A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Kenapa Kamu Tak Sadar?



"Baik, untuk sekarang kamu tau apa yang kamu lakukan, kan? Mark?" Tanya Dave berubah wajahnya menjadi datar dan tajam.


"Saya paham," jelas Mark dengan menundukkan badannya lantas pergi dari ruangan itu.


Misi selanjutnya, mencari tau siapa perempuan yang Theo temui. Seperti bukan dari kalangan rendahan, tapi juga bukan dari organisasi mana pun. Terlihat tak asing untuk sekarang, membuat Mark harus mencari tau siapa wanita yang ada bersama Theo saat itu.


"Paman Mark!!" Teriakan dari perempuan yang sangat Mark kenal.


Itu adalah Rara, dia tau Rara sedari dia masih bayi. Apalagi saat Dave bilang jika Rara adalah putrinya. Awalnya Mark tak percaya, apalagi dia belum pernah melihat perempuan Dave. Untuk sekarang, dia malah dekat dengan Rara karena dulu sering bermain dengan nya.


"Rara, kamu sudah besar. Lihat, sekarang bukan putri kecil lagi!" Kata Mark sembari mengangkat tubuh Rara.


"Rara sudah pandai, sudah pintar juga," jawab Rara antusias. "Tapi paman Mark kemana saja? Rara jarang bertemu dengan paman...." Lanjutnya.


"Paman ada kerjaan di luar kota, Rara tau paman itu orang penting," jawab Mark. Padahal dia tengah menyembunyikan kebenaran dari Rara, tentang apa pekerjaan ayahnya yang sesungguhnya.


"Sekarang paman di sini! Ayo Rara kasih tau mama Rara... Juga ada kakak Rara!" Kata Rara menarik tangan Mark.


Mark memang tau jika Dave sudah memiliki tunangan. Rencana awal yang hanya memata-matai, sekarang malah memiliki perasaan. Sayangnya Mark belum pernah melihat siapa perempuan yang bisa menaklukkan hati Dave Camelion.


Setelah beberapa saat, akhirnya Mark menghampiri Emeline. Seorang yang sudah memiliki anak, bisa di bilang janda bahkan suaminya sangat merepotkan.


"Paman Mark! Paman itu mamanya Rara!" Ujar Rara sembari menunjuk ke arah Emeline.


Lantas Emeline langsung memalingkan wajahnya. Terlihat wajah manis tanpa makeup. Lain hal dengan perempuan sebelumnya, menggunakan make up tebal, badannya seperti sebuah gitar, bahkan dengan pakaian yang kekurangan bahan.


"Ah-? Maaf saya mengganggu Anda, Nyonya Emeline?" Tanya Mark sedikit ragu.


"Tak masalah, tak perlu formal seperti itu," jawab Emeline sembari merakit beberapa kerajinan tangan.


Terlihat dia adalah orang yang berbeda. Mark sedikit menahan tawa, dengan selera dari tuannya yang mungkin sudah Berbeda. Awalnya dia lebih suka perempuan yang ahli bagian ranjang, sekarang mungkin yang membuat Rara nyaman.


"Nyonya Emeline, maaf jika saya kurang sopan, tapi bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya Mark duduk di kursi sebelah Emeline.


"Tak masalah? Dave menceritakan jika kamu masih sangat kecil dulu saat bertemu dengannya, kamu pasti sudah menganggap Dave kakak mu," jelas Emeline tak lupa dengan senyumannya.


Mark hanya terdiam, lantas melihat ke arah Rara. Dia tengah asik bermain, dengan Darrel juga Raffyn. Putra dari Emeline. Menurut data yang sudah dia cari jika Darrel adalah putra dari kaka angkat Theo. Sedangkan Raffyn adalah putra dari Theo sendiri.


Melihat dari tingkah laku Darrel juga Raffyn, terlihat mereka bukanlah anak-anak yang biasa. Pandai, dan juga tegar mungkin Mark melihat Darrel juga Raffyn adalah versi dirinya dulu tapi yang lebih baik.


Ingatan Mark Kembali, saat dia baru datang. Melihat Darrel juga Raffyn yang tengah memegangi buku besar. Mungkin ini adalah pelajaran yang di berikan oleh Dave dan juga Eslen, sama seperti nya dulu.


"Tuan Dave, maaf jika ini kurang sopan. Boleh saya bertanya sesuatu?" Ujar Mark sembari membuka sedikit tirai nya, melihat Darrel dan Raffyn di sana.


"Mark? Kamu memang tak pernah habis dengan rasa penasaran mu itu?" Ujar Dave sembari melihat berkas yang Mark bawa.


"Mereka sama sepertimu, bidak yang lainya," ujar Dave dengan mudahnya.


Ingatan itu kembali, saat Mark melihat Darrel dan Raffyn saat itu. Kali ini mereka bisa bermain-main dengan puas. Tertawa, bahkan melakukan apa yang mereka mau. Akan tetapi, untuk beberapa tahun yang akan datang mereka tak akan bisa menampilkan wajah senyuman nya lagi.


"Mark? Kamu suka sekali melamun ya?" Tanya Emeline sembari menepuk pundak Mark.


"Maaf-! Saya teringat dengan masa kecil saya, saat melihat Darrel juga Raffyn," jelas Mark.


"Sungguh? Bagaimana masa kecil mu?"


Lantas Mark memainkan tangannya, sembari tersenyum kecut pada Emeline. "Saya hidup di perbatasan. Orang tua saya meninggal karena perang, lantas apa yang di harapkan? Saya hidup sebagai penjahat jalanan, yang mencuri bahkan hanya untuk makan," jelas Mark langsung membuat Emeline membulatkan mata.


"Maaf, saya tak tau...." Kata Emeline merasa tak enak.


"Tak masalah, tapi sekarang hidup saya berubah. Memang kehidupan saya tragis awalnya, tapi saat saya bertemu dengan Tuan Dave semuanya berubah. Dia mengajari saya banyak hal, lantas memberikan saya makan, dan juga rumah. Itulah bisa di bilang Tuan Dave menjadikan saya seperti sekarang," jelas Mark.


Emeline lagi-lagi menampilkan senyuman nya. Sebuah senyuman hangat, bahkan untuk seorang Mark. Di lihat lagi Emeline lebih muda darinya, mungkin sekitar satu dua tahun. Cukup terpaut jauh juga dengan Dave.


"Bukankah itu suatu keberuntungan? Mark?" Tanya Emeline.


'Emeline, sampai kapan kamu akan sadar? Aku tengah memeringati mu tentang sikap Tuan Dave yang sesungguhnya. Dan iya, dia menjadikan ku seperti sekarang, sama dia akan menjadikan anak mu seperti ini juga,' batin Mark.


Entah apa yang di pikiran Emeline, bisa saja dia terpikirkan jika Dave adalah orang yang baik. Sepatu pengusaha? Itu adalah kodoknya untuk menutupi pekerjaannya yang sebenarnya.


"Nyonya Emeline? Bagaimana Anda bisa bertemu dengan Tuan Dave?" Tanya Mark membuka pembicaraan kembali.


"Sebuah ketidaksengajaan, dia terluka dan aku membawanya ke apartemenku. Jadi seperti itu," jawab Emeline singkat dengan tangan yang masih merakit kerajinan tangan.


"Lalu bagaimana dengan nona Rara?"


"Itu juga Kebetulan. Dia tiba-tiba datang ke apartemenku, dan memanggil ku ibu. Aneh bukan?" Jawab Emeline lagi-lagi dengan senyuman.


Mark hanya bisa menaikkan salah satu alisnya. Kenapa Emeline tak sadar, hanya itu yang ada dalam pikirannya. 'Tentu saja itu bukan kebetulan, tapi sebuah rencana,' batin Mark kembali bergumam.


"Nyonya Emeline, Anda tau jika saya adalah seorang informan untuk perusahaan Tuan Dave. Dan saya tengah mencari informasi tentang mantan suami Anda, Tuan Theo," jelas Mark langsung membuat Emeline diam.


Wajahnya yang semula tenang dan cerita, kini berubah menjadi datar. Tatapannya sendu, juga tangan yang tadinya masih sibuk dengan kerajinan tangan kini malah terhenti seketika.


"Ya, sebuah kehidupan yang rumit ya Mark? Aku juga tak menyangka akan jadi seperti ini," ujar Emeline dengan senyuman kecutnya. "Tapi mau bagaimana lagi? Tak ada yang menginginkan takdir yang seperti ini," lanjutnya.


Sebuah kerajinan yang sudah di seleseikan Emeline. Sebuah bunga, dengan warna merah dan putih sebagai perpaduannya..