A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Kehidupan Baru Mereka Bertiga



"Aku berbohong, aku takut... Sungguh takut.... " ucap Darrel dengan tangisan, juga pelukan kuat pada Emeline.


"Tak apa, kita bersama tak perlu kamu takut tentang sesuatu hal lagi," ujar Emeline dengan pelukan balik pada Darrel.


Emeline sekarang paham, kenapa Theo sangat menjaga Darrel. Dia terlalu pendiam, bahkan dia jarang mengatakan apa yang dia inginkan. 'Darrel sudah terlalu lama menanggung beban ini sendirian,' gumam Emeline.


"Emeline? Semuanya sudah siap?" tanya Theo yang kembali untuk membawakan tas juga mengantar mereka ke bandara.


"Sudah, Theo bisa kamu membopong Darrel? Aku akan membawa Raffyn."


"Tentu, tak masalah," jawab Theo segera.


Tak ada ucapan lagi, mereka sama-sama diam saat di mobil. Begitu pula dengan Darrel juga Raffyn. Raffyn yang baru saja terbangun, mulai mengotak-atik pad miliknya. Sedangkan Darrel menatap keluar jendela.


"Semuanya akan selesai, om Theo berjanjilah kamu akan menjemput kami saat kamu sudah selesai di sini," ujar Raffyn seketika.


"Haha, tentu saja saat aku bisa," jawab Theo dengan senyuman ke arah Raffyn.


'Benar, aku belum bilang jika pada Raffyn jika Theo itu ayahnya. Untuk sekarang, sepertinya bukan waktu yang tepat, tapi kapan?' gumam Emeline.


Sampai nya di bandara, benar seperti yang Theo katakan. Beberapa orang dengan jas rapi menjemput mereka. Beberapa yang lainya terlihat memiliki badan yang kuat, tapi yang lainya terlihat lebih pintar.


"Tuan-tuan mari ikut saya," ujar salah satu di antara mereka yang berkacamata.


"Emeline, aku titip Raffyn kembali juga Darrel untuk kali ini," ucap Theo sebelum mereka berpisah.


Dengan kecupan singkat di dahi Emeline, tanda perpisahan dari Theo.


"Aku belum bilang pada Raffyn, jika kamu adalah ayahnya. Untuk sekarang aku pikir bukan waktu yang tepat," gumam Emeline ragu.


"Tak masalah, untuk sekarang kalian selamat itu yang utama. Benar kata Raffyn, saat aku sudah selesai aku akan menjemput kalian. Aku janji."


Ucapan itu seolah membuat Emeline tenang, tapi tak bisa di pungkiri hatinya tetap kacau sekarang. Perasaan campur aduk, antara cemas tapi juga harus kuat di hadapan anak-anak. Melihat Darrel yng menangis kemarin, membuat Emeline berpikir. Jika bukan dia yang menenangkan anak-anak, siapa lagi.


"Ya, aku pasti akan menantikan saat kamu kembali," jawab Emeline.


...***...


Beberapa tahun telah berlalu, di tempat lain yang jauh dari tempat asal mereka Emeline, Darrel, juga Raffyn telah menjalani hidup yang sangat berbeda.


Raffyn yang suka dengan IT, langsung menunjukkan bakatnya. Berbeda dengan Darrel yang terlihat mencolok. Bukan hanya tampan, tapi juga pintar. Sayangnya, mereka hanya bergaul satu dengan yang lainya. Bahkan saat masuk sekolah dasar, Darrel juga Raffyn tak ingin bergaul dengan anak-anak yang lainya.


"Permisi.... "


"Ah, ya silahkan masuk...." titah Emeline.


Benar, Emeline juga sama melanjutkan apa yang dia bisa. Membangun cafe bunga, dengan sensasi alam yang dia kembangkan.


"Nyonya Emeline, seperti biasa tehnya tak mengecewakan," ujar salah satu pelanggan.


"Benar, aromanya benar-benar khas, juga tak terlalu padat. Jadi tehnya terasa sangat ringan," sergah yang lainya.


"Terimakasih, ah maaf saya tinggal dulu ada beberapa orang yang memesan di sana," jawab Emeline dengan terburu-buru.


"Maaf mau beli apa?" tanya Emeline saat sampai di tempat duduk yang dia tuju.


"Seperti biasa Emeline," jawab nya.


Dia adalah Diana Elsgar. Diana tinggal bertetangga dengan Diana, membuat mereka akrab. Belum lagi saat umur mereka ternyata sama.


"Ramai seperti biasa ya Emeline," kata Diana melihat sekeliling.


"Iya, jujur aku juga sedikit lelah," jawab Emeline dengan helaan napas panjang nya.


"Duduklah, duduk duduk. Kemari," titah Diana memaksa Emeline.


"Kamu terlihat tak baik Emeline, kamu butuh beberapa pekerja di sini."


"Benar, tapi aku belum sanggup untuk membayar orang. Lagipula aku punya dua anak yang harus aku sekolahkan," hela Emeline kembali.


"Itu, suami mu sangat tak bertanggungjawab ya. Dia menelantarkan kalian payah sekali." gerutu Diana.


'Andaikan kamu tau, dia pergi karena menjaga kami,' ucap batin Emeline.


Dengan senyuman perlahan, menanggapi bagaimana tingkah laku Diana.


Beberapa saat kemudian, terdengar lonceng pertanda ada orang masuk dalam cafe tersebut. "Mama, aku pulang," panggil Raffyn masuk.


"Raffyn!! Sini sayang ku," panggil Diana dengan berteriak.


Raffyn seolah terkejut, kemudian menatap Diana tak senang. "Haha, tante Diana kenapa Anda kemari?" tanya Raffyn menghampiri mereka.


"Astaga, pangeran ku kenapa kamu begitu dingin," ujar Diana dengan memeluk Raffyn seketika.


"Akh! Lepaskan! Tante Diana, Anda harus benar-benar mempunyai pasangan sekarang!" ucap Raffyn mencoba melepaskan pelukan.


"Raffyn lebih sopan sedikit oke," ujar Emeline dengan mengusap kepala Raffyn. "Raffyn, dimana Darrel?" lanjutnya.


Raffyn seketika menunjuk ke luar cafe, terlihat Darrel yang tengah berbicara dengan beberapa orang. "Ya, ini adalah cafe milik ibu saya. Lihat, aromanya khas bahkan bisa tercium sampai keluar." jelas Darrel.


"Aha, iya kamu manis sekali... Pasti orang tua kamu sangat tampan dan cantik juga," ucap beberapa perempuan yang lebih dewasa dari Darrel.


"Tidak, saya tak mempunyai ayah saya hanya punya ibu," jawab Darrel seolah polos dan langsung membuat mereka diam.


Lantas Emeline langsung keluar, menyapa beberapa perempuan dan membawa Darrel. Terlihat mereka sudah tak enak untuk berbicara, apalagi wajah Darrel yang melihat enteng untuk mengucapkannya.


"Maaf, dia memang seperti ini," ucap Emeline.


"Aha, Anda ibunya. Maaf kami tak tau," jawab salah satu perempuan tadi.


"Ingin mampir sebentar? Saya merasa tak enak."


Beberapa orang saling menatap, kemudian yang lainnya mengangguk setuju.


"Kamu harusnya lebih sopan Darrel, astaga kamu ucap seperti tadi pasti mereka rasa tak enak," ujar Emeline dengan memberikan cemilan kepada Darrel juga Raffyn.


"Dia tak tau, apa itu sopan santun," celetuk Raffyn dengan cemilan penuh di mulutnya.


"Apa? Perhatikan apa kamu tau sopan santun juga?" tanya Darrel kembali dengan membersihkan beberapa remah roti yang menempel di bibir Raffyn.


"Aduh, kalian itu manis sekali.... " ujar Diana melihat tingkah laku Darrel juga Raffyn.


"Mama, aku membuat baru lagi," ujar Raffyn kembali dengan menunjukkan pad miliknya.


"Whoa, pamflet baru lagi?" kata Diana dengan penuh antusias.


Terlihat pamflet buatan Raffyn yang di buat kembali oleh Raffyn. Namun, Emeline terbelalak saat sebuah promo yang Raffyn tulis di dalamnya.


"Apa ini maksudnya?" tanya Emeline dengan wajah flat miliknya.


"Pffft... Itulah... Itulah bagian yang paling bagus," ujar Diana dengan terbata karena menahan tawa.


Terlihat promosi dengan wajah Emeline yang tengah melayani saat di cafe. "Akulah yang menfoto, setidaknya aku juga di beri kompensasi," kata Darrel dengan menunjukkan kamera.


Emeline hanya menghela napas, dimana dia tau alasan kenapa beberapa hari ini banyak laki-laki lajang yang datang kemari.


"Yosh yosh, tak masalah misalnya kamu mendapat kan laki-laki kaya dan mapan, maka kamu akan tau mereka adalah malaikat mu."