A Psychopath'S Obsession

A Psychopath'S Obsession
[S2] Rencana Diana



"Kopi hitam tanpa gula, ha... Bagaimana tak ada tempat tinggal nya bahkan bersebelahan denganmu," ujar Dave.


"Siapa yang Anda maksud?"


"Diana siapa lagi!!"


"Dia bukanlah orang seperti itu Tuan Dave, Anda pasti salah paham."


"Itulah kamu tak tau, apakah dengan memperlihatkan tengkuk, badan, dan dadanya bukan berarti menggoda?"


Tanggapan gak serius justru di tampilkan Emeline. Dengan kekehan pelan, dan membawa kopi yang di inginkan Dave.


"Pffftt... Apakah Anda merasa tertantang?" tanya Emeline gurau duduk di sebelah Dave.


"Apakah ini adalah tindakan yang wajar, jika pasangan mu di goda seseorang?" pertanyaan di layangkan Dave dengan wajah yang dia dekatkan.


Emeline terdiam dengan apa yang Dave lakukan. Ingin dia pergi, tapi lehernya di tahan oleh Dave dengan satu tangan.


"Haha, Tuan Dave maaf saya lancang, tapi bisakah Anda melepaskan tangan Anda?" Tanya Emeline gugup.


"Tak mau, kenapa aku harus melepaskan sesuatu yang aku mau," racau Dave.


Sesuatu yang Emeline tau akan terjadi. Sebuah kecupan, atau bahkan pagutan yang akan Dave lakukan. Di sisi lain, dia tak bisa melawan hanya palingan wajah membuat tanda jika dia tak ingin melakukannya.


"Tu-!" Ucapan Emeline terhenti saat ada seseorang yang mengetuk pintu apartemennya.


"Maaf, tapi ada seseorang," kata Emeline lantas pergi dengan cepat, sebelum Dave kembali melakukan aksinya.


Dalam apartemen Dave sedikit melirik ke arah pintu masuk. Terlihat Emeline yang berbincang dengan seseorang. Wajah yang dia kenal, dan dia tak harapkan untuk kembali.


"Aku akan putuskan, dia akan menjadi pengganggu atau hanya sampah yang tak berguna," gumam Dave mulai merasa risih dengan Diana.


Ya, orang yang kembali menggangunya adalah Diana. Entah apa yang dia lakukan, tiba-tiba datang tanpa permisi lalu mengganggu apa yang tengah mereka lakukan.


"Mas Dave?" Ucap Emeline.


Sebuah panggilan baru dari Emeline, membuat Dave sedikit tersenyum puas. Itu memang hal yang Dave minta, untuk lebih meyakinkan jika mereka adalah pasangan panggilan satu sama lain harus di rubah jika ada seseorang.


Emeline datang, membawa si ****** juga masuk ke dalam. "Maaf, mas Dave? Kamu butuh sesuatu untuk di bicarakan dengan Diana?" Tanya Emeline kembali.


Berbalik keadaan, Dave justru bingung sekarang. Nampak Diana adalah wanita licik, dia menggunakan ilusi untuk menarik dirinya dari Emeline.


"Tidak," jawab Dave singkat dan dingin.


"Tuan Dave? Kenapa Anda berbicara seperti itu? Anda bilang tunggu aku, aku akan segera keluar. Ada beberapa hal yang ingin Anda bicarakan 'kan?" Tanya balik Diana dengan wajah Sok polos dan tak tau apa-apa.


"Apa yang kamu inginkan! Bahkan kita baru bertemu Diana!" Teriak Dave mulai risih dengan apa yang Diana lakukan.


"Apa yang saya lakukan? Lalu bagaimana dengan sentu-"


"Papa... Papa," ucapan lirih seseorang membuat Diana diam.


Itu adalah Rara, dengan usapan mata yang dia lakukan menandakan baru bangun tidur dan mencari seseorang.


"Sayang? Kamu masih mengantuk 'kan? Ayo sama mama dulu ya," ujar Emeline melihat kesempatan untuk kabur dari sana.


Lantas Emeline masuk ke dalam kamar anak-anaknya. Menutup rapat, tak lupa mengunci pintunya.


"Apa yang kamu inginkan Diana?" Tanya Dave kesal.


"Tak ada, tapi Tuan bisakah anda paham? Saya sekarang tengah membuat sebuah perjanjian," kata Diana dengan memberikan map cokelat yang dia simpan di balik rok miliknya.


Dave awalnya terkejut, dan menaikkan salah satu alisnya. Ada beberapa orang yang bisa menyimpan berkas di sana, bahkan saat Dave sendiri tak terpikirkan untuk itu.


Persetan dengan dia menunjukkan paha atau yang lainya, tapi Dave tau Diana adalah orang yang bisa menghalalkan segara cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Sebuah perjanjian?" Tanya Dave pura-pura bingung.


"Ya, apakah Tuan Dave tau jika anak dari Emeline, Darrel bahkan mereka tak memiliki hubungan," kata Diana.


Itu membuat Dave senang, sebuah informasi yang bisa Dave dapatkan bahkan tanpa bayaran. Dalam hal ini ada sesuatu yang bisa Dave manfaatkan dari si ******. Mengorek informasi tentang Emeline atau bahkan masa lalunya.


"Aku ajukan sebuah penawaran, apa yang kamu inginkan?" Tanya Dave memancing di ******.


"Kamu tau tuan, cinta pandangan pertama itu bukan hal yang mustahil untuk terjadi. Apalagi dengan orang seperti Anda," kata Diana menunjukkan wajah aslinya.


Tanpa ragu Diana mendekati Dave. Dengan sentuhan perlahan, dan usapan pipi yang dia lakukan. Beberapa saat Diana berani memeluk Dave, membuat Dave tersenyum puas. Bukan karena sentuhan Diana, tapi dia paham apa yang di inginkan si ******.


Kekayaan, kemakmuran, dan benalu, bahkan kepuasan yang Diana cari. Dia pikir dia sangat pandai, sayangnya dia tak paham siapa yang akan di manfaatkan.


"Jangan di sini, ada anak-anakku. Aku tak ingin image ku tercoreng karena sikapmu," titah Dave.


"Anda perlu yang lain tuan?" Tanya Diana.


"Pergi saja ke sini, dan lakukan tugasmu saat aku memintanya."


"Berapa kamu berani? Aku tak berpikir untuk menyerahkan percuma," tanya Diana sembari menggolek 'kan badannya.


"Seberapa harga yang kamu minta?"


Sebuah senyuman puas yang Diana lakukan. Ingin lantas mengambil kartu nama dari Dave dan beranjak pergi dari sana. Hal yang terlihat jelas, apa yang di inginkan oleh Diana. Melihat seberapa Diana mahir melakukan kata-kata membuat dia sadar tak salah menamainya si ******.


Malam hari tiba, Dave mandi dan berganti pakaian. Terlihat anak-anak dan Emeline yang bersiap untuk makan. Memang beberapa waktu ini, Dave mencoba untuk dekat dengan Emeline. Ingin dia tau masa lalu Emeline, dan melihat dua putranya itu lakukan saat di rumah.


'Benar, jika saja Raffyn dan Darrel bukanlah satu orang yang sama, tapi darimana kepintaran itu ada," batin Dave.


Raffyn dan Darrel sudah terlihat potensi dari mereka kecil. Dengan kemampuan Raffyn dalam IT, berbalik dengan kepemimpinan Darrel juga sikapnya yang tegas. Membuat suatu yang komplit jika mereka di gabungkan. Seperti Darrel yang akan menjadi pemimpinnya, dengan fisik yang dia punya. Lain hal dengan Raffyn, otak cerdas membuat benteng tinggi di belakang Darrel.


"Tuan Dave?" Panggilan Emeline kembali saat tak ada orang di sana. "Anda tak ingin makan?" Lanjutnya dalam sebuah pertanyaan.


"Emeline saya akan pergi ke suatu tempat malam ini, bisakah kamu menjaga Rara sendiri?" Tanya Dave.


"Malam ini? Kenapa tidak dari tadi. Apa yang akan Anda lakukan? Malam-malam pergi dengan seseorang?" Tanya Emeline beruntun.


"Tuan Dave bahkan kamu baru beberapa saat ada di sini, tapi Anda sudah mengincar seseorang lagi?" Tanya Darrel seperti mengintimidasi.