
"Ya, sebuah kehidupan yang rumit ya Mark? Aku juga tak menyangka akan jadi seperti ini," ujar Emeline dengan senyuman kecutnya. "Tapi mau bagaimana lagi? Tak ada yang menginginkan takdir yang seperti ini," lanjutnya.
Sebuah kerajinan yang sudah di seleseikan Emeline. Sebuah bunga, dengan warna merah dan putih sebagai perpaduannya.
Sebuah senyuman yang biasa, tapi bisa menghangatkan. Entah kenapa hatinya terasa hangat karena senyuman Emeline. Mungkin sekarang Mark paham, apa yang di lihat oleh Dave dari Emeline.
"Maaf nyonya, saya sudah terlalu lama di sini. Saya undur diri...." Kata Mark sembari beranjak dan mulai menundukkan badannya.
"Eh-? Paman Mark mau kemana? Paman Mark belum bermain dengan Rara," kata Rara cepat saat melihat Mark yang sudah berdiri dan siap pergi.
"Paman ada beberapa urusan, paman harus pergi. Kamu jadi anak yang pintar ya, jangan nakal dan dengarkan mama kamu ini," jelas Mark sembari mengusap kepala Rara.
"Rara selalu melakukannya paman!" Jawaban dari Rara mengakhiri pembicaraan mereka.
Bergegas Mark pergi dari sana. Dengan menggunakan mobil, lantas dia pergi kembali. Mempersiapkan paspor dan visa dengan identitasnya yang lain. Eslen, membantu mark dalam hal itu.
Beberapa saat kemudian Mark sampai di tempat. Beberapa hari di tinggal oleh Mark, rasanya aneh saat kebiasaan yang Theo beberapa hari ini Theo tak melakukannya.
"Pukul 06.45 Theo akan bangun, mandi dan berlari. Lalu 7.30 dia akan sarapan, untuk sekarang? Kemana kebiasaan itu?" Tanya Mark tanya dengan orang yang ada di sebelahnya.
"Tu-tuan... Ini adalah jebakan," jawab pengawal itu.
Lantas dia merasa paham, apa yang terjadi sekarang. Pergerakannya kurang cepat, menyadarinya jika Theo sudah tau jika selama ini dia telah di ikuti. Apalagi posisi Mark, membuat Theo sadar betul apa yang Dave inginkan sekarang.
"Sayang sekali, Dave terlalu percaya pada anak bocah seperti ini!"
...BUGH...
Setelah kejadian itu, Dave tak lagi menerima pesan dari Mark. Bahkan dia tak memberikan kode apapun. Tentu saja Dave bisa Paham, jika Mark mungkin sudah di tangkap sekarang.
"Harusnya kita tak membawa Mark pergi," kata Eslen melihat pesan terakhir dari Mark, sebelum dia menghilang.
"Benar, tapi untuk misi seperti ini, aku tak bisa percaya orang lain lagi selain Mark. Dia sangat berkompeten, dan aku tak meragukan kesetiannya," jelas Dave menatap keluar.
Pikirannya bingung, antara dia harus menarik Mark kembali, atau tetap mempertahankan dia di sana untuk mencari informasi.
"Percuma, bagaimanapun kompeten nya Mark, tetap saja Theo sudah tau. Dia sudah sering melihat bagaimana Mark bekerja. Untuk menangkap Mark bukanlah hal yang sulit bagi Theo," jelas Eslen.
Anggukan tanda setuju dari Dave, membuat dia berpikir kembali. Memang benar Theo sudah mengetahui bagaimana cara kerja Mark. Akan tetapi, untuk menangkapnya apalagi membunuh adalah kejahatan yang besar bagi organisasi.
"Eslen, apa kamu pikir organisasi yang meminta Theo melakukanya?" Tanya Dave membuka pembicaraan mereka.
"Maksud Anda dewan besar? Untuk apa?" Tanya Eslen masih ragu tentang topic yang di bawakan oleh Dave.
Eslen yang awalnya tak percaya, kini malah membuka mata. Benar apa yang di katakan oleh Dave, entah sejauh mana Mark melakukan pengintaian. Hingga tangan kanan dewan besar juga tertangkap oleh Mark.
"Mungkin tidak Tuan Dave, saya pikir para tangan kanan ini hanya mengintai Tuan Theo. Jika mereka juga menginginkan Mark, harusnya mereka tau lokasinya," jelas Eslen.
Lagi-lagi anggukan setuju dari Dave. Dia tak tau apa yang tegas pada Mark sekarang. Tentu saja Dave cemas, apalagi Mark adalah mata-mata terbaik yang dia punya.
"Tapi yang membuat saya heran, kenapa para petinggi organ menurunkan tangan kanan mereka?" Tanya Eslen menunjukkan foto yang tadi di berikan oleh Dave.
"Sudah aku bilang Eslen, Theo terlalu mahal untuk di buang. Bahkan saat dia pergi, para dewan besar menyuruh tangan kanan mereka," ujar Dave.
Benar, Dave kenal betul bagaimana Theo itu. Sejak dia di perkenalkan oleh keluarga Waise, Theo sudah mengambil banyak perhatian. Dari kekuatan nya bertarung, bahkan kepintarannya untuk menyamar dan mulai dan memulai bisnis dengan benar.
Theo menyarankan jika para anggota organisasi harus memiliki usahanya sendiri. Membuat lembaga swasta dan menaruh modal pada negaranya. Hingga mereka memiliki pengaruh di pemerintahan, tanpa harus menggunakan kekuatan politik. Jangankan partai, bahkan jika mereka ingin membuat kebijakan mereka bisa melakukannya. Hanya karena mereka adalah penanam modal di negara tersebut.
Beberapa saat perbincangan, terdengar suara pintu terbuka. Terlihat Darrel di sana, dengan membawa beberapa buku miliknya.
"Tuan Dave? Waktunya pembelajaran sekarang?" Tanya Darrel.
"Heem, Eslen kalian ajarkan beberapa hal tentang menembak terlebih dahulu," jelas Dave.
Lantas Eslen menundukkan badannya, dan pergi keluar dengan Darrel dan juga Raffyn yang menunggu.
Semenjak kejadian Rara di tembak oleh Theo, Dave merubah rencananya total. Dia ingin menjadikan Darrel juga Raffyn seperti Mark. Salah satu bidak yang bisa dia kendalikan. Untuk itu Dave mengeluarkan Darrel juga Raffyn keluar dari sekolahan mereka, lantas mengajari mereka sendiri.
Mengajari berbagai macam ilmu teknik, pengetahuan, tentang bisnis, komunikasi, bahkan bela diri. Beberapa kali Dave mengajak Darrel juga Raffyn untuk bermain game survival. Bukan mobile ataupun PC, tapi sungguhan. Mereka di alam sungguhan, dengan tembakan dan berbagai perlengkapan. Tentu saja berbahay, apalagi jika mengenai tempat yang tidak ada pengamanan nya. Tapi untuk melatih Darrel juga Raffyn Dave membuat sebuah kurikulum yang sempurna.
Dave melihat bagaimana Raffyn dan Darrel. Darrel bisa saja menahan suara tembakannya, bahkan dengan pelontar tembakan yang berat berlawanan dengan tangan. Berbeda dengan Raffyn, dia masih belum terbiasa untuk itu.
"Raffyn, bukan seperti itu. Kamu hanya perlu fokus melihat ke depan, tak perlu takut. Lebarkan kaki mu sebahu, lalu pegang kuat pistolnya seperti ini," jelas Dave dengan mengajari Raffyn lebih.
"Saya sudah mencoba apa yang Anda minta Tuan Dave. Tapi sungguh, aku bukan Darrel dengan kemampuannya," jelas Raffyn memegangi tangannya. "Pergelangan tanganku bahkan sakit karena pelontar pistolnya," lanjutnya.
"Apakah itu sakit?" Tanya Darrel sembari melihat tangan Raffyn.
"Tak masalah, tapi ini sungguh pegal. Bagaimana denganmu?" Tanya Raffyn balik.
"Mungkin aku di lahir Kan untuk ini," jelas Darrel lantas menembakkan satu peluru lagi.
"Aku iri, andaikan aku seperti kamu juga!" Bantah Raffyn mengikuti gerakan Darrel. Namun sayang, tetap saja dia masih meleset dengan tembakan nya.
"Raffyn, kamu tak perlu iri dengan apa yang Darrel bisa. Di sisi lain, Darrel juga tak bisa melakukan apa yang kamu bisa. Jangan memaksakan sesuatu yang tak kamu bisa, atau kamu akan terluka."