A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
Mimpi Aneh Emelin



Dergaz menatapku dengan tatapan bingung, Begitu juga dengan seorang pelayan yang tengah di dalam kamarku ini.


"Tak bisa, tak semudah itu. Jika mau kamu harus bilang ke Theo terlebih dahulu, jika kamu kabur begitu saja itu akan menjadi masalah. Apalagi kamu membawa Raffyn, aku tak tau bagaimana Theo marah nanti" jelas Dergaz dengan menatapku penuh .


Aku menatap Dergaz setelah berbicara seperti itu. Di pikir lagi apa yang di katakan Dergaz itu benar adanya. Meskipun jika Theo sudah ada Dara, aku tak bisa pergi sesuka hatiku.


"Aku tak ingin di sini. Ini membuatku sesak, apalagi saat melihat Theo dengan Dara" kataku kembali dengan mengeratkan pelukanku pada Raffyn.


"Maaf, tapi bagaimana dengan nyonya Teresa?" ucap seorang pelayan tersebut.


Kamu berdua cukup terkejut. Saat ini pelayan ini mulai ikut diskusi dengan kami.


"Ah~ maaf saya lancang, tapi bagaimana dengan nyonya Teresa? Bukankah rumah nyonya Teresa itu sedikit berbeda?" lanjut pelayan itu kembali.


".... Bisa saja, hanya... Kamu tak ingin berbicara dengan Theo terlebih dahulu Emelin?" tanya Dergaz masih ragu.


Aku tau Dergaz adalah tangan kanan Theo, tak ada yang lebih paham dengan Theo selain dia. Dia berkali-kali menangani kemarahan Dergaz, membuat aku sedikit bergidik ngeri.


"Aku pikir itu cukup menakutkan saat Theo tau?" tanyaku pada Dergaz.


"Benar, mungkin Theo akan marah. Bagaimanapun juga dia ayah dari Raffyn, dia tak ingin Raffyn pergi. Tapi, jika kamu pergi sekarang mungkin tak apa apalagi denganku. Hanya saja, bagaimana nanti? kamu ingin selamanya di rumah bi Teresa?" jelas Dergaz dengan pertanyaan di akhirnya.


"Tapi Dergaz, apakah akan sulit untuk meninggalkan Theo?" tanyaku pasrah.


"Aku tangan kanan Theo, kamu tau itu Emelin. Aku tak mungkin mengkhianati Theo" kata Dergaz dengan helaan nafas.


"Jadi aku harus menahan ini? Menahan rasa sesak ini? Melihat Theo dengan Dara? Aku tak tau akan bertahan berapa lama"


"Tapi mungkin ceritanya berbeda jika nanti kamu setelah pergi ke rumah bi Teresa, lalu meminta izin ke Theo jika kamu ingin kerumah bi Teresa" jelas Dergaz dengan bersiap beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu, persiapkan baju Emelin segera. Lebih cepat kita ke rumah bi Teresa, itu lebih baik"


"Bagaimana denganmu Dergaz?"


"Apanya yang bagaimana denganku?"


"Tidak, tapi bagaimana denganmu jika Theo sampai tahu? Apakah nanti dia akan marah denganmu?"


Pertanyaan ku justru membuat Dergaz tertawa geli. Tak ada yang dia ucapkan, hingga beberapa saat dia mulai menetralkan nafasnya.


"Kamu sudah melihat ku bertarung dengan Theo Emelin. Dia memang lebih kuat dariku, tapi aku juga tak kalah telak. Tak masalah, lagipula dia tak akan sadar apalagi dengan Dara di sampingnya kita manfaatkan itu"


Beberapa saat kemudian kami sampai di rumah bi Teresa, dengan Dergaz yang membawa pakaianku juga Raffyn.


"Kalian kemari? Apakah Theo tau?" tanya bi Teresa khawatir, langsung mengambil Raffyn dari tanganku.


"Tak masalah, aku bilang Emelin ingin healing sebentar. Bi Teresa, bisakah anda menjaga Emelin beberapa saat?" tanya Dergaz sambil berjalan, meletakkan barang bawaan kami ke kamar.


"Emelin, apa yang terjadi?"


"Tidak, aku merasa sesak di sana. Sungguh aku tak kuat saat melihat Theo dan Dara bersama"


"Apakah kamu tak percaya dengan Theo lagi?"


"Entahlah, yang aku pikirkan, aku tak ingin melihat adegan itu tepat di depanku" kataku dengan palingan muka, mengingat kejadian kemarin.


Entah aku harus bilang apa, menjijikan, ataupun yang lainya. Bahkan jika aku tau aku harus melakukan apa, aku tak bisa melakukannya jadi hanya diam saja.


"Tapi Theo suami kamu kan? Kamu setidaknya harus bertahan" kata bi Teresa dengan tangan yang dia arahkan tepat di pipiku.


"Sakit ya?" tanya bi Teresa, saat melihat mataku mulai memerah.


"Perasaan baru kemarin aku merasa menjadi orang yang bahagia" kataku dengan tersenyum kecut pada bi Teresa.


"Tak apa, dengan adanya Raffyn kamu akan tetap menjadi orang yang bahagia ya?" kata bi Teresa, tak lupa dengan kecupan singkat di dahiku.


Tak lama setelah itu, Raffyn kembali terbangun. Dia sedikit bermain dengan bi Teresa. Bi Teresa mengatakan banyak hal, meskipun juga Raffyn hanya merespon nya dengan tawaan, tangisan, ataupun uluran tangan yang menyentuh bibir bi Teresa.


"Dia tampan sekali, lucunya" kata bi Teresa merasa gemas.


"Bi Teresa, biarkan aku yang angkat bi Teresa sudah menggendongnya dari tadi" kataku ingin mengambil Raffyn dari tanya bi Teresa.


"Aku tak setua itu Emelin! Biarkan aku menggendong cucuku lebih lama"


Hanya senyuman yang aku layangkan, dengan sifat bi Teresa yang benar-benar menganggapnya sebagai cucunya.


"Barang bawaanya sudah aku taruh di lemari. Juga dengan kasur bayi sudah aku pasang, Aku akan pulang sebelum Theo kembali sekarang" ucap Dergaz menyela pembicaraan ku.


"Bodoh! Kenapa sangat lama! Lihat, dia bahkan kembali terbangun karena menunggumu memasang satu set tempat tidur saja" ucap bi Teresa dengan menunjukkan Raffyn yang tersenyum melihat Dergaz.


"Wah! Dia bisa seperti ini juga, Raffyn sudah tambah gede ya" ucap Dergaz dengan gemas ingin mencium Raffyn.


"Pergilah, kamu bau keringat" ucap bi Teresa cepat menjauhkan Dergaz dengan Raffyn.


"Tak masalah, kemarilah bi Teresa. Aku akan membawa Raffyn ke kamar agar dia tidur kembali, jadi bi Teresa juga tak terlalu lelah" ucapku dengan mengambil Raffyn dari tangan bi Teresa.


"Kamu ini, padahal aku tak selemah itu" ucapan bi Teresa dengan kerucutan bibir.


Aku tau jika bi Teresa hanya bercanda, jadi aku terus berjalan ke atas dengan Raffyn yang masih berbicara seadanya. Aku juga mencoba untuk berbicara dengan Raffyn, dimana dia juga bisa menggerakkan tangan kecilnya dan mulai tertawa.


Saat di atas, aku tak sengaja melihat bi Teresa dengan Dergaz sedang berbicara. Mereka terlihat sangat serius, dengan kecupan Dergaz di akhir pembicaraan mereka, lalu mulai Dergaz bergegas keluar.


'Apakah ada sesuatu terjadi? Semuanya ini menjadi samar, apakah aku harus percaya dengan Dergaz serta bi Teresa juga? Atau sebenarnya ini hanyalah rencana mereka?' tanyaku batin beruntun, dengan menimang Raffyn yang hampir tertidur dengan pulas.


Malam harinya aku tidur sendirian, tidak tapi berdua dengan Raffyn juga. Serasa kosong di sini, dimana aku biasanya tidur dengan Theo.


"Selamat malam.... " kataku dengan mengecup puncak kepala Raffyn pelan, sambil membayangkan mengucapkannya pada Theo seperti apa yang biasa lakukan.


Malam hari seperti biasa, tak ada yang berubah. Tapi aku merasakan beberapa hal aneh, aku terus bermimpi jika Theo tengah di hadapanku sekarang.


"Emelin... Kenapa kamu pergi, kamu tak tau seberapa lama aku merindukan ini" suara samar-samar yang sensasi panas yang terus menyerayangi badanku.


Bagian bawah sana, aku mulai terasa berat. Aku tak tau apa yang aku rasakan, tapi seperti ini hal-hal yang benar-benar nyata. Sebuah kecupan ada di leherku, serasa sedikit perih dari biasanya.


"Miss you... Emelin" sebuah ungkapan yang membuatku lupa aku ada di mana.


Aku mulai mengusap kepala, yang aku rasa ada di dadaku. Dengan samar aku melihat rambutnya.


"Theo?" kataku dengan penuh nada ragu.


Saat itu aku melihat laki-laki itu kembali terdiam, dengan sebuah obat? yang dia makan.


"Maaf Emelin, yang aku butuhkan kamu tertidur sekarang" ucapnya sambil mencium ku dengan dalam.


Sebuah pagutan yang lama, membuat Emelin semakin tak bisa mengontrol dirinya. Belum lagi dia merasakan sesuatu dia makan, sebuah pil, ataupun obat dia bahkan tak tau. Tapi yang dia tau, kesadarannya mulai hilang dengan perlahan sekarang.


.......


.......


.......


.......


.......


...–––––QUIZ TIME!!!–––––...


Siapakah laki-laki itu sebenarnya?


A. Theo


B. Dergaz


C. Annonimous


.


.


.


.


note : SILAHKAN JAWAB SESUAI DENGAN IMAJINASI KALIAN, KARENA TENTU SAJA OTHOR TAK AKAN BILANG DIA SIAPA.


SILAHKAN MENCOBA!!!


(人´∀`*)