A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Sikap Dave yang Berbeda



Suara lonceng kembali berbunyi, menandakan ada yang datang. Namun, tak seperti biasa para pelanggan menatap ke arah pintu masuk cafe nya.


"Permisi, maaf menunggu lama," ujar seseorang masuk.


Itu adalah Dave, dengan beberapa pengawal di belakangnya. 'Kenapa dia membawa begitu banyak orang,' gerutu Emeline.


"Selamat datang," ucap Emeline dengan senyuman lembut tanda menyambut.


"Dimana?" tanya Dave dengan tatapan denginnya.


Berbeda dengan Dave yang Emeline temui di awal, kini Dave terlihat lebih menyeramkan. Entah untuk menjaga Image ataupun yang lain, tapi benar-benar berbeda dari Dave yang pertama kali Emeline bertemu.


"Rara? Dia di sana dengan Raffyn juga Darrel," ujar Emeline dengan menunjukkan pojok cafe.


Terlihat wajah Dave seperti bingung. Lantas dia melangkahkan kaki, menunju ke arah pojok cafe tempat Emeline mengarahkannya barusan. Sedangkan Emeline, dia masih sibuk mengurus pelanggan. Beberapa orang membicarakan Emeline dari belakang, beberapa yang lainnya langsung bertanya kerena penasaran.


"Dia tampan, apakah dia suami mu?" tanya seorang pelanggan.


"Bukan, kami hanya ada beberapa urusan jadi dia ke-" belum sempat Emeline melanjutkan ucapannya, terdengar teriakan dari Rara.


"Tidak!! Pergi! Aku mau dengan mama Emeline di sini!!!" teriak Rara saat Dave mencoba untuk membawanya.


"Kamu, om bisakah memperlakukan putrimu dengan benar?" ucap Raffyn mencoba untuk mengambil Rara.


Tapi sayang, ukuran badan Raffyn masih terlalu pendek dengan Dave. Dalam posisi Rara yang tengah di angkat Dave dengan satu tangannya.


"Kalian siapa?" tanya Dave merasa tak peduli dengan Raffyn.


"Kaka Raffyn bantu Rara... Rara gak mau pulang sama papa, Rara mau sama mama.... " rintih Rara sudah di penuhi tangisan.


Melihat itu semua Emeline langsung menghampiri mereka. Untuk berbicara perlahan, karena mereka membuat keributan dan rasa tak nyaman bagi pelanggan.


"Aku tak peduli," jawab Dave dengan nada dingin langsung membalikkan badannya.


Terlihat Rara yang sudah menangis saat di angkat oleh Dave, lain hal dengan Dave yang merasa tak peduli. "Tuan Dave? Boleh kita berbicara sebentar?" tanya Emeline menghadangnya.


"Maaf, aku tak ada urusan, lebih baik kamu pergi saja."


"Anda tak lihat?! Anak Rara menangis!" ucapan Emeline dengan nada tinggi, mencoba untuk menahan Dave yang akan pergi.


Namun usahanya gagal, saat beberapa pengawal menghadang Emeline. Tangannya di cekal, memang itu membuat Emeline tak bisa berbuat apa-apa. 'Siapa dia sebenarnya,' gumam Emeline batin melihat Dave.


"Lepaskan! Lepaskan mamanya Rara, dasar pengawal!" teriak Rara mencoba untuk melepaskan dirinya.


"Ssttt... Kamu lebih baik diam, anak nakal yang pergi sendiri tanpa bilang? Mau aku apakan?" tanya Dave pada Rara dengan senyuman smrik yang menakutkan.


Lantas Rara langsung diam dengan menutup mulutnya. Tak berani berbicara, begitu pula dengan Emeline juga Raffyn.


"Tuan Dave Camelion bukan?" ucapan seseorang dari belakang mereka.


Itu adalah Darrel, tatapan sama dengan Dave. Sama-sama tatapan datar dan dingin seolah mengancam.


"Anda memiliki perusahaan yang besar, tak pantas bagi Anda untuk melakukan membuat keributan di tempat rendah seperti ini. Jika Anda sudah selesai silahkan pergi," kata Darrel seolah mengusirnya.


Dave hanya diam menatap Darrel, entah apa yang terjadi. "Ck! Anak kecil tak usah ikut campur."


"Mama! Rara gak mau di bawa papa...." teriak Rara kembali, membuat semua pelanggan cafe melihat ke arahnya.


"Rara diamlah!"


"Rara gak suka sama papa! Papa jahat, papa jahat sama Rara! Rara mau sama mama Emeline saja. Ibu pengasuh juga jahat sama Rara, Rara mau main sama kaka Raffyn sama kaka Darrel. Jika papa tak sayang Rara, Rara juga gak mau sama papa!!" teriak Rara di selingi dengan tangisan.


Teriakan itu seolah membuat Dave bungkam seketika. Dia menatap Rara yang masih menangis, dengan beberapa ingus yang keluar. Tingkah lakunya tiba-tiba kikuk, seketika dia menurunkan Rara dari tangannya.


"Mama... Pengawal lepaskan tangan mama! Kamu pergi saja sama papa!" teriak Rara langsung berlari ke arah Emeline.


Pengawal yang awalnya ragu, menoleh ke arah Dave. Dengan sekali anggukan dari Dave, membuat pengawal melepaskannya. "Kamu jaga saja dia, beban untukku!" teriak Dave langsung pergi dengan para pengawalnya.


Suasana menjadi hening, para pelanggan beberapa ada yang merekam yang lainya mulai berbisik. Rara juga masih menangis, dengan matanya yang mulai bengkak.


"Rara gak apa-apa 'kan?" tanya Emeline.


"Tangan mama sakit gak?" tanya Rara balik.


"Tidak, sama sekali.... " usapan lembut Emeline pada kepala Rara.


Emeline melihat keluar, dengan Dave yang masih melihat mereka dari dalam. Beberapa saat melihat, dia langsung pergi begitu saja dengan mobilnya.


Orang-orang yang semula diam, kini beraktivitas seperti semula. Begitu pula dengan Emeline.


"Dia mantan suami kamu?"


"Kamu juga punya anak perempuan?"


"Kok kasar sekali ya dia?"


Beberapa pertanyaan yang di layangkan oleh pelanggannya. Emeline hanya bisa menjawab seadanya, jujur dia juga tak tau apa yang terjadi. Ini rumit, dengan Rara yang tiba-tiba datang ke apartemen miliknya. Lalu mulai memanggilnya ibu. Banyak hal juga yang ingin Emeline tanyakan.


"Ibu, bisa aku bantu sesuatu?" tanya Darrel saat keadaan cafe mulai sepi.


"Tak masalah sayang, mending kamu bantu ibu jaga Rara ya?" jawab Emeline dengan senyuman kelelahan.


Darrel menatap Emeline tak percaya, dengan helaan napas seperti orang dewasa. "Aku pikir dia akan menjadi calon ayah yang baik," gumam Darrel.


"Darrel? Kenapa kamu butuh ayah? Apakah ibu saja tak cukup?"


"Tidak, bukan seperti itu. Aku melihat Ibu selalu kelelahan, juga jika terjadi sesuatu aku tak bisa melakukan apapun. Andaikan aku dewasa lebih cepat, setidaknya aku bisa menikahi dan menjaga ibu nanti," gerutu Darrel.


Seketika mata Emeline membulat, tentang apa yang dikatakan Darrel. Rasa kikuk terjadi, apalagi saat Darrel bilang ingin menikahinya. Seketika Emeline tertawa, Darrel bukan anak kandungnya tapi benar-benar menyayangi Emeline.


'Aku benar-benar di berkati ya, di keliling oleh anak-anak yang pandai dan menyayangi ku,' batin Emeline berucap.


"Siapa yang akan menikahi mama?" tanya Raffyn yang tiba-tiba datang menyela di antara mereka.


"Aku, kenapa?" tanya balik Darrel dengan wajah datar seperti tak bersalah.


"Tak boleh! Bagaimana dengan ku jika kamu menikahi mama? Tak sudi kamu menjadi ayahku Darrel."


"Aku juga tak mau memiliki anak seperti mu, lebih baik saat aku menikahi ibu nanti akan aku jual kamu."


Perdebatan anak-anak, Sama-sama tak ingin mengalah satu dengan yang lainya. Kekehan terus Emeline lakukan, dengan senyuman dan rasa senang. Beberapa kali melayani pesanan pelanggan yang datang ke meja pesanan.


"Tunggu?! Saat kalian di sini, dimana Rara?"


.


.


.


.


.


HALLO SEMUANYA, LAMA GAK BERBICARA KITA. BWT, MAKASIH YANG UDAH SELALU SUPPORT AUTHOR KALI INI, AUTHOR HARAP KALIAN BISA SELALU SUPPORT AUTHOR LEBIH LAGI, DENGAN LIKE, KOMEN, DAN SHARE CERITA INI. TERIMAGAJI....


(^з^)-☆Chu!!