang tuanya bertengkar, Darrel sudah menyatakannya."
"Benar, tapi kamu tau jika dia biasa menjadi pelampiasan amarah?"
"Aku tau Theo, yang aku tanyakan kenapa kamu kemari?" pertanyaan Emeline ulang kembali.
Tak ada jawaban dari Theo. Hanya saja dia mulai memenangi pinggang Emeline, kemudian menyenderkan kepala nya di pundak Emeline.
"Emeline, aku lelah sekali. Kenapa kamu pergi? Kamu sudah tak percaya denganku lagi?" tanya Theo sungguh-sungguh.
"Kamu yang membuatku pergi Theo."
"Aku pikir kamu bisa paham apa yang aku pikirkan saat itu, kamu menyerah denganku begitu saja."
"Aku tak pernah menyerah, jika aku menyerah aku akan membuang Raffyn dari lama. Menganggap nya beban, karena dia selalu mengingatkan ku padamu Theo, orang yang selalu membuatku sakit," jelas Emeline.
Perasaan hangat mulai tercipta di ruangan itu. Tak ada saling teriak ataupun marah, keduanya saling jujur, dan mengungkapkan apa yang mereka rasa.
"Untuk beberapa waktu aku titip Darrel disini, dan di sana aku akan mengurus sisanya," kata Theo dengan posisi yang masih sama.
"Apakah seburuk itu? Kenapa kamu sangat peduli?"
"Kamu pergi dengan membawa Raffyn, saat aku bekerja untuk Welmia aku membesarkan Darrel seperti Raffyn juga."
"Jadi kenapa kamu tetap di sini? Bukankah sudah terlalu malam Theo? Kamu kembali karena ingin menyakitiku lagi?"