A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Perjanjian Pernikahan



"Tunggu?! Saat kalian di sini, dimana Rara?" tanya Emeline seketika menyadari Rara tak bersalah Darrel ataupun Raffyn.


"Rara tengah tidur sekarang, dia pasti kelelahan. Rara banyak menangis tadi," jawab Raffyn.


Lantas Emeline melihat ke arah tempat biasa Darrel dan Raffyn duduk. Terlihat anak perempuan yang tengah membaringkan badannya di sofa.


"Hemm, kalian kemari," ujar Emeline.


Dia lantas menggendong Rara, dan membawa Darrel juga Raffyn.


"Kalian di sini ya, jaga Rara," titah Emeline saat mereka berada di ruang istirahat.


Ruang istirahat atau lebih tepatnya kamar istirahat. Tempat dimana Darrel dan Raffyn biasa tidur siang saat mereka kembali dari sekolah. Letak apartemen Emeline dan Cafe miliknya lumayan jauh untuk perjalanan, dia juga Emeline tak ingin meninggalkan Raffyn ataupun Darrel sndirian.


"Jaga Rara, dan jangan berisik oke?" kata Emeline sesaat setelah menidurkan Rara di kasur.


"Aku tak ingin tidur," jawab Darrel membantah


"Aku juga tak mau!" serah Raffyn juga.


"Ibu tak pernah menyuruh kalian untuk tidur, Ibu minta kalian untuk menjaga Rara."


"Sama sana, lama kelamaan kami akan tidur juga."


"Tak masalah, jangan banyak mengeluh Oke? Katanya kamu mau bantu ibu," jelas Emeline.


Keduanya hanya bisa menurut apa yang Emeline katakan. Tak berani menyela. Terdengar kekehan pelan dari Emeline, sesaat dia keluar dari tempat istirahat itu.


Sesaat Emeline keluar, badannya remang seketika. Saat sebuah pisau atau belati tempat ada di lehernya. Napasnya memburu, entah siapa bahkan dia tak bisa menengok ke belakang.


"Maaf, tapi ada banyak orang Anda bisa tertangkap saat saya berteriak," jelas Emeline mencoba untuk tenang.


Perlahan dia mengunci pintu kamar istirahat dari luar. Biarpun anak-anak di kunci, mereka bisa meminta tolong lewat jendela, ataupun saat polisi datang kamar ini akan di paksa nantinya.


"Hehe, kamu pikir kamu pintar? Para orang itu sudah aku paksa keluar. Hanya ada orang-orang ku, kamu pikir apa?" jawaban dari seorang laki-laki yang Emeline kenal sebelumnya.


"Tuan Dave?"


"Aku tau, katakan anak-anak itu siapa?" tanya Dave seketika.


"Anak-anak yang mana? Anak-anak saya?" jawab Emeline dengan badan yang gemetar.


"Satu memberikan E-mail tanpa alamat, satu lagi memberikan virus untuk mengacaukan, darimana mereka bisa belajar itu semua?"


"Tuan Dave, bukankah lebih baik kita berbicara secara tenang saja. Dan tolong jauhkan pisau ini dari saya," sergah Emeline.


Tak ada jawaban dari Dave, dia justru mengurangi jarak antara dia juga Emeline. Napas yang memburu tepat di leher Emeline. "Hem baiklah, siapkan aku teh dan yang lainya," ucap Dave seketika langsung pergi meninggalkan Emeline.


Dalam batin Emeline merasa bersyukur, tapi juga kaget. Dengan tingkah laku Dave yang berubah seketika.


'Kenapa aku tak pernah bertemu dengan laki-laki normal?' tanya Emeline batin.


Melihat tingkah laku Dave, dia hanya bisa mengikuti apa yang Dave inginkan. Sesekali melihat keadaan anak-anak yang ternyata sudah tidur siang bersama.


Waktu makan siang adalah waktu yang tepat, dan biasanya keadaan cafe nya ramai. Tapi sekarang, menjadi sepi karena cuma Dave yang ada di sini.


"Tuan Dave," panggil Emeline dengan memberikan beberapa hidangan yang ada. "Anda butuh sesuatu? Maaf tapi saat Anda di sini cafe saya menjadi sepi," lanjutnya.


Dave langsung melihat orang yang ada di sampingnya. Dengan sigap memberikan map coklat pada Emeline.


"Apa ini?" tanya Emeline kebingungan.


"Surat perjanjian pernikahan," jawab Dave dengan meminum perlahan dengan tenang.


Lantas Emeline menyeritkan dahi, merasa tak percaya tapi juga terkejut dengan apa yang di katakan oleh Dave.


"Maksud Anda apa?" nada Emeline dengan raut marah.


"Perjanjian pernikahan, kamu tak tau?"


"Ini sangat mendadak, maksud saya apa yang ada di pikiran Anda?!"


"Kamu tak menyadarinya Emeline? Ini semua salah kamu!" bentak Dave membuat Emeline mengurungkan niatnya untuk berbicara.


Dave lantas kembali mengatur posisinya, dan mulai duduk tenang seperti semula. Dia menatap keluar, melihat beberapa orang yang tengah berjaga di sana.


"Kamu tak kenal saya?" tanya Dave seketika.


"Bagaimana bisa kenal, yang saya tau Anda itu orang yang saya selamatkan. Itu cukup untuk berterimakasih, dan tidak mengganggu saya sampai saat ini," jelas Emeline dengan nada tegas.


Pagi hari Dave sudah membuat keributan, lalu mulai mengancamnya dengan pisau, sekarang meminta perjanjian pernikahan. Sesuatu yang frontal, sesuatu yang tak sopan untuk orang yang baru di kenal.


"Heh-! Aku tak membunuhmu dengan anak-anak mu itu juga sudah sebuah hutang budi yang besar," jawab Dave dengan senyuman smrik menakutkan.


"Lalu apa yang Anda inginkan, Tuan Dave?"


"Itu, sudah ada di situ. Menikahlah dengan saya, tenang saja saya akan membayarnya," jawab Dave dengan ringan.


Itu membuat Emeline tak suka, seolah hubungan bisa di beli dengan uang. Emeline memang bukan orang yang berada, tapi dia cukup untuk kehidupannya.


"Jika Anda ingin agar saya mau, bermimpi saja! saya tak ingin itu," jawab Emeline bulai beranjak.


Dave yang semula duduk, lantas ikut berdiri dengan Emeline. Dengan tatapan marah, juga mengintimidasi, tapi tak berguna untuk Emeline.


Tatapan sama seperti tatapan Theo, merasa Emeline sudah terbiasa dengan tatapan otoriter seperti itu.


"Bagaimana dengan Rara?" tanya Dave sesaat setelah membuka mulutnya.


"Rara itu anak Anda, saya juga punya anak sendiri kenapa malah tanya saya?" tanya Emeline membereskan mejanya.


"Dia tak ada pengasuh, dia hanya suka padamu apa kamu mendengarkan aku Emeline?" tanya Dave kembali.


"Ya, aku mendengarkan. Anda tau, mungkin Anda yang kurang memperhatikan Rara."


"Itulah yang aku maksud! Kenapa kamu masih tak sadar juga!" teriakan Dave menarik paksa tangan Emeline agar melihat ke arahnya.


...FLASHBACK...


Malam hari setelah Dave pergi ke apartemen Emeline, dia di jemput oleh beberapa orang. Terlihat Dave melihat dari balik kaca mobil, melihat Emeline yang tengah berdiri di balkon sambil melambaikan tangannya.


"Apa Anda sudah menemukan pasangan yang sempurna?" tanya Eslen sekertaris Dave.


"Entahlah, sepertinya iya," jawab Dave.


Jawaban yang Eslen tak duga sebelumnya. Membuat dia diam dan membuatkan mata lebar. Tak berselang lama, Eslen terkekeh pelan.


"Apa yang lucu?" tanya Dave dengan wajah datarnya.


"Ti-tidak tuan.... " jawab Eslen dengan menahan tawanya.


"Ck! Selesaikan pekerjaanmu, dan cari tentang Emeline. Aku ragu, jangan-jangan dia adalah sekutu yang menyamar," jelas Dave memalingkan wajahnya.


Batin Eslen bergejolak, saat tau jika bosnya tertarik dengan seorang wanita. Dengan sigap Eslen langsung mencari tau tentang Emeline dan statusnya.


Sampainya di ruang rumah, Dave menerima sebagian catatan dari Eslen. Dalam ruang kerja, dia mengamati siapa Emeline sebenarnya.


"Darrel dan Raffyn. Mereka di umur yang sama, tapi bukan anak kembar," pikir Dave.


Mau berapa kali Dave berpikir, Justru membuatnya semakin lelah. Saat dia sudah banyak kekurangan darah, apalagi belum mengganti bajunya.


Pagi hari datang, saat Rara sudah bangun mencari seseorang untuk diajak bermain.


"Ibu pengasuh, ayo main sama Rara!"


"Ini masih pagi Rara, astaga lebih baik kamu tidur saja."


"Rara gak mau tidur! Rara mau ma-"


"Ya pergilah bermain," sergah pengasuh itu pada Rara.


Pengaruh penjilat lebih tepatnya. Saat ada Dave di depannya, dia akan bersikap baik dengan Rara. Namun sebaliknya, saat tak ada Dave, dia bahkan tak memperdulikan Rara.


"Rara benci ibu pengasuh!" teriak Rara keluar dari kamar itu.


Berjalan dengan perasaan kesal. Beberapa pelayan sudah siap, tapi yang lainya masih berada di kamar. Memang hari masih terlalu pagi untuk Rara bangun sekarang.


Saat melangkahkan kaki, terlihat kamar Dave yang terbuka lebar. Rara melihat Dave yang setengah tertidur, dehtam bersandar pada pinggir ranjang.


"Papa cape ya... Maafin Rara belum bantu papa," ujar Rara mengusap lengan Dave yang di perban.


Namun, saat Rara ingin tidur bersama Dave, dia malah melihat berkas yang di bawa oleh Eslen. Terlihat gambar Emeline, Darrel, juga Raffyn di sana. Ada juga alamat, tanggal lahir, serta semua biodata mereka.


"Wah?! Mama Rara?"


...FLASHBACK END...